Pemakaman Ali Khamenei Jadi Ajang Konsolidasi: Menlu Iran Kumpulkan Hamas, Hizbullah, dan Houthi
Rustam Aji July 05, 2026 10:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEHERAN – Upacara pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (4/7/2026) bertransformasi menjadi panggung konsolidasi politik dan militer tingkat tinggi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memanfaatkan momentum tersebut untuk menggelar pertemuan diplomatik khusus dengan para petinggi kelompok "Poros Perlawanan", termasuk Hizbullah, Hamas, dan Houthi.

Kehadiran faksi-faksi bersenjata regional yang disokong penuh oleh Teheran ini menegaskan soliditas jaringan anti-Israel di kawasan Timur Tengah, di tengah tekanan sanksi internasional dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Berdasarkan laporan televisi pemerintah Iran, delegasi papan atas yang hadir di kompleks Grand Mosalla Teheran meliputi Mohammed Darwish (Kepala Biro Politik Hamas) bersama senior Hamas Bassem Naim, Mohammed Fneish (Pejabat Senior Hizbullah Lebanon), Ziyad al-Nakhalah (Pemimpin Jihad Islam Palestina), serta Dhaif Allah al-Shami (Anggota Senior Houthi Yaman).

Pertemuan tatap muka antara Menlu Iran dan faksi militan ini memicu perhatian global, mengingat ketegangan regional yang berada di titik didih pasca-insiden militer yang menewaskan sang Pemimpin Tertinggi. Sebagai informasi, Ali Khamenei terbunuh dalam operasi serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 lalu yang menyasar wilayah Iran.

Baca juga: Dongkrak 1 Juta Wisatawan, Ribuan Lampion dan Niken Salindry Meriahkan Festival Gedongsongo 2026

Penghormatan Terakhir dan Seruan Pembalasan Massa

Sementara diplomasi tertutup berlangsung di balik layar, suasana haru sekaligus tegang menyelimuti area publik Grand Mosalla. Ribuan pelayat berpakaian hitam memadati kompleks keagamaan tersebut dengan pengawasan militer yang ekstra ketat.

"Para pelayat tampak mengibarkan bendera merah dalam jumlah masif di dalam kompleks, yang dalam tradisi syiah lokal merupakan simbol sakral berupa seruan untuk keadilan dan pembalasan darah," tulis laporan koresponden AFP di lokasi kejadian.

Di dalam aula utama yang memisahkan jemaah pria dan wanita secara ketat, massa melakukan aksi memukul dada sebagai tanda duka cita mendalam di bawah potret raksasa Khamenei, tokoh yang telah mengendalikan arah kebijakan utama luar negeri Iran sejak tahun 1989.

Lima Peti Mati di Atas Panggung Tinggi

Peti mati Ali Khamenei ditempatkan di panggung utama bagian depan dengan tanda sorban hitam diletakkan di atasnya. Melengkapi pemandangan pilu tersebut, berjajar pula empat peti mati lain yang berisi jenazah anggota keluarga dekat Khamenei yang turut tewas dalam serangan udara akhir Februari lalu.

Baca juga: Prosesi Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei: Ribuan Warga Iran Rela Antre 10 Jam di Tengah Suhu Ekstrem

Kehadiran para tokoh militan asing di Teheran kali ini juga diwarnai pengamanan ketat berlapis guna menghindari terulangnya insiden fatal masa lalu. Otoritas Iran dilaporkan meningkatkan kewaspadaan penuh, berkaca pada peristiwa Juli 2024 ketika mantan pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, tewas dibunuh di Teheran sesaat setelah menghadiri pelantikan presiden Iran.

Sebagian besar kepala negara dan tokoh penting asing sekutu Iran diketahui telah memberikan penghormatan terakhir mereka secara bertahap sejak Jumat (3/7/2026), sebelum prosesi pemakaman kenegaraan ini resmi ditutup minggu depan. (a naufal/kps)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.