Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan – Pemerintah Kecamatan Rajabasa mengimbau seluruh wisatawan yang berkunjung ke kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau agar mematuhi ketentuan keselamatan menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik gunung tersebut yang saat ini berstatus Level III (Siaga).
Baca juga: Kendala Pemantauan Gunung Anak Krakatau Akibat Ketiadaan Alat di Lampung Selatan
Camat Rajabasa, Lampung Selatan, Firdaus Rusli, mengatakan petugas telah melakukan peninjauan langsung ke kawasan wisata Pulau Umang-Umang dan Pulau Sebesi yang pada akhir pekan dipadati sekitar 700 wisatawan.
Menurut Firdaus, imbauan keselamatan tidak hanya ditujukan kepada wisatawan, tetapi juga kepada nakhoda kapal dan agen perjalanan yang melayani penyeberangan menuju kawasan tersebut.
"Seluruh wisatawan, nakhoda kapal, hingga travel agent kami minta mematuhi protokol keselamatan yang telah ditetapkan. Keselamatan pengunjung menjadi prioritas utama," kata Firdaus, Sabtu (4/7/2026).
Ia menegaskan masyarakat maupun wisatawan dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer sesuai rekomendasi otoritas pemantauan gunung api.
Meski demikian, wisatawan masih dapat menikmati panorama Gunung Anak Krakatau dari jarak aman, yakni minimal lima kilometer dari kawah aktif.
Firdaus menjelaskan seluruh aktivitas di sekitar kawasan gunung terus dipantau menggunakan sistem radar dan peralatan pemantauan lainnya.
Karena itu, wisatawan diminta tidak memaksakan diri mendekati gunung hanya untuk mendapatkan foto atau pemandangan dari jarak dekat.
Selain itu, aktivitas pendakian maupun kunjungan wisata menuju tubuh Gunung Anak Krakatau untuk sementara ditutup guna mengantisipasi potensi bahaya akibat aktivitas vulkanik.
Sementara itu, berdasarkan hasil koordinasi dengan petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, aktivitas gunung hingga saat ini terpantau relatif tenang dan belum terjadi letusan signifikan.
Firdaus juga memastikan kondisi masyarakat di Pulau Sebesi masih berjalan normal.
Berdasarkan laporan dari petugas kesehatan, pemerintah desa, dan aparat setempat, belum ditemukan adanya warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat aktivitas vulkanik, seperti batuk maupun gangguan pernapasan.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kecamatan Rajabasa saat ini berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas Rajabasa untuk menyiapkan pembagian masker bagi masyarakat, terutama warga yang berada di Pulau Sebesi apabila sewaktu-waktu diperlukan.
Di sisi lain, pemerintah juga terus memastikan seluruh perangkat mitigasi bencana berfungsi dengan baik, termasuk melakukan pengecekan kamera pengawas (CCTV) di Pulau Sertung yang digunakan untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Firdaus turut mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi maupun video yang beredar di media sosial terkait letusan besar Gunung Anak Krakatau.
Menurutnya, banyak video yang kembali beredar merupakan dokumentasi lama, termasuk rekaman peristiwa erupsi tahun 2018, yang diunggah ulang sehingga menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
"Masyarakat diharapkan hanya mengikuti informasi resmi dari instansi berwenang seperti BMKG, PVMBG, maupun petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, sehingga tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya," ujar Firdaus.
(Tribunlampung.co.id/ Dominius Desmantri Barus)