TRIBUNMANADO.CO.ID - Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) resmi miliki Pengurus Inti Pucuk Pimpinan Periode 2026–2031.
Struktur Pengurus Inti Pucuk Pimpinan KGPM Periode 2026–2031 telah ditetapkan untuk memimpin dan menakhodai perjalanan pelayanan gereja selama lima tahun ke depan.
Gembala Tedius Batasina terpilih sebagai Ketua Umum dalam Sidang Raya XXXV Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) Tahun 2026 yang berlangsung di Kiawa Resort, Desa Kiawa Dua, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, Jumat 3 Juli 2026.
Sidang Raya XXXV KGPM sendiri berlangsung selama lima hari mulai 29 Juni - 3 Juli 2026 dengan beberapa agenda pembahasan di antaranya tata gereja, penyempurnaan AD/ART, penyusunan program strategis, hingga pemilihan pengurus baru Sinode KGPM.
Gembala Tedius Batasina mengantongi 640 suara dari peserta sidang pada pemilihan di Sidang Raya ke-35 KGPM.
Berikut adalah susunan lengkap fungsionaris Pengurus Inti Pucuk Pimpinan KGPM Periode 2026–2031:
ANGGOTA (Pimpinan Komisi Kategori)
MAJELIS GEMBALA
Anggota Majelis Gembala:
Biodata Singkat
Nama Lengkap: Tedius Kuemba Batasina
Tempat, Tanggal Lahir: Bitung, 13 Februari 1968
Istri: Chriestine P. Raitu
Tempat Tinggal: Malalayang Satu, Kota Manado, Sulawesi Utara
Karier Pelayanan dan Organisasi
Wakil Ketua FKUB Sulut: Di luar pelayanan internal gereja, ia juga aktif dalam merawat kerukunan antarumat beragama dan pernah dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Utara.
Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling (YSK) menghadiri Sidang Raya XXXV Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) Tahun 2026 yang berlangsung di Kiawa Resort, Desa Kiawa Dua, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, Selasa (30/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur YSK memberikan materi penguatan kepada peserta sidang sekaligus menyampaikan sejumlah pesan menjelang pemilihan pengurus baru Sinode KGPM.
Di hadapan peserta Sidang Raya, YSK menegaskan pergantian kepemimpinan merupakan proses yang wajar dalam sebuah organisasi.
Menurutnya, regenerasi menjadi momentum untuk menghadirkan ide dan semangat baru dalam pelayanan gereja.
"Pergantian pengurus adalah hal yang biasa. Siapa pun yang terpilih nantinya akan memikul tanggung jawab yang besar. Yang paling penting bukan hanya siapa yang terpilih, tetapi bagaimana setelah itu mampu menyusun program kerja yang tepat," kata YSK.
Ia mengatakan, tugas terbesar pengurus yang baru bukan hanya memenangkan proses pemilihan, melainkan menyusun program kerja yang mampu menjawab kebutuhan jemaat sekaligus mendukung pembangunan daerah.
YSK mengibaratkan hal tersebut seperti pemerintahan.
Menurutnya, setelah seorang kepala daerah terpilih, tantangan utama adalah merealisasikan program yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, ia berharap hasil Sidang Raya XXXV KGPM dapat melahirkan program-program strategis yang sejalan dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara maupun pemerintah kabupaten dan kota.
Pada kesempatan itu, YSK juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus Sinode KGPM periode sebelumnya yang dinilai telah menjalin sinergi yang baik bersama pemerintah dalam berbagai program pelayanan dan pembangunan.
Menurutnya, kontribusi gereja tidak hanya terbatas pada pelayanan kerohanian, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga persatuan serta membantu pembangunan di berbagai sektor.
Gubernur YSK turut mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama di Sulawesi Utara yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat toleransi yang tinggi di Indonesia.
"Kita ingin Sulawesi Utara tetap menjadi barometer toleransi beragama di Indonesia. Karena kita berada pada posisi mayoritas, maka tanggung jawab kita justru lebih besar untuk menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, dan merawat persaudaraan," ujarnya.
Pada kesempatan itu, Guberur YSK berharap dan meminta KGPM untuk selaraskan program dengan pembangunan Sulut.
Dalam pemaparannya, YSK juga menyinggung berbagai tantangan global yang dihadapi saat ini, mulai dari persoalan ekonomi, politik, perubahan iklim, geopolitik hingga pengelolaan sumber daya alam yang menurutnya menjadi bagian dari kondisi polycrisis
Ia menilai kondisi tersebut menuntut seluruh elemen bangsa, termasuk gereja, untuk terus memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan menjaga persatuan.
Menutup arahannya, YSK berpesan agar pengurus Sinode KGPM yang akan terpilih tetap menjaga independensi gereja serta tidak terlibat dalam politik praktis.
"Gereja KGPM tidak boleh ikut politik praktis. Politik praktis bisa merusak semuanya. Yang utama adalah berdoa, meminta petunjuk Tuhan, dan terus melayani umat dengan tulus," pesannya.