Lansia Bersaudara Karimah & Tukah Sehari-harinya Hidup Menunggu Ayam Bertelur, Tinggal di Tanah Sewa
Alga W July 06, 2026 08:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Imam Nawawi

TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Hidup dua bersaudara perempuan lanjut usia (lansia) di RT 03 RW 28 Kelurahan Tompokresan, Kecamatan Lumajang, Jawa Timur, sangat memprihatinkan.

Mereka bernama Karimah umur 75 tahun dan Tukah 72 tahun.

Baca juga: IPM Kota Mojokerto Tertinggi ke-6 di Jatim, Ning Ita Klaim Berkat Intervensi Pemda

Kedua lansia di kawasan Lumajang Kota tersebut hidupnya lebih banyak mengandalkan pemberian tetangganya selama ini.

Mereka tinggal di tanah yang sewanya seharga Rp1 juta tiap tahunnya.

Nampak, rumah terbuat dari asbes yang hampir reyot.

Tempat tinggal mereka pun dibangunkan oleh tetangganya setelah mereka dapat bantuan dana material dari komunitas mancing.

Mereka bertahan hanya dengan menjual telur ayam peliharannya sebanyak 3 ekor betina dan 1 pejantan.

Potret kemiskinan ekstrem di kawasan kota ini membuat Bupati Lumajang, Indah Amperawati, tergerak dan langsung mengunjungi kedua lansia tersebut.

Kepala daerah perempuan ini sempat menawarkan kedua lansia tersebut agar pindah di panti jompo.

Namun, Karimah dan Tukah menolak dan memilih tetap tinggal di rumah sederhananya ini.

"Selama ini tidak ada bantuan (dari pemerintah), enggak ada," kata Karimah saat diwawancarai awak media, Senin (6/7/2026).

Selama ini aktifitas sehari-hari hanya duduk diam di rumah kerena tidak punya anak maupun suami.

Kata Karimah, ia hanya menunggu ayam peliharaannya bertelur.

"Nanti kalau bertelur, telurnya dijual buat beli beras. Seminggu telurnya bisa keluar 10 butir, harganya Rp25 ribu," kata Karimah.

Sementara untuk kebutuhan air bersih, mereka selama ini ngampung di rumah ketua Rukun Tetangga (RT), sebab tidak punya uang untuk nyakur air PDAM.

"Ada sumur di dekat rumah, tapi airnya basin (bau)," ulasnya.

Sementara listriknya disalurkan di MCB listrik di rumah saudara Ketua RT.

Selama ngampung energi, Karimah tidak diminta bayar. 

Karimah mengaku sengaja menolak ajakan Bupati agar pindah di panti jompo, karena lebih nyaman tinggal seperti ini.

"Enak turu lemah kayak ngene. Ada kasurnya, kasur atos," imbuhnya.

Tanah tempat tinggal masih sewa

Sementara, Ketua RT, Rasad mengungkapkan, sebelumnya kedua lansia ini sudah menempati rumah sendiri di lingkungan lain.

Tetapi ketika orang tuanya meninggal, mereka pindah dan menyewa di sini.

"Nyewa di tanah milik mantan Pak RT. Itu sudah tiga kali (pindah), mulai dari RT 02 sampai RT 03," tambahnya.

Sementara bangunan rumah yang mereka tinggali, Rasad mengatakan, dibangun oleh tetangga setempat yang kasihan dengan tanah masih sewa.

"Setahun Rp 1 juta, dan sudah dua tahun ini nunggak sewanya. Akhirnya ngadu ke Bupati," bebernya.

Rasad mengungkapkan, lansia tersebut sudah menempati rumah di tanah sewa selama tiga tahun.

Kata dia, dalam kegiatan ini, Bupati membayarkan uang sewa lahan untuk tiga tahun.

"Untuk makanya itu, dari warga ketika ada kerja bakti. Dan mereka dapat bantuan uang tunai dari Baznas sebesar Rp300 ribu tiap bulan. Pokoknya warga mengupayakan bantuan, kasihan soalnya," ulasnya.

Kedua lansia ini sebetulnya cukup pintar pelihara ayam, tetapi biaya pakan ternak kian mahal.

Kata Rasad, hal itu membuat pendapatan mereka makin sedikit.

Baca juga: Hidden Gem di Jombang Makin Mendunia, Warga Trekking 3,5 Kilometer Demi Air Terjun Tertinggi

Sementara itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati menghargai penolakan ajakan ke panti jompo.

Sebab lansia memang punya kecenderungan enggan meninggalkan kampung halamannya.

"Untungnya lingkungannya bagus, gotong royongnya bagus. Pak RT/RW-nya peduli dan tetangga-tetangganya peduli. Itu adalah modal utama," tanggapnya.

Oleh karena itu, Indah mengaku akan mengecek kelas desil lansia ini, agar mereka juga dapat program bantuan sosial lain dari pemerintah.

"Tapi sudah tercover Baznas, nanti kami cek dan akan kami perbarui data untuk kami usulkan ke Kementerian Sosial," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.