TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kisah pilu dialami Sri Haryati, seorang ibu yang harus menyaksikan putrinya, MAN (30), diduga mengalami serangkaian kekerasan selama bertahun-tahun.
Sebagai seorang ibu, Sri mengaku tidak pernah membayangkan anak yang selama ini ia besarkan harus menghadapi cobaan hingga kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup.
Pada Jumat (3/7/2026) petang, Sri mendampingi putrinya mendatangi kantor kuasa hukum perwakilan Hotman 911 di kawasan Pancuran, Kota Cirebon.
Di hadapan petugas kantor dan awak media, Sri tak kuasa membendung air mata saat menceritakan kondisi psikologis sang putri yang disebut semakin memburuk akibat dugaan kekerasan yang dialaminya.
Dengan suara bergetar, Sri mengungkapkan bahwa putrinya pernah menyampaikan permintaan yang sangat menyayat hati.
Menurutnya, MAN sempat meminta agar hidupnya diakhiri karena merasa sudah tidak sanggup lagi menanggung penderitaan yang dialami.
"Dia tuh sampai pernah ngomong gini sama saya. 'Mama...' Saya bilang, 'Apa, Nduk?' Terus dia bilang, 'Mama punya suntikan buat MAN aja? Buat suntikan mati'," ujar Sri sambil menahan tangis.
Ucapan tersebut membuat hati Sri hancur. Namun, di tengah kesedihannya, ia terus berusaha menguatkan sang putri agar tetap bertahan demi anak semata wayangnya yang kini masih berusia empat tahun.
Baca juga: Rumah Angel Lelga Kemalingan, Pelakunya Ternyata ART Sendiri, Topi Branded hingga Vitamin Hilang
Sri mengingatkan bahwa kehadiran seorang ibu sangat dibutuhkan oleh cucunya yang masih kecil.
"Saya bilang, 'Kamu enggak kasihan sama (anak kamu)? (Dia) tuh masih ingin sesosok seorang ibu. Kalau enggak ada kamu sama siapa? Mama udah tua, kasihan, anak harus sama mamanya'," ucapnya.
Tak hanya mengungkap kondisi mental putrinya, Sri juga menceritakan momen ketika pertama kali melihat langsung kondisi fisik MAN.
Kenangan itu masih membekas hingga kini dan menjadi salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidupnya sebagai seorang ibu.
Sri mengaku hampir pingsan saat mengetahui kondisi tubuh anaknya yang disebut mengalami luka-luka.
"Ya Allah, saya tuh enggak tega melihat. Saya udah pengen pingsan. Enggak menyangka. Bajunya nempel ke kulit. Telanjang, Mas. Telanjang," jelas dia, dengan suara bergetar.
Hingga kini, Sri berharap putrinya bisa memperoleh keadilan dan mendapatkan pendampingan agar dapat memulihkan kondisi fisik maupun psikologisnya setelah dugaan peristiwa yang dialaminya.
Sri mengatakan, saat itu dirinya hanya bisa menangis melihat putrinya datang ke rumahnya dalam kondisi memprihatinkan.
"Dia bilang, 'Mama jangan menangis.' Ya menangis, anak saya kayak gini masa enggak menangis," katanya.
Sebagai seorang ibu, Sri mengaku tidak pernah menyangka putrinya akan mengalami kondisi seperti sekarang.
Baca juga: Sosok Mufli Budi Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Lulusan D3, S1 Tak Selesai
Apalagi, selama ini MAN dikenal sebagai sosok yang sehat dan ceria.
"Saya enggak menyangka, Mas. Masa anak saya begini saya enggak mau. Sakit hatinya. Mending badan ibu dipukuli ketimbang hati. Enggak bisa dijelaskan sakitnya," ujarnya, sambil terisak.
Sri juga mengaku sempat memiliki firasat ada sesuatu yang tidak beres dalam hubungan putrinya dengan pria yang kini dilaporkan ke polisi.
Namun saat itu ia belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Menurutnya, ketika beberapa kali berada di Tegal, pria tersebut justru sering menghindari pertemuan dengannya.
"Kalau ke rumah saya tuh enggak sering tatapan muka. Menghindar terus. Kalau saya tidur dia baru pulang. Kalau saya bangun dia sudah enggak ada. Jadi kayak siluman," ucap Sri.
Ia juga mengaku terkejut saat mengetahui putrinya disebut menjalani pernikahan siri tanpa sepengetahuan keluarga.
"Enggak ada yang tahu satu pun dari keluarga. Yang tahu cuma teman-temannya dia (terduga pelaku) saja," jelas dia.
Kini, Sri berharap proses hukum yang sedang berjalan dapat memberikan keadilan bagi putrinya.
Ia mengaku tidak ingin ada korban lain yang mengalami nasib serupa.
"Setimpal hukumannya lah. Lihat anak saya begini ya dia harus rasain juga. Seberat-beratnya. Karena anak saya yang tidak bersalah jadi korban," katanya.
Sebelumnya, tangis MAN (30), yang tercatat sebagai warga Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, tak terbendung saat menceritakan dugaan kekerasan yang disebut dialaminya selama bertahun-tahun.
Dalam wawancara di kantor kuasa hukumnya, MAN mengaku mengalami berbagai bentuk kekerasan sejak menjalin hubungan dengan seorang anggota polisi berinisial Aiptu N.
"Kejadiannya ya yang aku alami, aku mengalami penyiksaan, terus sampai penyiraman air keras," ujar MAN.
Ia juga mengaku pernah mengalami pemukulan, intimidasi, hingga ancaman penyebaran video asusila.
Menurut pengakuannya, dugaan penyiraman air keras terjadi pada September 2025.
Tak hanya itu, MAN mengaku anaknya yang kini berusia empat tahun ikut menyaksikan sebagian peristiwa yang dialaminya.
"Menyaksikan," kata MAN saat ditanya apakah anaknya melihat langsung kejadian tersebut.
Bahkan, menurut pengakuannya, sang anak juga disebut melihat tindakan yang tidak pantas selama dirinya berada dalam hubungan tersebut.
Kasus ini kini ditangani Bareskrim Polri setelah MAN membuat laporan pada 2 Juli 2026.
Terlapor merupakan anggota aktif Polres Tegal Kota berinisial Aiptu N.
Selain proses pidana di Bareskrim Polri, pemeriksaan etik dan disiplin juga dilakukan oleh Bidang Propam Polda Jawa Tengah.
Polda Jawa Tengah menyatakan Aiptu N telah ditahan untuk kepentingan pemeriksaan.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada putusan pengadilan yang menyatakan terlapor bersalah.
Seluruh tuduhan dan pengakuan yang disampaikan korban masih dalam proses penyelidikan dan pembuktian oleh aparat penegak hukum.
(Tribunnewsmaker.com/TribunJabar.id/Eki Yulianto)