SERAMBINEWS.COM, MOSKOW – Rusia menargetkan dapat menguasai sisa sekitar 20 persen wilayah Donetsk, Ukraina timur, yang hingga kini masih berada di bawah kendali Kyiv sebelum akhir 2026.
Namun, berbagai analisis terbaru menunjukkan laju kemajuan pasukan Rusia di medan perang justru melambat tajam meski korban jiwa di pihak Moskow terus meningkat.
Berdasarkan analisis Institute for the Study of War (ISW), kemajuan teritorial Rusia sepanjang tahun ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada enam bulan pertama 2025, pasukan Rusia mampu menguasai sekitar 2.190 kilometer persegi wilayah Ukraina.
Sementara sepanjang paruh pertama 2026, wilayah yang berhasil direbut hanya sekitar 622 kilometer persegi.
Bahkan, jika infiltrasi yang belum menghasilkan penguasaan wilayah secara permanen dikeluarkan dari perhitungan dan serangan balasan Ukraina diperhitungkan, keuntungan bersih Rusia hanya sekitar 97 kilometer persegi.
Dengan kecepatan tersebut, para analis memperkirakan Rusia membutuhkan sekitar 14 tahun lagi untuk menguasai seluruh wilayah Donetsk apabila laju operasi militer tidak mengalami perubahan signifikan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan perlambatan Rusia merupakan hasil dari strategi baru Kyiv yang memperkuat produksi drone tempur dan rudal jarak jauh buatan dalam negeri.
Baca juga: Rusia Hujani Ukraina dengan 500 Drone dan 74 Rudal, Serangan Terbesar Sejak Invasi
Menurutnya, Ukraina kini lebih fokus menyerang jalur logistik Rusia, termasuk gudang amunisi, konvoi pasokan, jembatan, gardu listrik, serta berbagai fasilitas pendukung operasi militer.
Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov menyebut strategi tersebut sebagai "Logistical Lockdown", yakni upaya melumpuhkan kemampuan logistik Rusia sehingga pasukan di garis depan kesulitan memperoleh bahan bakar maupun amunisi.
Sepanjang Juni lalu, Ukraina juga meningkatkan intensitas serangan jarak menengah terhadap sasaran militer Rusia. Jumlah serangan dilaporkan meningkat dari 210 kali pada Mei menjadi 303 kali pada Juni.
Dalam dua hari, 1–2 Juli, Ukraina mengklaim berhasil menghancurkan 12 gardu listrik di Crimea selatan sebagai bagian dari operasi melemahkan kemampuan militer Rusia di semenanjung tersebut.
Komandan Pasukan Sistem Nirawak Ukraina Robert "Magyar" Brovdi mengatakan pasukannya menyerang sasaran Rusia setiap 52 detik sepanjang Juni.
Ia mengklaim lebih dari 50 ribu target militer berhasil dihancurkan atau mengalami kerusakan selama periode tersebut.
Di tengah perlambatan operasi militernya, Rusia menyatakan tetap membuka peluang penyelesaian konflik melalui mediasi Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan proposal yang pernah dibahas bersama Amerika Serikat masih dapat menjadi dasar penyelesaian konflik.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov juga menegaskan Moskow tetap terbuka terhadap proses perdamaian, meski tetap mengedepankan syarat-syarat yang dianggap sesuai dengan kepentingan Rusia.
Sementara itu, Presiden Vladimir Putin mengaku telah menolak beberapa usulan gencatan senjata yang diajukan Ukraina, termasuk penghentian serangan jarak jauh maupun penghentian pertempuran di sejumlah wilayah utara dan selatan Ukraina.
Menurut Putin, Rusia tetap akan melanjutkan operasi militernya karena menganggap serangan balasan Moskow terhadap Ukraina memberikan dampak yang lebih besar.
Selain menghadapi tantangan di medan perang, Rusia juga dibayangi tekanan ekonomi akibat menurunnya pendapatan dari sektor energi.
Data yang dipublikasikan pejabat Ukraina menunjukkan pendapatan minyak Rusia pada Januari hingga Mei 2026 turun sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan tersebut terjadi meski Rusia tetap berupaya meningkatkan ekspor minyak mentah setelah sejumlah kilang mengalami gangguan akibat serangan Ukraina.
Di berbagai wilayah Rusia, kelangkaan bahan bakar juga mulai dilaporkan.
Baca juga: Iran Segera Miliki 20 Jet Tempur Siluman Su-35 dari Rusia, Pengiriman Diperkirakan Dimulai 2026
Beredar sejumlah video yang memperlihatkan antrean panjang kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar.
Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak berusaha meredam kekhawatiran masyarakat dengan menyatakan pasokan BBM nasional masih mencukupi dan gangguan distribusi hanya bersifat sementara.
Pemerintah Rusia juga memperpanjang larangan ekspor solar untuk menjaga kebutuhan dalam negeri serta meningkatkan impor produk minyak olahan dari sejumlah negara, termasuk India.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa selain menghadapi perlawanan yang semakin efektif dari Ukraina di medan perang, Rusia juga mulai menghadapi tekanan ekonomi dan logistik yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan operasi militernya dalam jangka panjang.