Aiptu Pudiyanto, Polisi di Pati yang Dikenal Warga Sebagai Dukun Ular
rival al manaf July 06, 2026 10:14 PM

TRIBUNJATENG.COM - Ada sosok polisi yang memiliki image berbeda dengan aparat penegak hukum lainnya di Kabupaten Pati.

Dia adalah Aiptu Pudiyanto yang bertugas di Kepolisian Sektor (Polsek) Jakenan, Pati, Jawa Tengah.

Cipud begitu ia akrab disapa dikenal juga oleh warga sekitar sebagai 'dukun ular'.

Julukannya bukan tanpa alasan, ia dikenal bisa menyembuhkan orang yang terkena gigitan ular berbisa.

Baca juga: Cerita Bupati Nonaktif Pati Sudewo Tetap Setia Nonton Piala Dunia di Balik Jeruji Besi

Baca juga: Sosok Aiptu Pudiyanto, Polisi Dukun Ular yang Obati Korban Hewan Berbisa Tanpa Pamrih

Kisahnya bemula pada tahun 1996, saatnitu suasana di Markas Kepolisian Sektor (Polsek) Jakenan, Pati, Jawa Tengah, mendadak mencekam.

Ratusan warga datang berbondong-bondong dengan raut wajah tegang, menggeruduk kantor polisi tersebut akibat embusan kabar simpang siur bahwa seorang warga Desa Mantingan Tengah “dibawa” ke sana.

Pada masa menjelang reformasi itu, saat Polri masih bernaung di bawah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), situasi sosial-politik yang sensitif membuat masyarakat spontan bereaksi keras.

"Waktu itu ada ratusan orang datang ke Polsek. Tahun-tahun itu, menjelang reformasi, memang sering ada ramai-ramai demo. Jadi mereka datang itu, ya, seperti orang mau demo," kenang anggota Polsek Jakenan, Aiptu Pudiyanto, saat diwawancarai Tribun Jateng, Senin (6/7).

Namun, ketegangan yang sempat memuncak itu seketika mencair dan beralih menjadi tawa keheranan.

Warga baru mengetahui bahwa pria berusia 30-an tahun yang dibawa ke kantor polisi tersebut sama sekali bukan karena terjerat kasus kriminal atau menjadi korban represi aparat, melainkan karena baru saja dipatuk ular berbisa saat kerja bakti membersihkan selokan.

Rekan korban sengaja membawanya ke sana karena tahu ada seorang polisi muda yang memiliki kemampuan menyembuhkan korban bisa ular.

Aiptu Pudiyanto menjelaskan bahwa saat itu istri korban yang panik melapor ke kepala desa, dan sang kades pun ikut bingung mengapa warganya yang digigit ular justru dilarikan ke kantor polisi.

Hal itulah yang memicu gelombang massa datang menggeruduk Mapolsek. Begitu duduk perkaranya jelas, warga pun berbalik pulang dengan perasaan lega sekaligus takjub.

"Begitu saya jelaskan, mereka langsung bilang, ‘Oh, jebule ono dukun ulo’ (Oh, ternyata ada dukun ular)," ucap pria yang akrab disapa Cipud ini diiringi tawa kecil.

Bagi Cipud, 1996 merupakan tahun pertamanya berdinas di Polsek Jakenan, dan warga Desa Mantingan Tengah tersebut menjadi pasien pertama dalam lembaran kariernya sebagai polisi.

Keterampilan pengobatan tradisional yang langka ini merupakan warisan turun-temurun dari mendiang sang ayah, Sukarno, yang dia pelajari sejak masih remaja.

Sejak peristiwa penggerudukan itu, nama Aiptu Pudiyanto kian tersohor di seantero Pati, khususnya di wilayah Kecamatan Jakenan dan Juwana, sebagai tabib spesialis bisa ular yang sangat ampuh.

Keampuhan metode tradisional Cipud bahkan melompati batas-batas medis modern, di mana tidak jarang fasilitas kesehatan formal justru "merujuk" pasien ke Polsek Jakenan. 

Pengalaman unik tersebut belum lama ini dialami oleh Sutopo (68), warga Desa Dukuhmulyo, Kecamatan Jakenan. Musim penghujan tahun lalu, taring ular hijau ekor merah mendadak menancap di pangkal jari tengah kanan Sutopo saat ia sedang membabat rumput liar di halaman belakang rumah.

