Kenapa Banyak Bekas Pabrik Gula di Solo Raya? Ini Sejarah Panjang Kejayaan Industri Gula di Jawa
Hanang Yuwono July 05, 2026 05:29 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Pernahkah Tribuners bertanya mengapa di wilayah Solo Raya (eks Karesidenan Surakarta) begitu banyak ditemukan bekas pabrik gula?

Sebagian bangunan tersebut kini bahkan dialihfungsikan menjadi destinasi wisata sejarah.

Fenomena ini ternyata berkaitan erat dengan perjalanan panjang industri gula di Indonesia yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Baca juga: Penjelasan Kenapa Wonogiri Dijuluki Kota Gaplek, Tradisi Olah Singkong yang Bertahan hingga Kini

Awal Perjalanan Tebu dan Gula di Nusantara

Tanaman tebu dengan nama ilmiah Saccharum officinarum L. diperkirakan berasal dari Papua Nugini sekitar 8.000 tahun sebelum Masehi.

Dari wilayah tersebut, tebu kemudian menyebar ke berbagai kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Filipina, hingga India.

Penyebarannya juga dipengaruhi ekspansi bangsa Arab pada abad ke-7, karena tebu merupakan tanaman tropis yang cocok tumbuh di daerah beriklim panas.

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakat Nusantara khususnya Jawa sudah mengenal rasa manis dari gula merah yang diolah dari nira kelapa maupun nira tebu.

Prosesnya dilakukan secara tradisional, yakni dengan merebus nira hingga mengental lalu mengeringkannya.

Baca juga: Fakta Menarik Desa Mandong Klaten : Punya Tradisi 1.000 Pincuk hingga Legenda Sendang yang Terjaga

Dalam catatan Sir Thomas Stamford Raffles dalam History of Java, masyarakat Jawa pada masa awal bahkan mengonsumsi tebu dengan cara dikunyah langsung sebagai minuman alami, belum diolah menjadi gula pasir seperti sekarang.

Perkembangan Industri Gula di Masa Kolonial

Perkembangan industri gula di Jawa mengalami lonjakan besar pada masa kolonial Belanda.

Hal ini dipicu oleh dua faktor utama, yaitu kesuburan tanah Jawa yang sangat cocok untuk tebu serta masuknya teknologi mesin uap dari Revolusi Industri di Eropa.

Teknologi tersebut memungkinkan pengolahan tebu dilakukan dalam skala besar dan lebih efisien.

Dalam kajian Theo Stevens berjudul Semarang, Central Java and World Market 1870–1900, Jawa bahkan menjadi pusat produksi gula dunia karena kombinasi sumber daya alam dan kemajuan teknologi.

Memasuki awal abad ke-20, pabrik gula tumbuh pesat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Berdasarkan peta Suikerfabrieken op Java tahun 1914, tercatat sekitar 191 pabrik gula beroperasi di Jawa, dan jumlahnya meningkat menjadi kurang lebih 200 pabrik pada 1925.

Pada periode tersebut, industri gula menjadi penggerak transformasi ekonomi Jawa dari sistem agraris tradisional menuju ekonomi berbasis industri dan mekanisasi.

Baca juga: Sejarah SD Kasatriyan Solo: Dulu Jadi Sekolah Elit Kerabat Dalem Keraton, Kini Kekurangan Murid

Bahkan, pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, Jawa sempat menjadi salah satu produsen gula terbesar dunia, bersaing dengan Kuba, hingga kejayaannya bertahan sampai sekitar 1970-an.

De Tjolomadoe objek wisata yang merupakan hasil revitalisasi Pabrik Gula Colomadu. (Instagram @detjolomadoe_official)
De Tjolomadoe objek wisata yang merupakan hasil revitalisasi Pabrik Gula Colomadu. (Instagram @detjolomadoe_official) (Instagram @detjolomadoe_official)

Solo Raya sebagai Pusat Industri Gula

Wilayah Solo Raya atau Karesidenan Surakarta memiliki posisi penting dalam sejarah industri gula di Jawa.

Berbeda dengan daerah lain, wilayah Surakarta yang berstatus vorstenlanden (daerah kerajaan) tidak sepenuhnya menerapkan sistem tanam paksa.

Kondisi ini membuat sistem ekonomi liberal dan sewa tanah berkembang lebih cepat, yang kemudian mendorong tumbuhnya industri gula dalam skala besar.

Sejarawan Vincent J.H. Houben mencatat bahwa pada 1851, Surakarta telah memproduksi sekitar 24.000 pikul gula.

Pada 1863, tercatat sudah ada 46 pabrik gula yang tersebar di wilayah Kartasura, Klaten, Boyolali, dan Sragen, termasuk Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu milik Mangkunegara IV.

Perkembangan ini turut mendorong modernisasi wilayah Surakarta. Pada 1867 berdiri kantor cabang De Javasche Bank, dan pada 1870 dibuka jalur kereta api Surakarta–Semarang.

Produksi gula Surakarta bahkan mencapai puncaknya pada 1889 dengan total 786.403 pikul, melampaui wilayah lain di Jawa.

Masa Kemunduran Industri Gula

Kejayaan industri gula kemudian mengalami penurunan akibat berbagai faktor.

Bencana alam seperti letusan Gunung Merapi dan gempa bumi pada awal abad ke-20 merusak sejumlah pabrik gula di kawasan Yogyakarta–Surakarta.

Situasi semakin memburuk ketika krisis ekonomi dunia atau malaise pada 1930-an melanda.

Harga komoditas ekspor anjlok dan banyak perusahaan perkebunan bangkrut, termasuk pabrik gula di Surakarta yang mulai tutup pada periode 1929–1935.

Kondisi ini diperparah oleh Perang Dunia II serta masa pendudukan Jepang yang menyebabkan industri gula kehilangan sistem pengelolaan.

Setelah Indonesia merdeka, hanya sekitar 50 pabrik gula yang tersisa, dan jumlah tersebut terus menurun akibat tingginya biaya produksi serta persaingan global.

Warisan Industri Gula di Solo Raya

Kini, hanya beberapa pabrik gula yang masih aktif di Solo Raya, seperti PG Mojo di Sragen, PG Tasikmadu di Karanganyar, dan PG Gondang Baru di Klaten.

Sementara itu, sejumlah pabrik lain seperti PG Colomadu dan PG Gembongan telah berhenti beroperasi dan direvitalisasi menjadi destinasi wisata sejarah, seperti De Tjolomadoe dan The Heritage Palace.

Bekas pabrik gula tersebut kini tidak hanya menjadi bangunan tua, tetapi juga menyimpan jejak penting sejarah ekonomi dan industri Jawa.

Warisan itu mencakup bangunan fisik seperti mesin, rel lori, dan arsitektur pabrik, hingga sistem budidaya tebu dan teknologi pengolahan gula yang pernah berjaya pada masanya.

(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.