Pilar-pilar di Sudut Pasar Johar Semarang Dibiarkan Gosong, Ternyata Jadi Pengingat Peristiwa 2015
rika irawati July 05, 2026 12:07 PM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Pilar-pilar cendawan di setiap sudut bangunan Pasar Johar Semarang, Jawa Tengah, menarik perhatian karena warnanya yang berbeda.

Tak seperti tiang lain berwarna putih bersih karena dicat ulang, tiang-tiang di pojok memiliki wargan kusam, bahkan beberapa terlihat gosong.

Warga tersebut sengaja dipertahankan sebagai pengingat kebakaran besar yang melanda pada 2015 lalu.

Ini pula menjadi pengingat pedagang di Pasar Johar Semarang, Ari (39).

Perempuan yang sehari-hari menjual peralatan rumah tangga itu kerap menangis jika melihat tiang tersebut dan mengingat kebakaran yang terjadi.

"Kalau saya mengenang itu (kebakaran), sampai sekarang masih merinding," katanya dengan mata berkaca-kaca di kiosnya, Pasar Johar Tengah, Sabtu (4/7/2026).

Baca juga: Pedagang Pasar Johar Semarang Keluhkan Penurunan Daya Beli, Sehari Kadang Cuma Dapat Rp100 Ribu

"Ini sekarang (dipertahankan) sebagai tanda cagar budaya, makanya kan setiap sudut enggak dicat, buat kenangan kalau pernah kejadian (kebakaran) seperti itu di 2015," lanjutnya.

Menurut Ari, sebelum Pasar Johar Semarang terbakar, tiang-tiang di bangunan pasar berwarna krem.

Dia pun masih mengingat jelas kebakaran besar di Pasar Johar hingga membuat perdagangan di pasar terbesar di Kota Semarang itu lumpuh total.

Saat kebakaran, Ari menjual sepatu di kawasan Pasar Maling.

"Kejadiannya habis isya, setelah arisan bapak-bapak terus ditelepon gitu, 'Johar kobongan', langsung aku ke sini," katanya.

Saat tiba di lokasi, api sudah membesar dan merambat cepat ke deretan kios.

Beberapa barang masih sempat diselamatkan, namun sebagian besar tidak tertolong.

"Waktu itu aku pikir, 'Ah, ngeringkesi sing depan dulu (meringkas bagian depan dulu), sing kebakaran deket (toko) Matahari'."

"Eh baru di situ, (area toko) belakangku sudah habis."

"Padahal, stok barangku di belakang semua, di depan 50 persen."

"Tapi kan karena jualanku sepatu, kebanyakan yang didisplay itu sepatu kanan atau kiri saja. Nah pasangannya di belakang."

"Belakang sudah habis, makanya kan sudah habis, karena kalau jual sepatu harus sepasang," ungkapnya.

Musibah tak berhenti disitu.

Saat pedagang panik menyelamatkan barang dagangan, ada orang-orang yang justru menjarah barang-barang yang berhasil diselamatkan.

Ari mengatakan, peristiwa itu terjadi saat dia menyeret karung berisi barang dagangan ke lokasi yang dianggap lebih aman.

Namun, di tengah jalan, barang yang sedang ia selamatkan justru diperebutkan orang yang tidak dikenalnya.

"Aku masih nyeret barang, masih aku geret. Tahu-tahu ada orang narik juga. Aku bilang, 'Iki nggonku (ini punyaku)'. Dia malah ikut narik. Orangnya enggak kenal sama sekali," tuturnya.

Tak hanya itu, ada pula barang-barang milik pedagang lain yang sempat dititipkan kepada seseorang agar diamankan.

Namun, setelah kondisi mulai terkendali, barang tersebut tidak lagi ditemukan.

"Awalnya dikira dibantu diamankan. Tapi setelah sampai tempat yang dianggap aman, ternyata barangnya hilang."

"Kondisinya gelap, semua orang panik, enggak ada yang benar-benar bisa mengawasi," ucap Ari.

Kerugian pedagang pun cukup besar.

Apalagi, banyak yang baru saja menambah stok untuk menyambut musim Lebaran, sehingga hampir seluruh modal usaha tersimpan di dalam kios.

Ari sendiri, siang sebelum kebakaran terjadi, baru menerima kiriman sepatu dan pakaian senilai sekitar Rp250 juta.

"Itu saya ingat sekali kejadiannya, Sabtu malam. Siang habis kulakan, barang datang banyak."

"Aku pikir nanti hari Minggu baru dijual karena pasti ramai."

"Enggak tahunya, malamnya malah kebakaran," kenangnya pilu.

Baca juga: Sindiran MBG Versi Warga Barutikung Semarang: Lawan Ketimpangan Lahan dan Ancaman Penggusuran

Bantuan yang diterima setelah kebakaran, kata Ari, jauh dari cukup untuk memulihkan usahanya.

"Dapat bantuan CSR sekitar Rp3 juta. Enggak nutup sama sekali."

"Buat bangun usaha juga enggak bisa, buat beli sepatu cuma dapat beberapa pasang," katanya.

Pascakebakaran, Ari mengatakan, para pedagang tidak bisa langsung menempati lokasi relokasi karena belum siap.

