CAIR dan EUPHA Kompak Serukan Pembebasan Dokter Gaza Hussam Abu Safiya, Kondisinya Memprihatinkan
Endra Kurniawan July 07, 2026 08:35 AM

TRIBUNNEWS.COM - Organisasi internasional menyerukan pembebasan Dr. Hussam Abu Safiya, dokter sekaligus direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza yang ditangkap Israel dan ditahan tanpa dakwaan maupun pengadilan sejak Desember 2024.

Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), organisasi hak sipil dan advokasi Muslim terbesar di Amerika Serikat, menyerukan kepada seluruh warga Amerika untuk menghubungi anggota Kongres serta Departemen Luar Negeri AS guna menuntut pembebasan segera Dr. Hussam Abu Safiya.

Mengutip pernyataan di situs resminya pada Senin (6/7/2026), CAIR menyebut Dr. Abu Safiya kini dilaporkan dalam kondisi kritis setelah dipindahkan ke sel isolasi.

Saat bertemu dengan pengacaranya, Nasser Odeh, pada 2 Juli 2026, Dr. Abu Safiya dilaporkan mengalami kesulitan bernapas dan berbicara, sulit duduk tegak, serta hampir kehilangan kesadaran.

Ia juga dilaporkan mengatakan kepada pengacaranya, "Mereka membawa saya ke sini untuk membunuh saya. Saya tidak melihat diri saya akan selamat. Ini adalah akhir."

Pada hari yang sama, Asosiasi Kesehatan Masyarakat Eropa (EUPHA) turut menyerukan pembebasan segera Dr. Hussam Abu Safiya.

Dalam pernyataannya, EUPHA, sebagai organisasi yang berkomitmen melindungi kesehatan, tenaga kesehatan, serta prinsip-prinsip kesehatan masyarakat dan hak asasi manusia, menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan bahwa Dr. Abu Safiya terus ditahan serta diduga mengalami pelecehan dan perlakuan buruk selama dalam tahanan.

Dr. Abu Safiya dikenal secara internasional melalui upayanya mempertahankan layanan kesehatan di tengah situasi yang sangat sulit.

Sebagai direktur salah satu rumah sakit terakhir yang masih beroperasi di Gaza utara, ia terus merawat pasien dan memperjuangkan perlindungan layanan kesehatan meski menghadapi kekurangan yang parah, serangan berulang terhadap infrastruktur kesehatan, serta kehilangan pribadi yang sangat besar, termasuk kematian putranya selama konflik.

Ia ditangkap saat penggerebekan di Rumah Sakit Kamal Adwan pada 27 Desember 2024 bersama personel kesehatan lainnya.

EUPHA juga menyatakan sejalan dengan sikap Asosiasi Medis Dunia (WMA), yang telah menyerukan kepada otoritas Israel untuk menjamin proses hukum dan pengadilan yang adil bagi Dr. Abu Safiya serta tenaga kesehatan lainnya yang ditahan.

Baca juga: Dokter Gaza, Hussam Abu Safiya Muncul dalam Video Israel, Tangan Diborgol dan Tampak Lemas

WMA menegaskan bahwa hak atas peradilan yang adil merupakan hak asasi manusia yang fundamental.

Karena itu, tanpa adanya dakwaan resmi dan proses hukum yang sesuai dengan aturan hukum, para tenaga kesehatan yang ditahan harus segera dibebaskan tanpa syarat.

Dikutip Guardian, Hussam Abu Safiya bertemu dengan pengacaranya setelah dipindahkan ke fasilitas tahanan bawah tanah Rakefet yang dikenal memiliki kondisi sangat keras di Israel pada 24 Juni.

Penangkapan Abu Safiya merupakan bagian dari pola serangan Israel yang lebih luas terhadap layanan kesehatan di wilayah Palestina yang diduduki, kata Milena Ansari, Direktur Physicians for Human Rights Israel (PHRI) untuk wilayah tersebut.

Pada akhir Mei, ia dipindahkan dari Penjara Ketziot ke kompleks penjara Ganot dan ditempatkan di sel isolasi tanpa penjelasan, kata Odeh.

Abu Safiya menceritakan bahwa ia diserang para penjaga menggunakan palu dan pentungan, tidak lama setelah mengikuti sidang banding di Mahkamah Agung melalui sambungan video.

Menurut Odeh, sejak Abu Safiya berada di Rakefet, kondisi kesehatannya memburuk secara drastis.

"Saya telah mengunjungi Dr. Abu Safiya beberapa kali sejak penahanannya, tetapi orang yang saya temui dalam kunjungan terakhir ini bukan lagi sosok yang sama seperti sebelumnya," kata Odeh pada Minggu (5/7/2026), seraya menyerukan pemeriksaan medis independen segera.

Baca juga: 5 Populer Internasional: Hamas Bubarkan Pemerintahannya di Gaza - Masalah Keamanan Pangeran Harry

"Kondisi fisik dan psikologisnya, luka-luka parah yang terlihat di tubuhnya, serta kesaksian pribadinya tidak menyisakan ruang untuk keraguan: nyawanya berada dalam bahaya langsung."

Odeh mengatakan Abu Safiya tampak ketakutan, tertekan, dan enggan berbicara secara bebas selama pertemuan tersebut.

Namun, ia mengaku dipukuli setiap hari di Penjara Rakefet dan telah beberapa kali kehilangan kesadaran akibat kekerasan yang dialaminya.

Rakefet, tempat para tahanan tidak pernah melihat sinar matahari, dibangun pada 1980-an untuk menahan tokoh-tokoh senior kejahatan terorganisir sebelum akhirnya ditutup karena dianggap tidak manusiawi.

Penjara itu kemudian dibuka kembali atas perintah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.

Warga Palestina lain yang ditahan di sana juga melaporkan mengalami sesak napas dan rasa tercekik di sel-sel yang sempit, padat, dan tidak memiliki ventilasi, bahkan tanpa mengalami luka seperti yang diderita Abu Safiya.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.