Film Dokumenter Sunghai Angkat Prasasti Kamulan Trenggalek, Jadi Lebih Menarik Media Edukasi
Rendy Nicko July 06, 2026 09:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Geliat perfilman terus berkembang di Trenggalek. Sineas muda Yanu Andi kembali menelurkan karyanya 'Sunghai' dengan mengambil objek Prasasti Kamulan.

Dimana Prasasti Kamulan menjadi dokumen otentik dalam penanggalan Hari Jadi Trenggalek tahun 1116 Saka, bertepatan tanggal 31 Agustus 1194 Masehi.

Sutradara dan Produser Film Dokumenter 'Sunghai', Yanu Andi mengungkapkan produksi film ini bermula dari fasilitasi yang diberikan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur.

Baca juga: Akibat Bakar Daduk Tebu Berujung Maut, Pria di Mojo Kediri Ditemukan Tewas di Tengah Lahan Terbakar

Yaitu mulai dari tahapan produksi, riset, hingga diseminasi berupa pemutaran film dan diskusi.

Yanu mengaku, keputusannya memilih Prasasti Kamulan didorong oleh rasa penasaran pribadinya.

Karena sebagai putra daerah, ketika melihat peninggalan sejarah ini di depan pendopo kabupaten seperti hanyalah benda mati.

"Saya melihat di depan pendopo ada batu. Saya penasaran, apakah benda tersebut hanya seonggok batu, dalam tanda kutip. Ternyata setelah ditelusuri, isinya sangat menarik dan menjadi legitimasi Hari Jadi Trenggalek," ujar Yanu saat ditemui di acara diseminasi film, Gedung Bhawarasa, Senin (6/7/2026).

Berangkat dari rasa penasaran itulah, Yanu berkomitmen untuk mengemas nilai sejarah benda mati tersebut, ke dalam bentuk audio visual agar lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.

Menurut Yanu, penyampaian pesan sejarah kini tidak boleh hanya mengandalkan kunjungan fisik masyarakat untuk melihat batu prasasti secara langsung.

Pria yang pernah menyabet Film Dokumenter Terbaik dalam Anugerah Piala Citra ke-43 Festival Film Indonesia (FFI) 2023 silam bersama timnya ini mengaku dalam membaca prasasti juga diperlukan medium lain yang lebih kreatif, seperti film maupun animasi.

"Peradaban atau nilai-nilai yang ada di Prasasti Kamulan ini bisa dikenal lebih luas. Salah satu cara pengarsipan nilai dari sebuah prasasti adalah melalui audio visual, termasuk film dokumenter," imbuhnya.

Ia berharap, film 'Sunghai' dapat disebarluaskan secara masif guna menjadi media pendidikan serta sosialisasi mengenai cagar budaya dan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) bagi generasi muda.

Saat disinggung mengenai proses pembuatan, Yanu membeberkan bahwa tahapan yang paling memakan waktu adalah proses riset.

Yanu melibatkan berbagai pihak, mulai dari pelaku budaya, pegiat sejarah, hingga ahli arkeologi untuk melakukan pembacaan prasasti dan mengumpulkan testimoni masyarakat setempat.

Sebab, ia menyadari memproduksi film dokumenter bertema sejarah atau kronologis peradaban memiliki risiko yang sangat tinggi jika dikerjakan secara terburu-buru.

"Saya membuat film ini juga ditunjukkan ke ahli untuk memastikan kebenarannya. Makanya, kami memakai sudut pandang masyarakat umum terlebih dahulu, bagaimana cerita-cerita di ingatan mereka tentang Kamulan masa lalu beserta temuan-temuan di sana," paparnya.

Dikatakannya, berbeda dengan risetnya yang panjang, proses pengambilan gambar atau syuting tergolong singkat, yakni hanya memakan waktu satu minggu.

Menariknya, selama proses syuting tim produksi menemukan beberapa temuan arkeologis secara spontan di lapangan.

Baca juga: Kejari Nganjuk : Sekda Diperiksa Terkait Dugaan Korupsi Bendungan Margopatut

Yanu menambahkan, ada temuan-temuan secara spontan, misalnya penemuan cobong atau benda lainnya di situs tersebut. Hal ini menjadi kejutan yang menarik di meja penyuntingan (editing). 

"Tugas saya sebagai produser dan sutradara adalah menjahit potongan-potongan teka-teki (puzzle) itu menjadi sebuah sajian film dokumenter yang utuh," jelasnya.

Terkait adanya isu-isu mistis atau hal ganjil yang kerap menyelimuti situs bersejarah, Yanu menanggapi hal tersebut dengan bijak.

Ia tidak menampik adanya cerita-cerita misteri dari penuturan warga setempat.

Namun, alih-alih berfokus pada hal mistis, Yanu memilih merespons fenomena tersebut sebagai konten kebudayaan yang bernilai tinggi.

Menurut Yanu, masyarakat lokal mempercayai wilayahnya, hingga mitos-mitos yang berkembang. Justru itulah yang menarik karena memperlihatkan bagaimana cara masyarakat menjaga wilayahnya.

"Kepercayaan lokal itu akhirnya menjadi sebuah nilai yang autentik dari masyarakat," tegasnya.

Mengenai rencana distribusi film ke depan, Yanu mengaku belum memikirkan langkah komersial atau penyebaran lebih jauh.

Fokus utamanya saat ini adalah melakukan koordinasi dan diskusi mendalam dengan Balai Pelestarian Kebudayaan selaku penyedia dana (funding) utama film dokumenter ini.

(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.