"Seketika rasanya sakit luar biasa. Seluruh badan rasanya sakit," tutur Sutopo.

Dalam kondisi tubuh digerogoti rasa sakit tak tertahankan, keluarga langsung melarikan Sutopo ke Puskesmas setempat.

Bukannya mendapat suntikan medis, pihak Puskesmas justru memberikan saran tidak biasa, yakni menyuruhnya segera menemui Cipud di kantor polisi.

Kebetulan saat itu Aiptu Pudiyanto sedang berjaga, sehingga tindakan penyelamatan darurat bisa langsung dilakukan.

Sutopo menceritakan bahwa saat itu tangannya langsung dibelek atau disayat sedikit, kemudian racunnya disedot langsung oleh Cipud menggunakan mulut.

Tidak ada obat-obatan kimia yang diberikan, melainkan hanya menggunakan media air kembang. Setengah jam berselang, sebuah keajaiban kecil terjadi.

Rasa sakit yang tadinya meremukkan seluruh tubuh Sutopo berangsur-angsur sirna dan ia sembuh total dalam waktu relatif singkat.

Dia terkekeh seolah masih tak percaya bahwa nyawanya terselamatkan melalui mulut seorang polisi dan segelas air kembang.

Jika dibedah, ramuan pengobatan tradisional milik pria yang telah tiga dekade berdinas di Polsek Jakenan ini sebenarnya tergolong sangat bersahaja.

Cipud memaparkan bahwa sarana yang ia butuhkan hanyalah air hangat, sebilah silet kecil, dan kembang telon yang terdiri atas bunga kenanga, gading, serta melati sebagai syarat wewangian.

Prosesnya dimulai dengan membersihkan luka menggunakan air hangat, disusul tindakan menyayat kecil bekas gigitan.

Tanpa ada rasa ragu atau jijik sedikit pun, Cipud akan menempelkan mulutnya ke luka tersebut untuk mengisap keluar racun mematikan dari aliran darah pasien, lalu membuangnya, meski tidak jarang darah yang diisapnya sudah bercampur dengan nanah.

Langkah terakhir adalah merendam kembang telon ke dalam air bersih, merapalkan doa kebaikan, lalu meminta pasien meminumnya sebagai penawar.

"Kalau orang lihat mungkin jijik. Namun niat saya ikhlas menolong sesama. Kebetulan profesi saya juga polisi. Bersentuhan dengan masyarakat, melayani masyarakat," ungkap Cipud.

Aiptu Pudiyanto bersyukur lantaran selama ini seluruh pasien yang datang kepadanya berhasil disembuhkan, termasuk mereka yang kondisinya cukup kritis akibat gigitan ular kobra. Menurutnya ini adalah karunia luar biasa dari Tuhan Yang Mahakuasa.

Kendati demikian, khusus untuk korban ular kobra, Cipud tetap menerapkan batas rasionalitas medis.

Ia akan memberikan pertolongan pertama dalam waktu satu jam untuk menyelamatkan nyawa pasien dari penyebaran bisa, namun tetap menyarankan mereka ke rumah sakit untuk merawat bekas luka guna mengantisipasi terjadinya pembusukan jaringan kulit.

Manfaat dari ketulusan tangan Cipud kini telah berdampak luas, tidak hanya bagi warga lokal Pati, melainkan merambah ke luar daerah, bahkan menembus batas negara.

Ia mengisahkan pernah ada seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang menghubunginya karena sang majikan di luar negeri dipatuk ular. Berbekal niat tulus menolong, Cipud mencoba memandu proses pengobatan tersebut secara jarak jauh melalui panggilan video. Pasien di luar negeri itu pun bisa sembuh.

Satu hal yang membuat sosok polisi ini begitu dicintai adalah prinsip hidupnya yang teguh memegang amanah sang ayah untuk tidak pernah memasang tarif atau mengomersialkan kemampuannya.

Niatnya harus murni menolong secara ikhlas, bahkan tidak jarang jika ada pasien kurang mampu yang datang, Cipud justru merogoh kocek pribadi demi memberi mereka ongkos pulang.

Keluhuran budi ini diamini oleh Nurul Huda, seorang guru di SMPN 3 Pati yang pernah menjadi pasien Cipud pada musim penghujan 2023. Suatu hari, sesaat setelah turun dari mobil di halaman rumahnya di Rendole, Pati, seekor ular hijau ekor merah menyergap dan mematuk jempol kaki kirinya dengan sangat cepat.

