TRIBUNJOGJA.COM - Ada satu ironi menarik di dunia sepak bola beberapa tahun terakhir.
Saat Paris Saint-Germain diperkuat Lionel Messi, Neymar, dan Kylian Mbappe, trofi Liga Champions yang menjadi obsesi utama klub justru tak kunjung datang.
Namun setelah ketiganya pergi, PSG justru berhasil menjuarai Liga Champions dua musim beruntun.
Lalu, kenapa hal itu bisa terjadi?
Bukan Lagi Mengandalkan Tiga Pemain
Saat era MNM, hampir seluruh serangan PSG berpusat pada tiga pemain tersebut.
Di atas kertas, kualitas individunya memang luar biasa. Namun, keseimbangan tim sering menjadi sorotan.
Tiga pemain depan memiliki kebebasan menyerang yang besar, sehingga beban bertahan lebih banyak ditanggung pemain lain. Dalam kompetisi seperti Liga Champions, kondisi ini kerap dimanfaatkan lawan.
Luis Enrique Membangun Tim yang Lebih Kolektif
Perubahan terbesar datang setelah Luis Enrique benar-benar membangun tim sesuai idenya.
Tanpa lagi bergantung pada satu atau dua pemain, PSG bermain dengan pressing yang lebih konsisten, transisi yang lebih rapi, dan seluruh pemain memiliki peran yang jelas saat menyerang maupun bertahan.
Permainan PSG menjadi lebih sulit ditebak karena ancaman datang dari banyak pemain, bukan hanya dari lini depan.
Pemain Muda Justru Berkembang
Kepergian para bintang juga membuka ruang bagi pemain-pemain muda.
Nama seperti Désiré Doué, Warren Zaïre-Emery, Senny Mayulu, hingga João Neves mendapat tanggung jawab lebih besar.
Mereka berkembang menjadi bagian penting dari tim, bukan sekadar pelapis.
Rekrutan Lebih Sesuai Kebutuhan Tim
Alih-alih membeli nama besar, PSG mulai merekrut pemain yang sesuai kebutuhan taktik.
Fokus klub bergeser dari strategi "galacticos" menjadi membangun skuad yang seimbang di setiap lini.
Pendekatan ini membuat kualitas permainan lebih stabil sepanjang musim.
Hasilnya Baru Terlihat di Liga Champions
Musim 2024-2025, PSG akhirnya meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub setelah mengalahkan Inter Milan 5-0 di final.
Setahun kemudian, mereka mempertahankan gelar lewat kemenangan atas Arsenal melalui adu penalti.
Dua gelar beruntun itu memperkuat anggapan bahwa perubahan filosofi permainan membawa dampak besar terhadap performa tim.
Jadi, Apakah PSG Juara Karena Messi, Neymar, dan Mbappe Pergi?
Tidak sesederhana itu.
PSG bukan juara semata-mata karena ketiga pemain tersebut hengkang.
Namun, kepergian mereka memberi ruang bagi Luis Enrique membangun tim dengan identitas yang lebih kolektif, distribusi peran yang lebih merata, dan keseimbangan permainan yang lebih baik.
Kasus PSG menjadi contoh bahwa dalam sepak bola modern, kualitas individu tetap penting, tetapi tim yang paling solid secara kolektif sering kali memiliki peluang lebih besar untuk menjadi juara.
(MG Farhatiy Rijal)