TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG - Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Muhammad Taufiq Ratule menghadiri Silaturahmi Nasional (Silatnas) Badan Otonom Darud Da'wah wal Irsyad (DDI), Minggu (5/7/2026).
Di dalam struktur organisasi Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Hortikultura (Ditjen Horti) merupakan unsur pelaksana yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri Pertanian.
Ditjen ini fokus pada pengelolaan tanaman non-pangan seperti buah-buahan, sayuran, tanaman obat (biofarmaka), dan tanaman hias (florikultura).
Darud Da'wah wal Irsyad (DDI) adalah salah satu organisasi massa (ormas) Islam sosiokeagamaan terbesar di Indonesia yang berbasis dan lahir di Sulawesi Selatan.
Secara karakteristik amalan fikih dan tradisi keagamaannya, DDI tergolong sebagai Muslim tradisionalis (berhaluan Ahlussunnah wal Jama'ah), mirip dengan Nahdlatul Ulama (NU) di Pulau Jawa.
Dalam struktur organisasi Darud Da'wah wal Irsyad (DDI), Badan Otonom (Banom) adalah lembaga atau sayap organisasi yang dibentuk untuk menjalankan program kerja pada segmen atau kelompok masyarakat tertentu.
Taufiq Ratule hadir di Ponpes Manahilil Ulum Kaballangang, Jalan Poros Pinrang-Polman KM.15, Desa Kaballangang, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang, Sulsel, mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam menutup kegiatan Silatnas DDI tersebut.
Baca juga: DDI Bantah Ada Agenda Politik di Silatnas Badan Otonom di Pinrang
Sejarah singkat pesantren ini tidak dapat dipisahkan dari figur pendiri DDI, Anregurutta Haji (AGH) Abdurrahman Ambo Dalle.
Setelah membesarkan MAI Mangkoso di Barru, AGH Ambo Dalle melebarkan sayap dakwah dan pendidikan ke wilayah Ajatappareng lainnya, termasuk Pinrang.
Pada dekade 1950-an, di tengah dinamika sosial-politik pasca-kemerdekaan, mulailah dirintis institusi pendidikan keagamaan di wilayah Kaballangang sebagai cabang dari gerak dakwah DDI.
Kehadirannya dipicu oleh kebutuhan mendesak masyarakat Pinrang dan sekitarnya akan pusat penempaan akhlak dan ilmu syariat.
Arti nama nama Manahilil 'Ulum (Manahil al-'Ulum) memiliki arti "Sumber-Sumber/Mata Air Ilmu Pengetahuan".
Nama ini disematkan dengan harapan besar agar pesantren ini mampu menjadi hulu yang memancarkan ilmu-ilmu keislaman (tafakkuh fid-din) sekaligus ilmu pengetahuan umum guna menerangi dan memajukan peradaban umat di sekitarnya.
Kehadiran utusan Mentan ke Ponpes Manahilil Ulum Kaballangang membawa angin segar bagi pengembangan sektor pertanian di lingkungan pesantren.
Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si. adalah seorang birokrat dan akademisi yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Hortikultura di Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Ia resmi dilantik pada akhir November 2025 setelah sebelumnya sempat mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) di posisi yang sama.
Taufiq menempuh seluruh jenjang pendidikan tingginya di bidang pertanian di kampus yang ada di Indonesia dan Malaysia.
Ia menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar pada tahun 1993, dengan meraih gelar Insinyur (Ir.) dari Fakultas Pertanian.
Jenjang Strata 2 di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1999 dengan Meraih gelar Magister Sains (M.Si.).
Kemudian Strata 3, ia menyelesaikan pendidikan Doktor (Dr.) di Universiti Putra Malaysia (UPM) pada tahun 2006 dengan fokus keahlian pada jurusan Teknologi Pasca Panen.
Kementerian Pertanian berkomitmen penuh mendukung kemajuan ekonomi pesantren di bawah naungan organisasi DDI.
Baca juga: Hadiri Silatnas Banom DDI, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif: Saya Alumni Tulen 1996
Pihak Kementerian Pertanian siap menyalurkan bantuan bibit tanaman hortikultura untuk seluruh pesantren DDI.
"Soal bantuan bibit nanti dibicarakan dengan Panitia," kata Dirjen Hortikultura Muhammad Taufiq Ratule saat doorstop dengan Tribun-timur.com di lokasi Silatnas, Minggu (5/7/2026).
Dirjen Hortikultura menegaskan komitmen pusat dalam mendukung kemandirian pangan berbasis komunitas keagamaan tersebut.
"InsyaAllah Mentan mendukung DDI," ujar Taufiq Ratule.
Sambutan Hangat Pimpinan Ponpes
Pimpinan Ponpes Manahilil Ulum Kaballangang Muhammad Rasyid Ridha Ambo Dalle menyambut sangat baik rencana program tersebut.
