Miliarder Pemburu 'Hidup Abadi' Kena Autoimun, Sebut Lambungnya Makan Diri Sendiri
GH News July 06, 2026 09:08 AM
Jakarta -

Bryan Johnson, pengusaha teknologi kawakan yang viral karena menghabiskan jutaan dolar AS per tahun demi proyek memperlambat penuaan tubuh, membawa kabar mengejutkan. Pria berusia 48 tahun ini mengumumkan bahwa ia didiagnosis mengidap Autoimmune Gastritis (AIG), sebuah kondisi kronis ketika sistem kekebalan tubuh menyerang dinding lambungnya sendiri.

"Kabar buruk pertama: Saya mengidap penyakit autoimun. Lambung saya memakan dirinya sendiri," tulis Bryan Johnson di akun media sosialnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi ini diidap oleh sekitar 2 hingga 5 persen populasi dunia, bahkan bisa lebih tinggi karena gejalasnya sering kali tersembunyi dan sulit dideteksi sejak awal.

Misteri Kekurangan Zat Besi Selama 10 Tahun

Johnson menceritakan bahwa riwayat medisnya bermula sejak ia didiagnosis menderita hipotiroidisme pada usia 21 tahun. Namun, selama lebih dari satu dekade terakhir, tim dokter dibuat bingung karena kadar feritin (cadangan zat besi) di tubuh Johnson terus-menerus rendah, meskipun ia sudah menerapkan diet ketat dan suplemen dosis tinggi.

Titik terang baru muncul ketika tim medisnya melakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan protokol kesehatan senilai 1 juta dolar AS miliknya. Setelah melalui prosedur kolonoskopi, endoskopi lambung, analisis biomarker darah, hingga beberapa kali biopsi jaringan, tim dokter mendeteksi adanya antibodi sel anti-parietal yang tinggi.

Penyakit Autoimmune Gastritis sendiri terjadi ketika imun tubuh merusak sel-sel lambung yang bertugas memproduksi asam lambung dan faktor intrinsik (protein penyerap vitamin B12). Jika dibiarkan bertahun-tahun tanpa gejala, penyakit ini bisa memicu anemia parah hingga meningkatkan risiko kanker lambung.

Menurut Johnson, penyakit ini sering kali lolos dari pemeriksaan medis standar karena dokter biasanya baru curiga ketika pasien sudah mengalami anemia.

"Petunjuk paling awal, yaitu feritin rendah, sering kali diabaikan oleh dunia kedokteran standar. Cadangan zat besi yang rendah dianggap normal dan jarang diselidiki jika anemia belum muncul. Titik buta itulah yang menyembunyikan penyakit saya selama satu dekade," tegasnya.

Siapkan Prosedur Eksperimental

Saat ini, kekurangan zat besi dalam tubuh Johnson telah diatasi melalui infus zat besi intravena sebesar 1.000 mg. Ke depannya, ia berencana melakukan pemantauan ketat serta riset eksperimental untuk melawan penyakit ini. Protokol tersebut akan melibatkan biopsi berulang, profil sistem imun, hingga terapi sel buatan (engineered cell therapies).

Pengusaha yang populer lewat proyek penuaan dini "Blueprint" ini memanfaatkan diagnosisnya untuk mengingatkan publik agar lebih proaktif dalam memantau kesehatan. Ia menegaskan bahwa hilangnya gejala bukan berarti tubuh dalam kondisi sepenuhnya sehat.

Kita sering menghabiskan hari-hari untuk hal-hal sepele jika dibandingkan dengan apa yang sebenarnya kita pedulikan. Namun jauh di lubuk hati, kita tahu bahwa di tengah semua kebisingan ini, kesehatan sangat mudah dilupakan sampai akhirnya itu menjadi satu-satunya hal yang paling berarti," pungkas Johnson.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.