TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – PSM Makassar segera mempersiapkan tim menyambut kompetisi 2026/2027.
Satu elemen perlu dikembalikan PSM Makassar adalah mental pemenang pemain.
Mentalitas yang kuat dan tangguh menjadi pemain tampil konsisten, serta menghadapi berbagai tekanan selama semusim ke depan.
Apalagi, dibarengi dengan nilai siri na pacce yang dipegang teguh oleh penggawa PSM Makassar.
Siri na pacce merupakan falsafah harga diri masyarakat Bugis-Makassar yang menjadi ruh permainan PSM Makassar.
Nilai ini menuntut pemain tampil spartan, pantang menyerah demi nama besar klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel).
Mentalitas pemenang dan siri na pacce ini perlu ditumbuhkan lagi kepada seluruh pemain PSM Makassar sebelum mengarungi kompetisi.
Pasalnya, dua hal tersebut memudar di kubu PSM Makassar pada Super League 2025/2026.
Dampaknya, hasil buruk ditorehkan. PSM Makassar menyudahi kompetisi di posisi 15 dengan 34 poin, tepat di atas zona degradasi.
Jika tertinggal gol lebih dulu musim lalu, Rasyid Bakri cs kesulitan membalikkan kedudukan, bahkan menyamakan skor saja kerepotan.
PSM Makassar cuma sekali comeback atas lawannya. Kala itu mempermalukan Persis Solo 3-4 pada pekan 14 Super League.
Justru, Laskar Ayam Jantan dari Timur empat kali mengalami remontada.
Yaitu, kalah 1-2 dari Arema FC pada pekan kesembilan, takluk dari Borneo Samarinda FC 1-2 pada pekan 16, menyerah 2-4 dari Persita Tangerang pada pekan 24 dan mengakui keunggulan Borneo Samarinda FC 1-2 pada pekan 28.
Selain itu, emosi pemain PSM Makassar musim lalu sering meledak.
Buntutnya, pelanggaran tidak perlu dilakukan berujung kartu kuning, bahkan ada sampai mendapatkan kartu merah.
PSM Makassar pun tercatat sebagai tim kedua paling banyak mengoleksi kartu kuning, sekira 92 kartu.
Untuk kartu merah ada tujuh dikantongi, sehingga berada di posisi empat tim terbanyak mendapat kartu merah.
Makanya, mentalitas pemenang dan siri na pacce harus dimiliki pemain PSM Makassar musim depan.
Mengingat dua kompetisi berbeda harus dihadapi, Super League dan League Cup.
Super League merupakan kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia yang menggunakan format kompetisi penuh dengan sistem promosi dan degradasi. Diikuti 18 klub.
Sedangkan League Cup adalah turnamen sepak bola dengan sistem gugur yang melibatkan 18 klub Super League dan 20 klub Champions Series.
Olehnya itu, penggawa Pasukan Ramang diharap bisa menunjukkan mental pemenang dan semangat pantang menyerah di dua kompetisi tersebut.
Meski pastinya tidak mudah, karena jadwal pertandingan semakin padat, perjalanan jauh harus ditempuh serta tekanan dari suporter harus dihadapi.
Situasi tersebut membuat aspek mental menjadi pekerjaan rumah yang tidak boleh diabaikan selama masa pramusim.
Kesiapan mental harus menjadi bagian dari program latihan, bukan sekadar pelengkap.
Sekretaris Jenderal The Macz Man Mustafa menyampaikan, dalam sepak modern dibutuhkan motivasi untuk menjaga mental pemain.
Menurutnya, kalau mental pemain rapuh, sejitu apapun strategi tak akan berjalan dengan baik.
Pemain tidak memberikan usaha maksimal.
Jadi selama pramusim, jangan hanya fokus menyiapkan taktik, lalu mengabaikan mental serta nilai-nilai Bugis-Makassar yang sejak lama ditanamkan di PSM Makassar.
“Kalau hanya perhatian tertuju ke taktik, sementara tidak ada yang bisa berikan asupan kepada mental pemain, akan sulit jadinya,” kata Mustafa saat dihubungi Tribun-Timur.com melalui sambunan telepon, Minggu (5/7/2026).
"Mental pemenang PSM Makassar ini harus dikembalikan oleh coach Darije," imbuhnya.
Ia melihat kembali hasil didapat tim kebanggaannya musim lalu. Mental pemain goyah, sehingga mudah tersulut emosi.
Tak ayal, banyak kartu kuning dan kartu merah diberikan kepada pemain.
“Endingnya merugikan tim, karena buruknya mental pemain,” ujarnya.
Perkenalkan Budaya Makassar
Mustafa menyebut, skuad PSM Makassar musim ini perlu diperkenalkan budaya Makassar.
Apalagi, hal serupa sudah dilakukan pada pertengahan November tahun lalu.
Seluruh pemain, pelatih, official tim mengunjungi Benteng Penyu atau yang lebih dikenal dengan nama Benteng Fort Rotterdam di Jl Ujung Pandang, Kelurahan Bulo, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Kamis (13/11/2025).
Kala itu, skuad PSM Makassar diperkenalkan dengan budaya angngaru.
Ritual adat suku Makassar merupakan sumpah atau ikrar sakral yang diucapkan prajurit kepada raja dengan suara yang lantang sebelum ke medan perang.
Selain itu ada tarian paraga.
Tarian ini atraksi keterampilan memainkan bola takraw dengan enam penari pria.
Gerakan dilakukan melambangkan kerjasama, semangat, dan kegigihan dalam menghadapi masalah.
Terakhir, akademisi Universitas Hasanuddin yang juga penulis Ramang Macan Bola, M Dahlan Abubakar menjelaskan sejarah PSM Makassar serta makna siri na pacce di hadapan pelatih, pemain dan official.
Mustafa menyebut, pengenalan budaya ini perlu dilakukan lagi ke skuad PSM Makassar sebelum mengarungi kompetisi.
Apalagi, pengamat sepak bola menyoroti kehilangan identitas permainan PSM Makassar musim lalu.
Tak ada permainan cepat, keras, tapi tidak kasar ditunjukkan musim lalu. Hal ini tak boleh terulang.
“Perlu pengenalan budaya muatan lokal lagi, saya rasa ini tak sampai menyita banyak waktu," kata Mustafa.
"Kita ingin semua pemain memahami nilai Bugis-Makassar yang dianut PSM Makassar, supaya mereka memberikan segalanya di pertandingan,” jelasnya. (*)