Untuk sesaat, lupakan lini tengah dan pikirkan tentang pertahanan Spanyol ini. Sejak dahulu kala, tim nasional Spanyol selalu dikenal karena kekuatan lini tengahnya. Dari era emas Xavi dan Andrés Iniesta, sistem Tiki-Taka yang rumit, hingga kini dengan pemain seperti Pedri dan peraih Ballon d’Or Rodri, La Roja telah lama identik dengan memiliki salah satu lini tengah terbaik di sepak bola internasional.
Namun, ketika Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Utara memasuki tahap krusial, ada sesuatu yang berbeda dari tim Spanyol kali ini. Pahlawan sejati dari perjalanan Spanyol sejauh ini bukan hanya para pengatur serangan dan perebut bola, melainkan justru barisan pertahanan mereka.
Dan di situ, dua nama langsung terlintas di pikiran: Pau Cubarsí dan Unai Simón.
Menjelang Piala Dunia 2026, posisi penjaga gawang menjadi perdebatan sengit di media Spanyol dan di kalangan para penggemar. Luis de la Fuente dengan tegas menyatakan bahwa penjaga gawang utamanya akan tetap Unai Simón dari Athletic Club. Dua kiper lainnya, David Raya dan Joan García, akan ikut sebagai pelapis dan hanya akan bermain jika terjadi cedera.
David Raya baru saja meraih penghargaan Sarung Tangan Emas di Premier League, sementara Joan García memenangkan La Liga serta Trofi Zamora (setara dengan Sarung Tangan Emas di Spanyol). Namun, keduanya harus puas duduk di bangku cadangan selama Piala Dunia, karena posisi utama tetap diberikan kepada Unai Simón, meski Athletic Club menutup musim di peringkat ke-12 La Liga dan kebobolan 58 gol.
Lalu apa yang terjadi setelah Spanyol memainkan empat pertandingan sejauh ini? Unai Simón berhasil memecahkan rekor dunia.
Dengan catatan 519 menit tanpa kebobolan di Piala Dunia, kiper asal Basque itu secara resmi melampaui rekor legenda Italia, Walter Zenga, yang mencatatkan 517 menit tanpa kebobolan pada Italia ’90.
Untuk menemukan kali terakhir Simón kebobolan di Piala Dunia, kita harus mundur hingga 1 Desember 2022. Saat itu, gol datang dari pemain Jepang, Ao Tanaka. Sejak momen itu, Simón belum pernah memungut bola dari gawangnya selama 39 menit terakhir melawan Jepang, 120 menit penuh melawan Maroko di Qatar, dan 360 menit sempurna selama kampanye Spanyol di Piala Dunia 2026 sejauh ini.
Selain menjaga empat clean sheet dan memecahkan rekor dunia tersebut, Simón juga tampil luar biasa dalam hal distribusi bola. Ia tampil gemilang saat keluar dari gawang dan berperan sebagai sweeper-keeper — sesuatu yang sebelumnya bukan keunggulannya, namun kini dijalankan dengan sangat baik sepanjang turnamen. Simón telah menyelesaikan 106 operan sebagai bagian dari gaya permainan Spanyol yang membangun serangan dari belakang. Menurut data FotMob, akurasi operannya mencapai angka luar biasa 93,06 persen. Ia juga melakukan umpan panjang dengan akurasi sekitar 66 persen, membantu Spanyol untuk mengalirkan bola lebih jauh ke depan.
Kesalahan fatal telah ia hilangkan, pengambilan keputusannya semakin matang, dan ia menunjukkan dengan jelas alasan Luis de la Fuente mempercayainya dibandingkan dengan dua kiper lainnya. Dalam apa yang tampaknya menjadi siklus terakhirnya di Piala Dunia bersama tim nasional, setelah memecahkan rekor dunia, Unai Simón dengan tenang berkata kepada media:
“Itu hanya angka, sejujurnya. Saya rasa saya belum melakukan sesuatu yang luar biasa.”
Pekerjaan Unai Simón menjadi lebih mudah berkat seorang pemain muda yang tampil di depannya pada turnamen besar internasional pertamanya.
Pemain muda Barcelona berusia 19 tahun, Pau Cubarsí, sejauh ini diam-diam mencuri perhatian para pengamat. Cubarsí adalah satu-satunya pemain di bawah usia 20 tahun yang telah bermain di setiap menit pertandingan Piala Dunia ini. Selama babak grup, Spanyol mencapai prestasi yang belum pernah mereka capai sebelumnya di Piala Dunia — melewati tiga laga pembuka tanpa kebobolan satu gol pun.
Dalam tiga pertandingan pertama tersebut, Cubarsí mencatatkan akurasi umpan luar biasa sebesar 98 persen, dengan 289 dari 294 umpan berhasil diselesaikan. Kemampuannya dalam memainkan bola dari lini belakang juga menonjol, dengan sembilan umpan panjang sukses dan lima peluang diciptakan langsung dari lini pertahanan. Ia belum pernah kehilangan bola dalam empat pertandingan dan hanya dua kali dilewati oleh lawan.
Cubarsí terus menambah statistik yang membuat para pendukung La Roja tersenyum. Ia telah mencatatkan 18 kali pemulihan bola dan 14 sapuan bersih, membantu Spanyol mempertahankan empat clean sheet berturut-turut.
Meskipun sudah mendekati level kelas dunia di level klub, masih ada momen di mana Cubarsí terlihat kesulitan dalam sistem pertahanan berisiko tinggi milik Hansi Flick di Barcelona. Garis pertahanan tinggi yang agresif sering membuatnya terekspos. Ketika lawan berhasil menembus ruang di belakangnya, ia harus bereaksi cepat — terkadang berujung pada kesalahan, seperti kartu merah yang diterimanya melawan Atlético Madrid.
Namun bersama tim nasional, struktur pertahanan Luis de la Fuente yang lebih lambat memberinya kesempatan untuk bermain dengan gaya alaminya tanpa harus terus-menerus khawatir bertahan 40 yard dari gawang. Perbedaan itu jelas terlihat setiap kali ia mengenakan seragam Spanyol menggantikan jersey Barcelona.
Pau Cubarsí baru berusia 20 tahun, dan Hansi Flick tentu tidak akan selamanya menjadi pelatih Barcelona. Jika Cubarsí terus berkembang dengan kecepatan seperti ini dan kelak bermain di bawah pelatih dengan struktur pertahanan yang lebih sesuai dengan kekuatannya, ia berpotensi menjadi salah satu bek tengah terbaik di dunia.
Pau Cubarsí dan Unai Simón, yang didukung secara brilian oleh Aymeric Laporte, Marc Cucurella, dan Pedro Porro, telah menjadikan lini belakang Spanyol sebagai mimpi buruk bagi lawan-lawan mereka.
Ketika Spanyol bersiap menghadapi babak 16 besar, kekhawatiran terbesar Luis de la Fuente bukanlah soal kebobolan gol, melainkan situasi cedera di sektor sayap. Semua anggota tim Spanyol kini bisa tidur nyenyak, yakin bahwa lini pertahanan mereka tidak hanya akan mendominasi turnamen ini, tetapi juga masih akan menjadi kekuatan utama selama bertahun-tahun ke depan.