POS-KUPANG.COM- Salah satu alumni Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBIPK UB)/ dahulu Fakultas Pertanian, kini dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Perdana Menteri Timor Leste. Dia adalah Mariano Assanami Sabino Lopes, alumni Program Studi S1 Hama dan Penyakit Tumbuhan angkatan 1991.
Perjalanan Mariano menuju kursi pemerintahan tidaklah instan. Di balik jabatan strategis yang kini diembannya, terdapat kisah perjuangan panjang yang ditempa sejak menjadi mahasiswa di UB. Baginya, UB bukan sekadar tempat memperoleh gelar akademik, melainkan ruang yang membentuk karakter, kedisiplinan, ketangguhan, serta kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Universitas ini tidak hanya tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk manusia yang ulet, serius, disiplin, dan mampu mengimplementasikan ilmunya. Bekal yang saya peroleh di Brawijaya masih sangat relevan untuk membangun Timor Leste hingga hari ini,” ungkap Mariano.
Baca juga: Mengenal Sejarah Terbentuknya Timor Leste, Diduduki Portugal Hingga Pisah Dari Indonesia
Namun, di saat yang sama, ia juga memikul tanggung jawab besar sebagai pemimpin gerakan mahasiswa Timor Leste yang memperjuangkan kemerdekaan negaranya. Hampir 80 persen waktunya dihabiskan untuk aktivitas organisasi, diskusi, hingga perjuangan politik, sehingga ia harus bekerja ekstra keras membagi waktu antara perkuliahan dan perjuangan.
Kondisi tersebut membuat perjalanan akademiknya penuh tantangan. Ia mengaku pernah mengalami kesulitan mengikuti berbagai mata kuliah laboratorium seperti bakteriologi, virologi, nematologi, hingga ilmu-ilmu dasar lainnya. Bahkan, penelitian skripsinya mengenai pengendalian penyakit akar gada sempat mengalami kegagalan sehingga membuatnya hampir menyerah.
“IP saya pas-pasan. Saya hampir memutuskan untuk drop out karena gerakan yang saya jalani sangat berat dan waktu untuk kuliah tidak cukup. Namun saya berpikir bahwa gelar tetap penting dan harus saya selesaikan,” kenangnya.
Baca juga: Timor Leste dan Vietnam Akan Berkolaborasi di Bidang Hukum dan Keadilan
Di tengah berbagai kesulitan itu, Mariano merasakan besarnya perhatian dari para dosen Fakultas Pertanian UB. Ia mengenang sosok almarhum Pak Kolil, Prof. Rasmina, dan Prof. Abdul Latief Abadi sebagai dosen yang tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi pembimbing yang memahami kondisi mahasiswanya.
Menurut Mariano, Pak Kolil menjadi salah satu dosen yang paling dekat dengannya. Saat penelitian lapangannya mengalami kendala, Pak Kolil memberikan solusi agar penelitian dapat dialihkan ke laboratorium sehingga proses penyelesaian skripsinya menjadi lebih efektif. Sementara itu, Prof. Rasmina banyak memberikan nasihat dan motivasi agar dirinya tetap fokus menyelesaikan pendidikan meskipun di luar kampus ia aktif memperjuangkan kemerdekaan Timor Leste.
“Pak Kolil memahami persoalan yang saya hadapi dan selalu membantu mencarikan solusi. Prof. Rasmina juga banyak memberikan nasihat kepada saya. Mereka tidak menghakimi aktivitas saya, tetapi memahami situasi yang saya alami dan tetap mendorong saya untuk lulus,” tuturnya.
Selain para dosen, Mariano juga mengaku sangat terkesan dengan solidaritas teman-teman mahasiswa Fakultas Pertanian. Sebagai satu-satunya mahasiswa asal Timor Leste di angkatannya, ia sempat merasa canggung ketika pertama kali datang ke Malang. Namun seiring waktu, ia diterima dengan baik oleh lingkungan kampus.
Ia mengenang bagaimana teman-temannya selalu membantu ketika dirinya mengalami kesulitan, baik dalam perkuliahan maupun kehidupan sehari-hari. Bahkan, pemilik rumah kos tempat ia tinggal memperlakukannya seperti anak sendiri. Menurutnya, kepedulian masyarakat Malang menjadi pengalaman yang tidak pernah ia lupakan.
Pengalaman hidup sebagai mahasiswa di Malang juga membentuk cara pandangnya dalam memimpin. Mariano menilai tugas-tugas yang berat, jadwal praktikum yang padat, serta tuntutan akademik yang tinggi justru melatih ketahanan mental dan kemampuan mencari solusi dari setiap persoalan.
Menurutnya, ketika kemudian dipercaya menjadi Menteri Pertanian Timor Leste selama tujuh setengah tahun, anggota parlemen, hingga kini menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, berbagai tantangan tersebut terasa lebih mudah dihadapi karena telah ditempa sejak menjadi mahasiswa di UB.
“Brawijaya membekali kami untuk menghadapi masalah dengan berbagai alternatif solusi. Ketika solusi pertama tidak berhasil, kita belajar mencari solusi berikutnya. Cara berpikir seperti itu sangat berguna dalam kehidupan, organisasi, maupun pemerintahan,” ujarnya.
Meski telah lama meninggalkan bangku kuliah, Mariano mengaku masih mengikuti perkembangan UB. Ia melihat banyak perubahan, mulai dari pembangunan infrastruktur kampus yang semakin modern hingga fasilitas pembelajaran yang semakin lengkap. Namun demikian, ia berharap nilai-nilai yang dahulu menjadi kekuatan UB, seperti budaya kerja keras, kedisiplinan, dan semangat belajar, tetap dipertahankan oleh generasi mahasiswa saat ini.
Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kemampuan berpikir, bukan justru membuat mahasiswa bergantung pada kemudahan yang tersedia.
“Teknologi memang mempermudah banyak hal, tetapi jangan sampai membuat kemampuan berpikir menjadi lemah. Pendidikan pada dasarnya adalah mempertajam cara berpikir dan membentuk karakter,” pesannya.
Mariano memberikan pesan kepada mahasiswa UB agar memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin, tidak hanya untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga mengembangkan kepemimpinan, kemampuan berorganisasi, dan kepedulian terhadap masyarakat.
“Terimalah ilmu sebanyak-banyaknya, aktiflah berorganisasi, dan jadilah pejuang. Tantangan yang kalian hadapi selama kuliah akan menjadi bekal berharga ketika memimpin masyarakat di masa depan,” pungkasnya.