TRIBUNSTYLE.COM - Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang sangat keji kembali terjadi di tanah air.
Kali ini, nasib malang menimpa seorang wanita berinisial MAN, yang berstatus sebagai istri siri dari seorang oknum anggota kepolisian di Tegal, Jawa Tengah, berinisial Aiptu N.
Korban menderita luka bakar yang sangat parah, hingga mencapai 47 persen di sekujur tubuhnya, setelah disiram air keras secara sadis oleh pelaku.
Namun, penderitaan fisik akibat siraman zat kimia tersebut rupanya hanyalah puncak gunung es dari rentetan kisah kelam dan fakta mengejutkan yang selama ini tersembunyi.
Belakangan terkuak bahwa selama hidup bersama Aiptu N, MAN harus melewati hari-hari yang penuh dengan intimidasi dan penderitaan.
Di bawah tekanan sang suami siri, ia dipaksa untuk meracik narkotika jenis sabu.
Lantaran tidak memiliki keahlian dalam mengolah zat terlarang tersebut, MAN diduga melakukan sebuah kesalahan teknis.
Hal sepele itulah yang kemudian menyulut kemarahan besar Aiptu N hingga ia tega melakukan aksi penyiraman air keras kepada korban.
Kebejatan pelaku tidak berhenti sampai di situ. Ketika korban yang merintih kesakitan dilarikan ke rumah sakit, Aiptu N dengan dingin menyusun skenario palsu demi menutupi aksi kriminalnya.
Kepada tim medis, oknum polisi ini berbohong dengan menyebutkan bahwa luka bakar di tubuh istrinya adalah akibat dari ledakan tabung gas.
Menilik lebih dalam ke masa lalu, penderitaan MAN ternyata jauh lebih kompleks. Ia ternyata juga menjadi korban penyimpangan seksual dari pelaku.
Tragisnya, korban sama sekali tidak berdaya untuk melarikan diri atau mencari pertolongan karena pelaku yang memasang kamera pengawas (CCTV) di setiap sudut rumah.
Baca juga: Lebih Kejam dari Kasus YTR, Hotman Paris Turun Tangan Bela Wanita yang Disekap Oknum Aparat
Melalui podcast Curhat Bang Denny Sumargo yang dikutip Tribunsumsel pada Senin (6/7/2026), kuasa hukum MAN, Reza, mengungkapkan secara detail penderitaan kliennya selama ini.
Selain kekerasan fisik, korban ternyata mengalami penyiksaan psikologis yang sangat berat selama hampir tiga tahun.
Reza mengungkapkan bahwa kliennya menjadi korban penyimpangan seksual yang ekstrem dari pelaku.
Ruang gerak korban pun sepenuhnya dibatasi karena setiap sudut rumah pelaku dipasang kamera pengawas.
"Setiap kamar ada (CCTV), jadi semua direkam. Bahkan anaknya terduga pelaku pun tahu, mengancam, mau disebarin apalah itu," tambah Reza.
Kondisi ini membuat korban terisolasi secara mental. Di satu sisi ia tidak bisa mencari pertolongan, dan di sisi lain ia harus menelan kenyataan pahit bahwa suami sirinya ternyata masih berstatus sebagai suami sah dari wanita lain.
Setelah dilakukan pengecekan latar belakang secara hukum, Reza memastikan pelaku merupakan anggota kepolisian aktif.
"Memang dari luar tidak kelihatan, tapi dari dalam itu habis," tegasnya.
Baca juga: Dukungan Netizen untuk Hotman Paris Dalam Kasus Wanita yang Disekap Oknum Aparat Selama 2,5 Tahun
Reza menjelaskan bahwa insiden penyiraman ini bermula dari paksaan pelaku yang meminta korban untuk meracik narkoba jenis sabu.
Karena belum ahli, korban diduga melakukan kesalahan yang memicu kemarahan oknum polisi tersebut.
"Jadi diduga sih kalau kata pihak rumah sakit itu kan disiram air keras dari salah satu bahan untuk meracik sabu. Korban ini kan akhirnya diajarin untuk meracik sabu itu sendiri," ungkap Reza.
Ketika proses meracik berlangsung, pelaku sengaja menyalakan api dalam ukuran yang cukup besar hingga membuat korban ketakutan.
"Karena baru kan mungkin ada kesalahan atau apa, jadi oknum polisi terduga pelaku ini marah. Jadi kayak menyalakan api agak besar gitu kan, terus korban takut kena api, dia mungkin bilang apa, sampai akhirnya air keras itu diambil dan disiramin ke korban," lanjut Reza.
Usai melancarkan aksi kejinya, oknum polisi tersebut langsung bergerak cepat untuk menghilangkan jejak dan menyembunyikan barang bukti di lokasi kejadian.
Ia kemudian membawa korban ke rumah sakit bersama seorang rekannya dengan menyebarkan alibi palsu.
"Sampai di rumah sakit bilangnya ada ledakan tabung gas. Tapi ketika bilang ke keluarga katanya karena kecelakaan motor," jelas Reza.
Meskipun telah menyiapkan skenario, alibi pelaku langsung dipatahkan oleh tim medis.
Pihak rumah sakit menaruh kecurigaan besar karena karakteristik luka akibat siraman cairan kimia (air keras) menunjukkan pola yang sangat berbeda dengan luka akibat ledakan tabung gas.
Reza menegaskan bahwa luka bakar parah tersebut murni akibat zat kimia berbahaya, bukan karena hawa panas api.
Akibat kerusakan kulit yang sangat masif, tim medis bahkan harus mengambil jaringan daging dari paha korban untuk melakukan operasi cangkok kulit.
(TribunStyle.com)(TribunSumsel.com/Putri Kusuma Rinjani)