TRIBUNAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Kenaikan harga kebutuhan pokok di Manokwari beberapa waktu terakhir berdampak langsung pada menurunnya daya beli masyarakat.
Hal ini diungkapkan Ria, salah satu Pedagang di Pasar Wosi Manokwari. Ia mengaku omzet penjualan mereka terus merosot akibat kondisi tersebut.
"Harga barang sekarang naik, tetapi pembeli justru semakin berkurang. Kami beli barang dengan harga mahal, tetapi kalau dijual terlalu mahal tidak ada yang beli. Kalau dijual murah kami juga takut rugi," ujarnya, Senin (6/7/2026).
Dampak Kenaikan Harga
Ria menuturkan, sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga cukup signifikan, di antaranya:
Menurutnya, lonjakan harga ini membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam berbelanja, sehingga transaksi di pasar menurun drastis.
Baca juga: Harga Cabai Rawit Tembus Rp 95 Ribu per Kg di Pasar Wosi, Ini Pemicunya
Ia menduga kenaikan harga dipicu oleh konflik internasional yang berdampak pada naiknya harga BBM.
Omzet Penjualan Terjun Bebas
Pedagang membandingkan kondisi usaha dengan tahun-tahun sebelumnya.
Pada 2024, aktivitas jual beli di Pasar Wosi masih ramai dengan omzet harian mencapai Rp3 juta.
Namun sejak 2025 hingga pertengahan 2026, pendapatan terus menurun.
"Tahun 2024 itu penghasilan kita mencapai Rp3 juta per hari, sekarang hasilnya tidak sampai segitu. Malah sehari paling tinggi hanya Rp1 juta," ungkapnya.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan pokok agar daya beli masyarakat kembali meningkat.
"Kami berharap Bapak Presiden Prabowo Subianto bisa melihat kondisi yang kami alami sekarang. Semoga ada solusi agar harga-harga kembali stabil dan perekonomian masyarakat bisa kembali normal," harapnya.