Kapan Puncak Musim Kemarau 2026? ini Penjelasan BMKG dan Daerah yang Berpotensi Lebih Kering
Arie Noer Rachmawati July 05, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibanding kondisi normal.

Situasi ini dipengaruhi oleh fenomena iklim El Nino yang dapat memperkuat tingkat kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.

BMKG menyebut, meski musim kemarau merupakan siklus tahunan yang terjadi secara rutin, kondisi tahun ini berpotensi lebih ekstrem karena adanya pengaruh atmosfer dan suhu permukaan laut yang tidak normal.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan dampak musim kemarau akan terasa lebih signifikan ketika bersamaan dengan fenomena El Nino yang mengurangi curah hujan di banyak daerah.

"Musim hujan dan musim kemarau akan kita alami setiap tahun. Tapi yang menjadi permasalahan adalah ketika musim kemarau bersamaan waktunya dengan fenomena El Nino. Itu membuat kondisi di negara kita, seperti tahun ini, kemaraunya akan lebih panjang dan lebih kering dari rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir," ujar Faisal, dikutip dari laman resmi BMKG.

Berdasarkan prediksi BMKG, curah hujan pada periode Juli hingga Desember 2026 umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah dengan sifat hujan didominasi kondisi bawah normal. 

Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan, terutama di sejumlah wilayah yang memasuki puncak musim kemarau.

Lalu, sampai kapan puncak musim kemarau ini berlangsung?

Baca juga: Penjelasan BMKG soal Surabaya Bediding hingga Agustus, Suhu Malam Hari Capai 18 Derajat Celsius

Baca juga: Perbedaan El Nino dan Musim Kemarau Menurut BMKG, Dua Fenomena yang Sering Disamakan

Puncak Musim Kemarau 2026

BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus hingga September 2026.

Pada periode tersebut, sejumlah wilayah diperkirakan mengalami kondisi paling kering, dengan potensi penurunan curah hujan yang cukup signifikan.

Masyarakat diimbau untuk mulai mewaspadai dampak yang mungkin muncul, seperti meningkatnya risiko kekeringan, kebakaran lahan, hingga berkurangnya ketersediaan air di beberapa daerah.

BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat agar melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama di wilayah yang selama ini masuk kategori rawan kekeringan setiap musim kemarau tiba.

Wilayah Berpotensi Musim Kemarau Lebih Kering

BMKG memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih kering, terutama kawasan Indonesia bagian selatan atau di bawah garis khatulistiwa. 

Wilayah tersebut meliputi:

  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat (NTB)
  • Nusa Tenggara Timur (NTT)
  • Pulau Jawa terutama wilayah pesisir
  • Sumatera bagian selatan
  • Kalimantan bagian selatan
  • Sebagian Papua Selatan

Menurut BMKG, kondisi tersebut perlu diantisipasi karena berpotensi memengaruhi ketersediaan sumber daya air untuk berbagai sektor, termasuk pertanian. 

Oleh karena itu, informasi cuaca dan iklim menjadi bagian penting dalam mendukung langkah mitigasi serta penyusunan strategi menghadapi musim kemarau.

Baca juga: BMKG Peringatkan Potensi El Nino 2026, Begini Cara Menjaga Rumah Tetap Sejuk Saat Kemarau Panjang

Antisipasi BMKG

Sebagai upaya adaptasi, BMKG terus memperkuat layanan informasi iklim, sistem peringatan dini, analisis kesesuaian agroklimat, serta operasi modifikasi cuaca (OMC). 

Melalui operasi tersebut, BMKG membantu pengelolaan sumber daya air dengan mendukung pengisian waduk, bendungan, dan embung sebagai cadangan air untuk kebutuhan irigasi, air baku, maupun energi menjelang puncak musim kemarau.

Faisal menegaskan perubahan iklim merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi melalui penguatan sistem adaptasi berbasis sains.

"Perubahan iklim itu adalah nyata dan kemudian perlu juga adaptasi mitigasi dari manusianya untuk dapat terus melanjutkan pembangunan. Tugas BMKG adalah untuk mendukung semua sektor pembangunan, termasuk pembangunan di bidang pertanian, perkebunan, hingga kelautan. Dan ini mestinya kita harus membuat sistem yang lebih siap dengan kondisi itu," ucapnya.

Melalui penguatan layanan iklim, sistem peringatan dini, serta teknologi observasi dan prediksi, BMKG berkomitmen mendukung ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko musim kemarau yang dipengaruhi perubahan iklim maupun fenomena El Nino. 

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.