Mengapa Beton Romawi Bertahan 2.000 Tahun? Penelitian MIT Ungkap Rahasia di Baliknya
Eko Sutriyanto July 04, 2026 08:22 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Di tengah berbagai tantangan pembangunan modern, mulai dari keretakan bangunan, biaya perawatan yang terus meningkat, hingga tuntutan menciptakan material yang lebih ramah lingkungan, para ilmuwan justru kembali menoleh ke teknologi konstruksi yang telah digunakan hampir dua milenium lalu.

Bangunan-bangunan peninggalan Romawi seperti Pantheon, saluran air, pelabuhan, hingga tembok kota masih berdiri kokoh setelah hampir 2.000 tahun, sementara banyak struktur beton modern mulai mengalami kerusakan hanya dalam hitungan puluhan tahun.

Misteri ketahanan luar biasa beton Romawi tersebut kini mulai terpecahkan.

Dikutip dari tuoitre, penelitian terbaru dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengungkap bahwa bangsa Romawi kemungkinan telah menerapkan teknik pencampuran khusus yang membuat beton mereka mampu memperbaiki retakan kecil secara alami, sehingga usia bangunan menjadi jauh lebih panjang.

Temuan tersebut diperoleh dari penelitian di situs konstruksi kuno Pompeii yang terawetkan sejak letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang hanya mengamati bangunan yang telah selesai dibangun, lokasi ini memperlihatkan langsung bagaimana material beton disiapkan pada masa itu.

Baca juga: Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi, Berakar dari Tradisi Romawi

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications menganalisis situs "Domus IX 10, 1", tempat para arkeolog menemukan dinding yang masih dalam proses pembangunan, lengkap dengan bahan-bahan kering, batu, pecahan bata, ubin, hingga sisa adukan semen.

Tim peneliti yang dipimpin Profesor Madya Admir Masic dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan MIT menemukan bahwa bangsa Romawi mencampurkan kapur tohor dengan abu vulkanik pozzolan dan agregat dalam kondisi kering sebelum air ditambahkan.

Saat air dicampurkan, terjadi reaksi eksotermik atau pelepasan panas yang dikenal sebagai teknik hot mixing (pencampuran panas).

Dengan mekanisme tersebut, beton Romawi memiliki kemampuan "menyembuhkan diri" pada tingkat mikroskopis sehingga mampu mempertahankan kekuatannya selama ribuan tahun.

Untuk membuktikan teorinya, para peneliti membuat sampel beton menggunakan formula yang terinspirasi dari teknik Romawi. 

Setelah sengaja diretakkan dan dialiri air, sampel tersebut mampu menutup retakan hanya dalam beberapa minggu.

Sebaliknya, beton modern yang dibuat tanpa kapur tohor tidak menunjukkan kemampuan serupa.

Penelitian ini melengkapi temuan sebelumnya pada 2017 yang dipimpin ahli geologi Marie Jackson dari Universitas Utah.

Baca juga: 4 Makam Era Romawi Berusia 2.000 Tahun Ditemukan di Jalur Gaza oleh Arkeolog Palestina

Saat itu, timnya menemukan bahwa beton pelabuhan Romawi justru semakin kuat setelah terus-menerus terpapar air laut.

Pada beton laut Romawi, campuran abu vulkanik, kapur, dan air laut memicu pembentukan mineral seperti tobermorit dan phillipsit yang memperkuat struktur material dari waktu ke waktu.

Fenomena tersebut berbanding terbalik dengan beton modern yang umumnya justru mengalami korosi dan kerusakan ketika terpapar air laut.

Temuan-temuan ini membuka peluang baru bagi pengembangan beton masa depan yang lebih tahan lama, membutuhkan perawatan lebih sedikit, serta berpotensi mengurangi emisi karbon dari industri konstruksi.

Dengan kata lain, teknologi kuno yang diwariskan bangsa Romawi bukan sekadar warisan sejarah, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi lahirnya material bangunan yang lebih berkelanjutan di era modern. (tuoitre)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.