Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Sebuah video pertengkaran di dalam kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) viral di media sosial Instagram pada Minggu (5/7/2026).
Dalam video tersebut, tampak Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, terlibat adu mulut dengan seorang perempuan yang tengah mempersiapkan upacara adat Wilujengan Hajad Dalem Parangkusumo yang digelar kubu Pakubuwono (PB) XIV Purboyo.
Keduanya bahkan terlihat saling berebut karpet merah yang akan digunakan sebagai alas dalam prosesi adat tersebut.
Di sekitar lokasi, terlihat beberapa orang lain tengah merapikan perlengkapan upacara.
Baca juga: Sejarah SD Kasatriyan Solo: Dulu Jadi Sekolah Elit Kerabat Dalem Keraton, Kini Kekurangan Murid
Beberapa saat kemudian, suami Gusti Moeng yang juga Ketua Eksekutif LDA, KPH Eddy Wirabhumi, terlihat berusaha melerai.
Tidak lama berselang, salah satu kakak perempuan PB XIV Purboyo, GKR Sekarjati atau Gusti Devi Leylana Dewi, juga tampak merekam kejadian tersebut.
Terkait insiden itu, juru bicara PB XIV Purboyo, KPA Singonagoro, membenarkan adanya pertengkaran tersebut.
Ia menjelaskan bahwa peristiwa bermula saat Bupati Estri, Anna Mujirahayu, tengah menyiapkan perlengkapan upacara di kawasan Sasana Parasediyo Keraton Solo sekitar pukul 09.30 WIB.
“Sebetulnya dari pagi sudah ada slentinfan-slentingan bahwa termasuk salah satunya Gusti Moeng itu tidak akan membukakan pintu Kamandungan. Akhirnya puncaknya sekira pukul 09.30 WIB, Mbak Anna, Bupati Estri-nya Sinuhun itu mau menatap sajen dan juga tempat untuk Wilujengan Hajad Dalem Parangkusumo,” ungkap Singonagoro.
“Di situ, Mbak Anna ketemu dengan Gusti Moeng dan Gusti Moeng sesuai dengan di video itu sempat ngata-ngatain segala macam itu, terus sempat ngosak-asik karpet yang mau dipakai Wilujengan di Sasana Parasediyo,” lanjutnya.
Baca juga: Sekolah Keraton Solo Berguguran, Sentono Dalem Khawatir SD Kasatriyan Susul SMA Murni dan SD Pamardi
Singonagoro menambahkan, situasi kemudian memanas hingga terjadi adu mulut antara kedua pihak.
“Memang dari pihak kita itu tidak pernah ngrusuhi mereka atau menghalang-halangi acara mereka. Lha tiba-tiba Gusti Moeng kembali berulah seperti itu akhirnya mbak Anna juga jengkel dan sempat adu mulut berdebat di situ dan akhirnya mbak Anna sempat memanggil Kanjeng Wira (KPA Eddy Wirabhumi) untuk nuturi istrinya agar tidak melakukan hal-hal seperti itu. Akhirnya Gusti Moeng dan Kanjeng Wira diajak turun itu,” urai dia.
Akibat insiden tersebut, rangkaian upacara adat dilaporkan sempat tertunda sekitar satu jam.
“Ya acaranya sempat tertunda, kurang lebih kita molor sampai satu jam dari jam yang ditentukan. Jadi kita agak siangan berangkatnya ke Pantai Parangkusumo akhirnya,” sebut Singonagoro.
Ia juga menyebut rombongan abdi dalem harus melewati jalur berbeda karena pintu utama Kori Kamandungan tidak dibuka usai insiden tersebut.
“Kami tidak dibukakan pintu Kamandungan tengah, seperti yang sudah-sudah itu kan kami biasanya kan memang kalau utusan dalem itu kan harus lewat pintu yang tengah. Akhirnya kita lewat samping, karena pada prinsipnya kita kan mau menjaga marwah Keraton. Jadi kami tadi menyayangkan dengan adanya sikap Gusti Moeng yang terus-terusan dengan kita,” kata dia.
Singonagoro turut membenarkan bahwa GKR Sekarjati atau Gusti Devi juga sempat terlibat adu mulut dalam peristiwa tersebut.
“Iya tadi Gusti Kanjeng Ratu Sekarjati ada di situ. Memang bersama-sama dengan Mbak Anna mengurusi itu, dan tadi sempat adu mulut,” jelasnya.
Ia pun menyayangkan insiden tersebut dan menilai sikap yang terjadi tidak mencerminkan tokoh adat Keraton Solo.
(*)