TRIBUNMATARAMAN.COM - Inilah deretan fakta baru dari kasus kecelakaan Sugeng Rahayu yang terjebur di Sungari Bagor Nganjuk.
Diketahui Kronologi kecelakaan Bus Sugeng Rahayu vs truk di Jalan Raya Bagor, Desa Paron, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (4/7/2026), terus menjadi sorotan.
Polisi telah mengungkap penyebab kecelakaan, sementara muncul perbedaan versi antara hasil olah TKP, keterangan kondektur, dan kesaksian penumpang.
Berikut empat fakta terbaru kecelakaan Bus Sugeng Rahayu yang menyebabkan 27 orang terluka.
Baca juga: Diperiksa Kejari Terkait Korupsi, Ini LHKPN Sekda Nganjuk Nur Solekan Punya Harta Rp 2 Milyar Lebih
1: Polisi Sebut Truk Terlalu ke Kanan Saat Menyalip di Tikungan
Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) Satlantas Polres Nganjuk menyebut kecelakaan dipicu dump truk yang mengambil jalur terlalu ke kanan saat mendahului kendaraan lain di jalan menikung.
Akibatnya, truk bertemu Bus Sugeng Rahayu dari arah berlawanan sehingga kedua pengemudi sama-sama berusaha menghindar sebelum akhirnya terjadi benturan.
"Truk berjalan terlalu ke kanan di tikungan. Bersamaan dengan itu dari arah berlawanan timur ke barat melaju bus Sugeng Rahayu Nopol W 7571 UP yang dikemudikan BR," kata Kanit Gakkum Satlantas Polres Nganjuk, Ipda Wahby Irfan Izzudin.
2: Kondektur Tegaskan Sopir Bus Sudah Mengerem dan Banting Setir
Kondektur Bus Sugeng Rahayu, Herman, memiliki versi berbeda dengan sejumlah penumpang. Menurutnya, bus melaju dengan kecepatan sedang dan sopir sudah berusaha menghindari tabrakan ketika truk masuk ke jalur berlawanan.
Meski telah mengerem dan membanting setir ke kiri, benturan tetap terjadi hingga bus akhirnya tercebur ke sungai.
"Truk makan marka jalan. Sopir bus sudah mengerem banting setir ke kiri tetap tertabrak. Kemudian, bus tercebur ke sungai," ujar Herman.
3: Penumpang Menilai Bus Sudah Ngebut Sejak Berangkat dari Surabaya
Kesaksian penumpang justru berbeda. Nurul (32), yang duduk tepat di belakang sopir bersama anaknya, mengaku bus sudah melaju kencang sejak berangkat dari Surabaya.
Ia mengaku merasa waswas karena sopir beberapa kali menyalip kendaraan lain dan dinilai enggan mengalah di jalan.
"Bus ngebut atau ngeblong sejak dari Surabaya. Seperti tidak mau mengalah. Tidak mau kalau ada kendaraan lewat di samping atau menyalipnya. Saya waswas," kata Nurul.
4: Seluruh Korban Didominasi Penumpang Bus dan Dijamin Jasa Raharja
Sebanyak 27 korban luka telah dievakuasi ke RSUD Nganjuk dan RS Bhayangkara Nganjuk. Berdasarkan pendataan Jasa Raharja, mayoritas korban merupakan penumpang bus dengan kondisi luka ringan.
Seluruh penumpang yang menjadi korban dipastikan mendapatkan perlindungan dari Jasa Raharja.
"Kebanyakan korban luka ringan. Kami pastikan penumpang bus yang jadi korban dalam jaminan Jasa Raharja," kata perwakilan Jasa Raharja, Muhammad Rifan Hadinata.
(TribunMataraman.com/Danendra Kusuma)