Kemarau, Singkong Umur 1,5 Bulan di Lampung Tengah Tumbuh Kerdil
soni yuntavia July 05, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Musim kemarau membuat tanaman singkong milik petani di Lampung Tengah terancam gagal tumbuh.

Baca juga: Harga Singkong Naik, PPUKI Ingatkan Petani Tak Abaikan Kualitas Panen

Seorang petani singkong di Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Angga Tejo, mengatakan tanaman singkong miliknya yang berusia sekitar 1,5 bulan tumbuh kerdil akibat kekurangan air.

Kurangnya pasokan air membuat tanaman yang baru ditanam mengalami gangguan pertumbuhan yang cukup serius.

“Cuaca panas, kebutuhan air kurang. Ada tunas yang tumbuh, namun kondisinya kerdil,” ujar Tejo, Minggu (5/7/2026).

Dalam kondisi normal, lanjut dia, tanaman singkong berusia 1,5 bulan seharusnya sudah memiliki tunas setinggi sekitar 20–30 sentimeter dan siap dilakukan pemupukan. Namun akibat kekeringan, Tejo baru dapat melakukan satu kali penyemprotan.

Tejo mengakui kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh pola tanam yang kurang tepat di kalangan petani.

Demi memanfaatkan tingginya harga singkong, sejumlah petani tetap melakukan penanaman di musim kemarau tanpa ketersediaan air yang memadai untuk tanaman muda.

Ia juga menyebut sebagian petani melakukan panen lebih awal untuk memanfaatkan harga yang sedang tinggi.

“Jika kondisi ini terus berlanjut, petani terancam mengalami penurunan hasil produksi hingga 50 persen saat panen nanti,” kata dia.

Gangguan pertumbuhan akibat kemarau tersebut tidak hanya terjadi di lahan milik Tejo, tetapi juga dialami oleh petani lain di wilayah Kecamatan Bumi Ratu Nuban dengan usia tanam yang serupa.

Sementara itu, di tengah kondisi tersebut, harga singkong di pasaran justru menunjukkan tren positif. Harga tepung tapioka di tingkat industri kini mencapai lebih dari Rp12.000 per kilogram, sehingga pabrik berani membeli singkong petani dengan harga lebih tinggi.

Saat ini, skema transaksi di Lampung Tengah disebut telah berada di atas ketentuan harga pembelian dasar yang ditetapkan sebesar Rp1.350 per kilogram dengan potongan (rafaksi) maksimal 15 persen, dengan syarat kualitas tertentu terpenuhi.

Namun, kondisi tersebut juga diiringi sejumlah temuan praktik yang tidak sesuai ketentuan di lapangan. Ketua

Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI) Lampung Tengah, Dasrul Aswin, mengatakan pihaknya menemukan sejumlah pelanggaran saat melakukan pemantauan ke beberapa pabrik pengolahan.

“Banyak petani yang memanen singkong sebelum waktunya karena tergiur harga yang tinggi. Selain itu, ada yang tetap menjual varietas Singkong Thailand Merah yang tidak sesuai standar pabrik karena kadar airnya tinggi,” ujar Dasrul.

Ia juga menyoroti adanya praktik pencampuran singkong dengan bonggol dalam jumlah berlebih serta penambahan tanah untuk memengaruhi berat timbangan.

PPUKI Lampung Tengah mengingatkan petani agar mematuhi ketentuan dan menjaga kualitas hasil panen.

Menurut Dasrul, kepatuhan terhadap aturan penting untuk menjaga keberlanjutan kemitraan antara petani dan pihak pabrik.

“Perlu komitmen bersama untuk mengikuti regulasi. Petani memperoleh harga yang baik, sementara pabrik mendapatkan bahan baku yang berkualitas,” kata Dasrul.(faj)

Tutup Biaya Produksi 

Juni lalu, kenaikan harga singkong yang menyentuh Rp2.400 per kilogram di Kabupaten Lampung Tengah membawa angin segar bagi petani. 

Level harga tertinggi yang tercatat hingga Rabu (17/6) itu membuat banyak petani mulai merasakan perbaikan pendapatan di tengah fluktuasi harga yang selama ini terjadi. 

Kondisi tersebut dinilai cukup memberi ruang napas bagi petani untuk menutup biaya produksi yang terus berjalan.

Meski demikian, harga tersebut belum seragam di seluruh perusahaan penerima hasil panen singkong.

Setiap perusahaan masih menerapkan skema harga dan potongan yang berbeda-beda, sehingga rata-rata harga di tingkat kabupaten berada di kisaran Rp2.050 per kilogram dengan potongan sekitar 8 persen. 

Perbedaan ini membuat pendapatan petani tidak sepenuhnya sama, tergantung mitra pabrik yang mereka tuju.

Ketua Umum Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI) Lampung Tengah, Dasrul Aswin, menegaskan, petani tetap merasakan dampak positif dari kondisi harga saat ini. 

Ia menjelaskan, dari harga yang diterima petani masih terdapat pengurangan biaya produksi, termasuk ongkos transportasi dan upah buruh cabut singkong. 

Menurutnya, kenaikan harga BBM nonsubsidi serta antrean solar tidak memberikan dampak signifikan terhadap distribusi hasil panen, karena biaya angkut sudah lebih dulu mengalami penyesuaian di lapangan.(faj)

( Tribunlampung.co.id / Fajar Ihwani Sidiq )

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.