Mereka akhirnya mencari tempat sendiri untuk tetap berjualan.

"Waktu kobongan, relokasi belum siap. Kami mandiri, swadaya sendiri cari tempat buat nerusin jualan."

"(Pedagang) PM (Pasar Maling) dapat di parkiran Gedung Kanjengan, yang lain di sepanjang Jalan Agus Salim," katanya.

Pedagang, kata dia, kemudian direlokasi dikawasan Masjid Agung Jawa Tengah(MAJT).

"Sekitar 2022, yang di relokasi MAJT kobong 'kebakaran' lagi," ucapnya.

Ari akhirnya kembali menempati kios di Pasar Johar sekitar 2022.

Karena penempatan dilakukan melalui sistem undian, ia tidak lagi berjualan sepatu, melainkan beralih menjual peralatan rumah tangga.

"Pas undian, otomatis tempat baru aku enggak bisa milih. Mau enggak mau menyesuaikan lingkungan. Akhirnya jualan pecah belah," katanya.

Menurutnya, ia mulai berjualan pecah belah tersebut dengan modal awal sekitar Rp50 juta.

"Dikit-dikit ya, Mbak. Wong kita enggak punya pengalaman. Kita enggak tahu mesti belanja di mana."

"Kalau sekarang, sales yang datang ke sini," jelasnya.

Pedagang lain, Ros (48), juga menyimpan kenangan serupa.

Perempuan yang telah berjualan camilan di Pasar Johar sejak 1997 itu mengatakan, secara fisik, bangunan pasar tidak banyak berubah setelah direvitalisasi.

Menurutnya, perubahan justru terjadi pada penataan jenis dagangan.

"Bangunan ini semua tetap kok, enggak ada yang berubah. Cuma yang berubah itu penjualnya, digeser," katanya.

Menurut Ros, beberapa pilar yang sengaja tidak dicat ulang merupakan penanda bekas kebakaran yang dipertahankan sebagai pengingat peristiwa tersebut.

"Ya, itu sing enggak dicat paling buat tanda-tanda kok," ujarnya.

Ros mengaku tak kuasa mengingat kembali malam kebakaran Pasar Johar pada 2015.

Saat itu, ia baru saja pulang ke rumah ketika mendapat kabar bahwa pasar terbakar.

"Wah, nak diceritake malah terenyuh aku (kalau diceritakan malah saya terharu). Nangis semua," katanya.

Ros mengatakan, seluruh barang dagangannya habis dilalap api.

Bahkan, ia harus kembali mengalami kerugian saat lokasi relokasi di kawasan MAJT juga terbakar beberapa tahun kemudian.

"Semua kena. Enggak ada satu pun yang tersisa, di 2015 maupun di 2022," tuturnya.

Usai kebakaran 2015, Ros sempat direlokasi ke kawasan MAJT.

Namun setelah lokasi tersebut kembali terbakar, ia akhirnya kembali menempati kios di Pasar Johar yang telah direvitalisasi.

"Setelah kebakaran sana aku langsung nempati sini," katanya.

Kini, setiap kali melihat pilar yang masih menyisakan bekas gosong, Ros memilih tidak lagi larut dalam kenangan.

"Ya wes enggak tak inget-inget. Pokoknya setelah itu aku sudah enggak inget-inget."

"Kalau diinget-inget ya enggak bisa kembali kok, malah bikin nangis," ujarnya.

Hasil Rekomendasi TACB

Kepala Bidang Penataan dan Penetapan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Bagas Yuwono Ario Negoro mengatakan, pilar-pilar yang masih menyisakan bekas gosong sengaja dipertahankan sebagai bagian dari sejarah Pasar Johar.

"Memang, sengaja tidak diapa-apakan lagi," katanya.

Baca juga: Nekat Parkir di Jalur Utama Kota Semarang, Sejumlah Mobil Langsung Digembok Dishub

Menurut Bagas, keputusan tersebut merupakan hasil rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) saat proses revitalisasi berlangsung.

Pilar-pilar itu dipertahankan agar masyarakat mengetahui Pasar Johar pernah mengalami kebakaran besar pada 2015.

"Biar masyarakat tahu tentang sejarah Johar zaman dulu," ujarnya.

Bagas menyebutkan, memang terdapat delapan pilar yang dipertahankan di kawasan Johar Tengah dan Johar Utara.

Pilar-pilar tersebut tersebar di empat sisi bangunan.

"Jadi, ada empat mata angin. Ini cuma tata letak saja biar bisa dilihat saja," jelasnya.

Ia menambahkan, kebakaran yang terjadi pada 2015 berdampak terhadap seluruh aktivitas perdagangan di Pasar Johar.

Saat itu, tercatat sebanyak 7.346 pedagang terdampak.

"Pedagang kita pada waktu itu ada 7.346. Itu terdampak semua," katanya.

Pasca-kebakaran, para pedagang direlokasi terlebih dahulu sebelum proses revitalisasi dilakukan.

Bagas mengatakan, pembangunan kembali Pasar Johar dimulai pada 2016 dan rampung pada 2020.

"Setelah itu, kita relokasi dulu ke MAJT, terus setelah itu kembali lagi ke pusat di sini," imbuhnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.