Hanya dalam hitungan satu menit, rasa sakit berdenyut hebat disertai rasa gatal langsung menjalar, membuat kaki kirinya membengkak biru hingga ke pangkal paha. Sampai-sampai ia tidak bisa berjalan dan harus digendong ke mana-mana.

Nurul Huda sempat mendatangi tiga rumah sakit berbeda demi mencari pertolongan, namun seluruh rumah sakit tersebut kehabisan stok serum antibisa ular.

Berbagai pengobatan alternatif pun dicobanya selama dua pekan, tetapi kondisinya justru kian memburuk hingga seorang teman merekomendasikan nama Aiptu Pudiyanto. Saat berobat, bagian kaki Huda yang terkena gigitan disiram air mendidih, disilet, lalu bisanya diisap oleh Cipud, yang seketika memberikan rasa rileks pada tubuhnya.

Setelah menjalani satu kali kontrol tambahan dengan prosedur serupa beberapa hari kemudian, bengkak di kaki Huda mengempis total dalam tiga hari dan ia pun sembuh. Huda mengakui bahwa selain takjub dengan kesembuhannya, ia sangat terkesan dengan karakter sang polisi yang ramah.

"Beliau tidak mematok biaya, justru saya disuguhi jajanan saat berkunjung untuk berobat," kata dia.

Hubungan emosional yang terbangun antara Cipud dan para pasiennya memang kerap melahirkan kisah-kisah unik, di mana banyak pasien yang sembuh datang kembali untuk bersilaturahim, bahkan ada salah satu pasien yang menunaikan nazar untuk menginap di kediamannya setelah berhasil selamat dari gigitan ular kobra.

Di balik dedikasinya, mayoritas orang yang diselamatkan oleh Cipud adalah para petani yang kerap kali bertaruh nyawa melawan risiko gigitan ular saat menggarap sawah, terutama ketika musim penghujan tiba. Bagi masyarakat agraris, datangnya hujan adalah berkah sekaligus alarm waspada, karena saat air menggenangi liang-liang tanah, ular-ular akan terusik, keluar dari sarangnya, dan menyerang manusia sebagai bentuk pertahanan diri.

"Kalau sepanjang tahun (pasien saya) bisa sampai 50-60 orang dan mayoritas petani. Jadi sebetulnya saya ini mendukung program pemerintah terkait ketahanan pangan. Karena saya membantu menyelamatkan para petani," seloroh Cipud kemudian terkekeh.

Agar rantai kebaikan ini tidak terputus, Aiptu Pudiyanto yang dahulu menerima ilmu ini pada usia 17 tahun, sesuai syarat tradisi turun-temurun keluarga, kini telah mengestafetkan keahlian tersebut kepada anak ketiganya yang baru saja menginjak usia 17 tahun pada tahun lalu. Kepada sang anak, Cipud menekankan amanah sakral keluarga untuk tetap menolong tanpa pamrih, tulus ikhlas, dan percaya penuh bahwa urusan rezeki sudah diatur oleh Allah SWT.

Selagi hayat masih dikandung badan, polisi teladan ini berkomitmen selalu siap sedia membantu siapa saja yang membutuhkan jasanya, baik saat ia sedang mengenakan seragam dinas di Polsek Jakenan maupun saat berada di rumah pribadinya di Juwana. Ketika ditanya mengenai motivasi di balik semua aksi heroik yang menguras energi dan waktu ini, Cipud sempat terdiam sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu mengutarakan sebuah harapan yang sederhana namun menyentuh hati.

"Mudah-mudahan bisa menebus dosa-dosa saya. Selain itu juga membawa kebaikan untuk saya, keluarga saya, dan institusi Polri," pungkasnya.

Dedikasi luar biasa yang ditunjukkan oleh Aiptu Pudiyanto ini pun tidak luput dari perhatian pimpinan tertinggi kepolisian di wilayah tersebut. Kapolresta Pati, Kombes Pol Jaka Wahyudi, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kontribusi nyata yang diberikan oleh Cipud di luar tugas utamanya sebagai penegak hukum. Menurutnya, keahlian tradisional yang dimiliki Cipud merupakan manifestasi sejati dari semangat pengabdian Polri yang senantiasa hadir, melekat, dan memberikan manfaat nyata di tengah-tengah kehidupan masyarakat. (mzk)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.