BANGKAPOS.COM, BANGKA — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melakukan skrining atau pengecekan kondisi kesehatan kepada ratusan masyarakat dalam rangka deteksi dini penyakit malaria.
Kegiatan skrining tersebut dilakukan difokuskan kepada masyarakat Dusun Jebu Laut, Kecamatan Parittiga.
Skrining telah dimulai pada Jumat (3/7/2026) lalu dan kembali dilanjutkan hari ini Senin (6/7/2026).
Pelaksanaan skrining dilakukan dengan melibatkan Pemerintah Kecamatan Parittiga, UPTD Puskesmas setempat, pihak desa dan dusun serta kerjasama dari instansi-instasi lainnya.
Diketahui, Dusun Jebu Laut menjadi salah satu daerah penyumbang kasus malaria yang cukup tinggi di Kecamatan Parittiga, bahkan di Kabupaten Bangka Barat.
Camat Parittiga, Adhian Zulhajjany Elpurba mengatakan kasus malaria tersebut banyak terjadi di Dusun Jebu Laut, tepatnya di kawasan permukiman pada kamp-kamp penambang.
“Skrining difokuskan di Jebu Laut karena penyumbang terbesar untuk peningkatan kasus malaria di Bangka Barat,” kata Adhian.
Total ada sekitar 386 orang warga di Dusun Jebu Laut yang telah menjalani proses skrining selama kurang lebih 2 hari tersebut.
“Hari ini proses skrining nya agak kurang efektif karena terkendala hujan deras. Mungkin akan dilanjutkan di lain hari dan datanya akan terus di update nanti,” jelasnya.
Lanjut dia, proses skrining tersebut dilakukan kepada warga dari rumah-rumah untuk diperiksa kondisi kesehatannya.
Selain itu, dilakukan juga penyemprotan bubuk larvasida pada dinding-dinding rumah warga untuk mematikan nyamuk anopheles atau nyamuk pembawa malaria.
“Kita juga sosialisasi dan mengajak gotong-royong untuk bersih-bersih lingkungan dari sampah,” imbuhnya.
Angka penderita penyakit malaria di Kabupaten Bangka Barat pada tahun 2026 mengalami peningkatan tajam dari tahun-tahun sebelumnya.
Hal ini diketahui dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat. Dari data terbaru Januari-Juni 2026, angka kasus malaria sebanyak 26 kasus.
Sedangkan pada tahun 2025 hanya ada 11 kasus dan tahun 2024 hanya ada 6 kasus. Demikian yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Bangka Barat, dr. Ratnosoppi.
Kendati terjadi peningkatan, dia menyebut bahwa sampai saat ini Kabupaten Bangka Barat belum pernah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Bangka Barat belum pernah tercatat menetapkan KLB Malaria sampai dengan saat ini,” kata dia, Senin (8/6/2026).
Dia menyebut, penyakit malaria dapat menyerang semua usia, mulai bayi sampai usia lanjut atau lansia. Begitu pun pada kasus yang terjadi di Bangka Barat dimana penderitanya bervariatif pada semua semua usia.
“Tapi dari data yang terbanyak pada usia remaja dan dewasa, ini dikarenakan pada usia tersebut melakukan aktivitas pekerjaan dan bermukim di kawasan penambangan timah Masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ditanyai soal titik atau lokasi yang banyak penyebaran malaria, dr. Ratno mengatakan bahwa yang paling banyak di di Kecamatan Parittiga.
Beberapa di antaranya seperti Dusun Penganak Desa Air Gantang dan Dusun Jebu Laut Desa Kelabat.
“Hal itu terjadi dikarenakan daerah tersebut merupakan aktivitas terbanyak penambangan timah darat/laut sehingga masyarakat pendatang bermukim di area tersebut,” ungkapnya.
Menyikapi kondisi itu, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melalui Dinas Kesehatan telah melalukan serangkaian upaya preventif dan intervensi.
Beberapa intervensi yang dilakukan antara lain melacak tempat indukan nyamuk anopheles penyebab malaria, sosialisasi hingga penyemprotan dan pemberian kelambu.
(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)