AG. Dr. H. Muhammad Rasyid Ridha Ambo Dalle adalah seorang ulama, akademisi, dan tokoh pendidikan Islam di Indonesia.
Ia dikenal aktif melanjutkan perjuangan dan menjaga warisan keilmuan sang ayah, AG. KH. Abdul Rahman Ambo Dalle, pendiri organisasi dan pondok pesantren Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI).
Anregurutta Rasyid Ridha Ambo Dalle, menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan tingginya S1, S2, dan S3 di universitas dalam negeri dengan fokus mendalam pada bidang Pendidikan Islam.
Jenjang Starata 1 nya diselesaikan di STAIN Parepare yang saat itu belum beralih menjadi IAIN dengan mengambil jurusan pendidikan Agama Islam.
Jenjang Starata 2 nya di selesaikan di Kampus IAIN Parepare dengan kembali mengambil Pendidikan Agama Islam.
Saat itu, ia menulis tesis ilmiah mengenai sejarah keteladanan sang ayah dalam mengembangkan pondok pesantren DD.
Kemudian Jenjang Starata 3 diselesaikan di UIN Alauddin Makassar.
"Beliau sangat merespon kegiatan ini," tutur Rasyid Ridha Ambo Dalle dengan penuh syukur.
Kementerian Pertanian sangat ingin membantu pesantren-pesantren yang memiliki lahan potensial untuk sektor hortikultura.
"Apalagi ingin membantu terutama pesantren-pesantren yang punya lahan untuk bisa dijadikan sebagai hortikultura," jelas Putra Bungsu AG. KH. Ambo Dalle ini.
Ponpes Manahilil 'Ulum Kaballangang sendiri saat ini masih memiliki area tanah kosong yang cukup luas.
"Nah, kebetulan kami pesantren ini masih ada tanah kosong sekitar 7 hektar," ungkap Rasyid Ridha.
Pihak kementerian merespon sangat positif ketersediaan lahan kosong milik pesantren di Sulawesi Selatan tersebut.
"Beliau sangat merespon baik bahwa insyaallah kita akan membantu pesantren," tambah Pimpinan Ponpes itu.
Program bantuan hortikultura ini nantinya tidak hanya berfokus pada satu pondok pesantren saja.
Bantuan pertanian dari pemerintah pusat ini akan menyasar seluruh jaringan pesantren Darud Da'wah wal Irsyad.
"Pesantren bukan hanya Kaballangang, tetapi semua pesantren di DDI yang ada di Indonesia, insyaallah," tegasnya.
Target utama program ini adalah meningkatkan produktivitas dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi internal pesantren.
"Bagaimana menjadikan apalagi lahan pertanian itu sebagai nilai tambah terhadap produktivitas daripada pesantren kami," katanya.
Pihak pondok pesantren juga telah menyerahkan berkas proposal resmi berupa nota kesepahaman kepada kementerian.
"Alhamdulillah tadi kami sudah berikan berupa proposal yang bentuknya MU," kata Rasyid Ridha Ambo Dalle.
Pihak Kementerian Pertanian berjanji akan segera memeriksa dan menindaklanjuti berkas usulan kerja sama tersebut.
"Dan beliau insyaallah akan menindak menindaklanjuti," ucap Rasyid Ridha optimis program segera berjalan.
Manajemen Ponpes Manahilil 'Ulum mengaku sudah menyiapkan seluruh infrastruktur pendukung untuk menyukseskan program pertanian.
"Nah, ini dia nih, alhamdulillah kami di pesantren ini sudah ada semua," cetus Rasyid.
Pesantren tidak berjalan sendiri melainkan turut merangkul masyarakat sekitar untuk menjadi tim ahli pertanian.
"Kami juga merangkul orang-orang yang ada di sekitar pesantren menjadi sebagai tim ahli dalam pertanian," pungkasnya.
DDI Basis Petani.
Darud Da'wah Wal Irsyad (DDI) tumbuh dan besar berbasis petani karena sejak awal kelahirannya di tanah Sulawesi Selatan, pesantren-pesantren DDI didirikan langsung di wilayah pedesaan yang menjadi pusat aktivitas agraris masyarakat setempat.
Kondisi sosiologis ini membuat para ulama pendiri DDI, terutama Anre Gurutta Haji (AGH) Abdurrahman Ambo Dalle, merancang sistem dakwah dan pendidikan yang sangat adaptif terhadap ritme kerja serta kalender kehidupan sehari-hari kaum tani.
Keterikatan yang kuat tersebut bertransformasi menjadi sebuah basis kultural di mana nilai-nilai keagamaan diajarkan tanpa menjauhkan masyarakat dari mata pencaharian utama mereka, melainkan justru memperkokoh etos kerja pertanian sebagai bagian dari ibadah.
Alhasil, loyalitas petani terhadap DDI tidak sekadar bersifat formal-organisatoris, melainkan telah mengakar menjadi identitas kultural yang diwariskan lintas generasi melalui jaringan surau dan madrasah di pelosok desa.(*)