Kotim Mulai Dilanda Kemarau, Halikinnor Ingatkan Warga Tak Buka Lahan dengan Cara Membakar
Pangkan Banama Putra Bangel July 06, 2026 04:19 PM

 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. 

Cuaca yang semakin panas dan intensitas hujan yang terus menurun menjadi sinyal agar seluruh elemen masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Bupati Kotim, Halikinnor, mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. 

Baca juga: HNR Cup 2 2026 Resmi Ditutup, Bhayangkara FC Mentaya Juara di Stadion 29 Nopember Sampit

Baca juga: Isak Tangis di Pemakaman Aiptu Sumariyanto, Almarhum Terima Kenaikan Pangkat Ipda Anumerta

Baca juga: 3 Polisi Gugur Saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan, Dansat Brimob Polda Kalteng Siap Backup

Menurutnya, kondisi cuaca saat ini membuat api sangat mudah menyebar, terlebih sebagian besar wilayah Kotim merupakan lahan gambut yang sulit dipadamkan apabila sudah terbakar.

"Ini memang sudah memasuki musim kemarau sesuai prakiraan cuaca. Bahkan panas yang kita rasakan sekarang luar biasa. Karena itu saya mengimbau masyarakat, terutama yang masih melakukan penggarapan lahan, agar tidak membuka lahan dengan cara membakar," ujar Halikinnor, Senin (6/7/2026).

Ia mencontohkan kebakaran yang terjadi di kawasan sekitar Bandara H Asan Sampit pada malam sebelumnya. 

Meski luas areal yang terbakar tidak terlalu besar, proses pemadaman tetap membutuhkan upaya yang tidak mudah.

"Kemarin malam saja ada kebakaran di dekat bandara. Dengan lokasi yang tidak begitu luas saja kita sudah setengah mati memadamkannya. Bayangkan kalau apinya sampai meluas," ucapnya.

Tak hanya mengingatkan soal pembukaan lahan, Halikinnor juga meminta masyarakat lebih berhati-hati terhadap potensi kebakaran di kawasan permukiman. 

Penggunaan instalasi listrik maupun aktivitas yang menggunakan api, seperti tungku atau kayu bakar, diminta lebih diperhatikan agar tidak memicu kebakaran.

Menurutnya, pencegahan harus dilakukan sejak dini karena dampak kebakaran tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengganggu kehidupan masyarakat secara luas.

"Kalau sudah terjadi kebakaran besar, apalagi di lahan gambut, akan sangat sulit dipadamkan. Asapnya nanti bisa mengganggu kesehatan, pendidikan, transportasi, bahkan berdampak terhadap perekonomian secara keseluruhan," jelasnya.

Selain masyarakat, Halikinnor juga meminta perusahaan-perusahaan besar, khususnya perkebunan swasta, ikut berperan aktif apabila menemukan titik api di sekitar wilayah operasionalnya.

Ia berharap perusahaan dapat segera membantu masyarakat dan petugas melakukan pemadaman sebelum api membesar.

"Saya juga mengimbau perusahaan-perusahaan besar, termasuk PBS, apabila terjadi kebakaran di sekitar wilayahnya agar bersama-sama membantu memadamkan api sebelum meluas. Jangan menunggu sampai kebakaran menjadi besar," tegasnya.

Halikinnor mengajak seluruh masyarakat menjadikan pencegahan sebagai langkah utama menghadapi musim kemarau tahun ini.

"Lebih baik kita berjaga daripada harus menghadapi kebakaran besar yang dampaknya bisa merugikan semua aspek kehidupan," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.