Seorang pejabat Palestina menuduh Israel punya niat jahat untuk mengambil alih lebih dari 3.750 situs arkeologi di Tepi Barat.
Pejabat tersebut menggambarkan rencana jahat Israel itu sebagai bagian dari pengambilalihan lokasi warisan budaya yang lebih luas dan mendukung perluasan permukiman warga Yahudi di Tepi Barat.
Saleh Tawafsha, Wakil Menteri Pariwisata dan Kepurbakalaan Palestina, mengatakan kepada radio resmi Voice of Palestine, bahwa organisasi-organisasi permukiman Israel, dengan dukungan pemerintah, berupaya mengalihkan pengelolaan situs-situs tersebut kepada para pemukim, yang telah memperluas kehadiran mereka dengan mendirikan pos-pos baru di dekat beberapa lokasi tersebut.
Sebagian besar situs arkeologi yang menjadi sasaran Israel berada di Area C Tepi Barat. Situs tersebut berada di bawah kendali keamanan dan administrasi penuh Israel berdasarkan Perjanjian Oslo, tambah Tawafsha.
"Langkah-langkah itu sengaja dilakukan untuk "menghapus identitas sejarah dan budaya Palestina serta mengubah karakter historis situs-situs arkeologi dan keagamaan," ujar Tawafsha, seperti dikutip dari Antara, Senin (6/7/2026).
Tawafsha mengungkapkan situs-situs arkeologi tersebut sudah sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya dan sejarah panjang bangsa Palestina.
Dia menambahkan kementeriannya sedang mendokumentasikan apa yang disebutnya sebagai pelanggaran Israel terhadap warisan budaya Palestina dan mengirimkan laporan kepada badan-badan PBB yang relevan.
Belum ada komentar langsung dari pihak berwenang Israel terkait tudingan tersebut.
Menurut Kementerian Pariwisata dan Kepurbakalaan Palestina, Tepi Barat memiliki sekitar 7.000 situs arkeologi, dengan sekitar 60 persen di antaranya terletak di Area C.





