Heat stroke menjadi ancaman yang perlu diwaspadai di tengah cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Timur.
Dokter Umum Restu Ibu Hospital Balikpapan, dr. Tri Hardining Prawestirini, M.M, mengatakan perlindungan terhadap tubuh dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan dalam aktivitas sehari-hari.
Baca juga: POPULER KALTIM: Cekcok Asmara Berujung Pamer Pistol Mainan, Tak Ada Anggaran, Job Fair Kutim Ditunda
Gunakan Pakaian Longgar dan Berwarna Terang
Menurutnya, masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan sebaiknya menggunakan pakaian yang longgar dan berwarna terang. Selain lebih nyaman dikenakan, warna terang juga tidak menyerap panas sebanyak pakaian berwarna gelap.
"Kalau berada di luar pakai pakaian yang longgar, yang berwarna terang, dan pakai topi atau payung. Itu untuk pencegahannya," jelasnya, Sabtu (4/7/2026).
Ia juga mengimbau masyarakat menggunakan pelindung kepala, seperti topi atau payung, untuk mengurangi paparan sinar matahari secara langsung.
Segera Dinginkan Tubuh Saat Kepanasan
Selain menggunakan pelindung diri, dr. Tri menyarankan masyarakat segera mencari tempat yang lebih sejuk apabila mulai merasa kepanasan.
Ruangan berpendingin udara (AC) dapat dimanfaatkan untuk membantu menurunkan suhu tubuh sebelum muncul gejala heat stroke yang lebih berat.
Selain itu, tubuh juga dapat didinginkan menggunakan kompres air dingin, terutama pada bagian lipatan paha dan lipatan lengan yang menjadi titik pelepasan panas tubuh.
"Kalau lagi di luar bisa masuk ke ruangan yang ber-AC, langsung dinginkan badan, kompres air dingin, pakai kipas angin, semprotkan air ke kulit," ujarnya.
Jangan Tunggu Haus untuk Minum
Wanita yang akrab disapa dr. Esti tersebut juga menekankan pentingnya menjaga kecukupan cairan tubuh selama cuaca panas.
Ia mengimbau masyarakat tetap minum air putih meski belum merasa haus karena kebutuhan cairan tubuh meningkat saat suhu lingkungan tinggi.
"Walaupun tidak merasa haus, tetap kita kasih minum. Air putih yang banyak lebih bagus," ungkapnya.
Menurutnya, kebutuhan cairan ideal sekitar dua liter atau delapan gelas air putih setiap hari. Saat cuaca panas ekstrem, air dingin juga dapat membantu memberikan rasa nyaman sekaligus membantu proses pendinginan tubuh.
"Kalau lagi cuaca ekstrem seperti ini, mending minum air dingin. Tidak usah air es, cukup air dingin saja," katanya.
Kurangi Konsumsi Gorengan
Selain menjaga asupan cairan, dr. Esti juga mengingatkan masyarakat untuk sementara mengurangi konsumsi makanan yang digoreng atau berminyak.
Menurutnya, makanan tersebut berpotensi memicu gangguan tenggorokan yang dapat membuat kondisi tubuh menurun, sehingga lebih rentan mengalami gangguan kesehatan saat cuaca panas.
"Sebisa mungkin kurangin dulu goreng-gorengan. Kalau sakit tenggorokan kan nanti bisa membuat badan tidak enak dan kekuatan tubuhnya turun," pungkasnya.
Heat stroke merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika suhu tubuh meningkat secara drastis akibat paparan panas berlebih.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau mengenali gejala awal seperti pusing, lemas, mual, hingga penurunan kesadaran agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Fenomena insiden di Jembatan Mahakam yang belum lama ini ramai diperbincangkan mendapat perhatian dari kalangan legislatif Kota Samarinda.
Sebelumnya, pada Jumat (5/6/2026), seorang pria dilaporkan memasuki Sungai Mahakam dari Jembatan Mahakam dan meninggalkan sepucuk surat. Jasadnya kemudian ditemukan pada Minggu (7/6/2026).
Belum genap dua pekan kemudian, Sabtu (13/6/2026), seorang wanita kembali mengalami situasi serupa, namun berhasil diselamatkan.
DPRD Usulkan Pagar Pengaman
Melihat kondisi tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menilai perlu adanya pembenahan terhadap fasilitas fisik jembatan, khususnya pemasangan pagar pengaman.
"Memang secara kondisi di Jembatan Mahakam itu perlu namanya ada pagar pengaman, sehingga orang berpikir dua kali untuk melakukan yang dikatakan tadi keinginan untuk tindakan bunuh diri tapi tidak terfasilitasi oleh tempat yang ada, itu juga perlu ada yang namanya pagar pengaman," ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
Novan menyoroti kondisi fisik jembatan yang dinilai belum memadai dari sisi keamanan.
Khususnya pada jembatan kembar, ia menyebut fasilitas pagar pengaman bagi pejalan kaki yang berbatasan langsung dengan sungai belum tersedia.
Trotoar memang telah tersedia, namun tanpa pengaman yang memadai, potensi risiko keselamatan dinilai masih cukup tinggi.
Menurutnya, peningkatan infrastruktur keselamatan menjadi salah satu langkah preventif yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah.
Dorong Pemanfaatan Layanan Kesehatan Jiwa
Selain aspek infrastruktur, Novan juga menyoroti pentingnya layanan kesehatan jiwa yang sebenarnya telah tersedia di berbagai fasilitas kesehatan milik pemerintah.
"Sebenarnya semua fasilitas pemerintah itu layanan psikologi kan ada, tinggal bagaimana masyarakat sendiri memanfaatkannya ya," katanya.
Ia menilai persoalan psikologis memang tidak mudah ditangani karena masih banyak masyarakat yang memilih memendam persoalan yang dihadapi.
Padahal, layanan psikologi telah tersedia mulai dari tingkat puskesmas hingga rumah sakit pemerintah, baik milik Pemerintah Kota Samarinda maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Menurut Novan, kondisi psikologis seseorang sering kali tidak terlihat dari luar sehingga memerlukan perhatian dari lingkungan sekitar.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peran keluarga, sahabat, dan lingkungan terdekat sebagai sistem pendukung pertama bagi seseorang yang sedang menghadapi tekanan emosional.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak hanya menyampaikan keluhan melalui media sosial, tetapi juga membangun komunikasi secara langsung dengan orang-orang yang dipercaya maupun memanfaatkan layanan profesional apabila dibutuhkan.
"Jadi bukan hanya curhatnya melalui media sosial, tapi melalui orang-orang yang memang dianggap bisa menenangkan perasaan batinnya," pungkasnya.
Catatan Redaksi
Apabila Anda, anggota keluarga, atau orang terdekat sedang mengalami tekanan emosional, krisis psikologis, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, jangan hadapi kondisi tersebut sendirian. Segera bicarakan dengan orang yang dipercaya, keluarga, sahabat, tokoh agama, psikolog, psikiater, atau datangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat seperti puskesmas maupun rumah sakit untuk memperoleh bantuan profesional.
Mencari pertolongan adalah langkah yang berani dan penting. Dukungan serta penanganan yang tepat dapat membantu menemukan jalan keluar dari setiap persoalan yang sedang dihadapi.