Ribuan KK Terdampak Kekeringan, BPBD Bangkalan Distribusikan 300 Ton Air Bersih
Samsul Arifin July 05, 2026 10:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Ahmad Faisol

TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN - Musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. 

Hingga pekan pertama Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan telah menyalurkan 300.000 liter atau 300 ton air bersih kepada warga di 20 desa.

Puluhan desa tersebut tersebar di empat kecamatan, yakni Tanah Merah, Kokop, Modung, dan Kwanyar. Bantuan air bersih disalurkan setelah BPBD menerima surat permohonan dari kecamatan yang wilayahnya mulai terdampak kekeringan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bangkalan, Arif Rachman Surya Atmaja, mengatakan jumlah bantuan air bersih masih dapat bertambah. Penyaluran dilakukan menyesuaikan kebutuhan dan permohonan dari masing-masing kecamatan.

“Total liter untuk kegiatan droping air bersih untuk sementara sebanyak 300 ribu liter, menyesuaikan permintaan dari kecamatan. Ada kecamatan yang belum mengirim data permohonan bantuan air bersih karena mungkin debit ketersediaan air masih ada,” ungkap Arif kepada Tribun Madura, Minggu (5/7/2026).

Pemerintah Kabupaten Bangkalan sebelumnya memprioritaskan 29 desa di enam kecamatan sebagai wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan. Namun, hingga saat ini baru 20 desa dari empat kecamatan yang secara resmi mengajukan permohonan bantuan air bersih.

Baca juga: Penyebab Kecelakaan Beruntun di Suramadu Bangkalan, Tak Ada Bekas Rem, Sopir Bus Alami Micro Sleep

BPBD Bangkalan Mulai Droping Air Bersih

Penyaluran bantuan air bersih dimulai pada Jumat (3/7/2026). BPBD Bangkalan memberangkatkan tiga truk tangki dari Mako BPBD Bangkalan di Jalan Trunojoyo, Kelurahan Pejagan.

Setiap truk tangki memiliki kapasitas 5.000 liter air. Pada tahap awal, bantuan air bersih disalurkan ke dua desa di Kecamatan Tanah Merah, yakni Desa Padurungan dan Desa Pangeleyan.

Di Kecamatan Tanah Merah, warga terdampak kekeringan tercatat berada di empat desa. Rinciannya, Desa Padurungan sebanyak 402 kepala keluarga atau KK, Desa Pacentan 405 KK, Desa Pangeleyan 250 KK, dan Desa Kranggan Barat sebanyak 500 KK.

Ribuan KK di Kecamatan Kokop Ajukan Bantuan Air Bersih

Kecamatan Kokop menjadi salah satu wilayah dengan jumlah warga terdampak kekeringan paling banyak. Sebanyak 11 desa di kecamatan tersebut mengajukan kebutuhan pasokan air bersih.

Desa Bandasoleh tercatat memiliki 1.281 KK terdampak dengan usulan 50 tangki air. Desa Bandang Laok memiliki 1.771 KK dengan usulan 63 tangki, sedangkan Desa Tramok memiliki 1.737 KK dengan usulan 55 tangki.

Selanjutnya, Desa Katol Timur mencatat 2.100 KK terdampak dengan usulan 65 tangki. Desa Durjan memiliki 3.405 KK dengan usulan 75 tangki, Desa Kokop 1.022 KK dengan usulan 50 tangki, serta Desa Tlokoh 2.652 KK dengan usulan 35 tangki.

Desa Manoan mengajukan bantuan untuk 2.456 KK dengan usulan 25 tangki. Kemudian Desa Dupok memiliki 2.200 KK terdampak dengan usulan 20 tangki, Desa Lembung Gunong 704 KK dengan usulan 50 tangki, dan Desa Mandung 1.770 KK dengan usulan 25 tangki.

“Sementara desa di Kecamatan Modung yang mengusulkan bantuan air bersih meliputi Desa Saplasah, Desa Gunilap, Desa Kelbung, dan Desa Klapayan dengan masing-masing mengusulkan lima tangki air bersih. Usulan dari Kecamatan Kwanyar hanya warga di Desa Morombuh,” papar Arif.

Puncak Musim Kemarau Diprediksi Juli-Agustus

BPBD Bangkalan menyebut masa peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau atau pancaroba mulai terjadi sejak Mei hingga Juni 2026.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026. Dampak kekeringan diprediksi dapat berlangsung hingga September.

“Dampak kekeringan musim kemarau diprediksi BMKG hingga September, kalau El Nino sudah lewat sebenarnya karena kita masih ada hujan meski intensitasnya sudah jarang,” pungkas Arif.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.