Strategi Diversifikasi Pasar Eksportir Ikan Kaleng Banyuwangi di Tengah Gejolak Geopolitik
Titis Jati Permata July 04, 2026 04:32 PM

 


SURYA.co.id, BANYUWANGI – Gejolak geopolitik di Timur Tengah dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum mampu menggoyahkan kinerja ekspor PT Pasific Masami Indonesia, salah satu eksportir ikan kaleng terbesar di Banyuwangi, Jawa Timur.

Strategi diversifikasi pasar ke lebih dari 80 negara menjadi kunci perusahaan bertahan di tengah lonjakan biaya logistik dan fluktuasi kurs.

Dampak paling terasa justru datang dari sektor pengiriman.

Biaya logistik menuju sejumlah negara di Timur Tengah melonjak drastis akibat perang AS-Iran, bahkan mencapai delapan kali lipat dibandingkan kondisi normal.

"Bahkan kami ada beberapa kontainer tuna kaleng yang nyantol di Timur Tengah. Sudah sekitar 10 bulan belum keluar dari port," kata Marketing Director PT Pasific Masami Indonesia, Sherly Indrawati Aminoto Kho kepada SURYA.co.id, Sabtu (4/7/2026).

Biaya Pengiriman Melonjak

Sebelum konflik memanas, biaya pengiriman ke kawasan tersebut berkisar 700 dolar AS per kontainer.

Kini ongkosnya menembus sekitar 5.000 dolar AS per kontainer.

Meski demikian, Sherly menegaskan hambatan distribusi ke Timur Tengah belum memberikan dampak signifikan terhadap kinerja ekspor perusahaan.

Pasalnya, PT Pasific Masami Indonesia telah memperluas pasar ekspor ke lebih dari 80 negara yang tersebar di Asia, Australia, Amerika, Eropa, hingga Afrika.

"Karena diversifikasi market. Pasar kami bukan cuman Timur Tengah. Jadi memang agak agak tersendat nih. Tapi di negara lain aman," kata dia.

Impor Bahan Baku Pakai Dolar AS

Selain tantangan logistik, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga belum memberikan keuntungan maupun kerugian yang berarti bagi perusahaan.

Hal itu karena PT Pasific Masami Indonesia tidak hanya mengekspor produk jadi, tetapi juga masih mengimpor sebagian bahan baku menggunakan dolar AS.

Bahan baku yang diimpor meliputi ikan dan wadah kaleng. Impor ikan dilakukan karena pasokan hasil tangkapan nelayan di Banyuwangi maupun daerah lain di Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan produksi pabrik.

Sementara itu, wadah kaleng selama ini juga didatangkan dari luar negeri karena belum tersedia produsen dalam negeri yang dapat memenuhi kebutuhan perusahaan.

"Kalau misal ikannya dari Indonesia, kalengnya dari Indonesia, lalu dijual pakai dolar saat dolar menguat, untungnya nambah. Sementara di sisi lain, ikan juga harus impor yang juga pakai dolar. Jadi pengaruhnya tidak begitu terasa," ujar Sherly.

Pabrik Pembuatan Wadah Kaleng

Ketergantungan terhadap impor wadah kaleng itu mulai berkurang setelah perusahaan berkonsinyasi dengan perusahaan asal Indonesia dan China untuk meresmikan operasional pabrik pembuatan wadah kaleng di Kecamatan Muncar pada Jumat (3/7/2026).

Kehadiran pabrik tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai pasok industri pengolahan ikan di Banyuwangi.

Di tengah berbagai tantangan global, PT Pasific Masami Indonesia tetap melanjutkan ekspornya.

Pada Jumat (3/7/2026), perusahaan kembali mengirimkan 10 kontainer ikan kaleng ke 10 negara dengan nilai ekspor mencapai Rp10 miliar. Pelepasan ekspor secara simbolis dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.