SURYA.co.id, BLITAR – Kesabaran warga di Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, akhirnya mencapai batas.
Setelah lebih dari lima tahun menghadapi jalan rusak tanpa perbaikan, masyarakat memilih mengambil langkah sendiri dengan menggalang dana dan bergotong royong memperbaiki akses utama yang setiap hari mereka gunakan.
Aksi swadaya tersebut dilakukan oleh puluhan warga dari Kelurahan Tawangsari dan Kelurahan Garum.
Mereka mengumpulkan dana secara sukarela untuk membeli semen, pasir, batu, hingga kebutuhan konsumsi bagi para relawan yang bekerja memperbaiki jalan.
Perbaikan dilakukan pada Kamis (2/7/2026) malam di ruas jalan Dusun Ngebrak, Kelurahan Tawangsari.
Meski dilakukan secara sederhana, hasilnya mampu menutup puluhan lubang yang selama ini membahayakan pengguna jalan.
Bagi warga, keputusan itu bukan sekadar memperbaiki infrastruktur, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap keselamatan bersama setelah bertahun-tahun menunggu tanpa kepastian.
Salah satu penggerak kegiatan, Candra Putro Sadewo, mengatakan dana yang terkumpul mencapai jutaan rupiah. Seluruhnya berasal dari iuran warga.
Dana tersebut digunakan untuk membeli material berupa semen, pasir, dan batu sebagai bahan penambalan jalan.
Selain itu, sebagian anggaran juga dipakai membeli makanan dan minuman bagi warga yang ikut bergotong royong sepanjang proses pengerjaan.
Tidak berhenti pada perbaikan jalan, warga juga membeli beberapa lampu penerangan jalan untuk menggantikan lampu-lampu yang telah lama mati.
Langkah itu diambil karena minimnya pencahayaan membuat ruas jalan semakin berbahaya, terutama saat malam hari.
Baca juga: Sosok Bupati Lampung Timur yang Respon Warganya Ogah Bayar Pajak karena Bangun Jalan Swadaya
Perbaikan dilakukan secara kolektif dengan pembagian tugas yang jelas. Ada warga yang mengaduk campuran material, ada yang membawa kendaraan pikap untuk mengangkut bahan, sementara lainnya menyiapkan sekop dan peralatan kerja.
Dalam satu malam, puluhan lubang di sepanjang hampir 100 meter ruas jalan berhasil ditutup menggunakan campuran semen, pasir, dan batu.
Semangat gotong royong juga melibatkan warga dari tiga dusun, yakni Dusun Ngebrak dan Dusun Magersari di Kelurahan Tawangsari, serta Dusun Magersari di Kelurahan Garum.
Selain warga kampung, penghuni dua kompleks perumahan di sekitar lokasi turut berpartisipasi karena mereka juga menggunakan jalur tersebut sebagai akses harian.
Ruas jalan yang diperbaiki berada di sisi barat kompleks Pasar Garum dan memiliki fungsi vital bagi mobilitas masyarakat.
Jalan tersebut menjadi satu-satunya akses keluar masuk bagi sebagian warga Dusun Magersari, baik yang berada di Kelurahan Garum maupun Kelurahan Tawangsari.
Selain menghubungkan permukiman dengan jalan nasional di sisi utara, jalur tersebut juga menjadi akses menuju kawasan perumahan di sekitarnya.
Karena memiliki peran penting dalam aktivitas sehari-hari, kondisi jalan yang berlubang dinilai sangat mengganggu sekaligus membahayakan pengguna.
Menurut Candra, kerusakan jalan sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Selama periode itu, warga mengaku beberapa kali menyampaikan keluhan kepada pihak kelurahan.
Namun, upaya tersebut belum menghasilkan solusi yang diharapkan. Warga merasa persoalan tersebut terus berlarut-larut tanpa adanya realisasi perbaikan.
Akibat jalan yang rusak dan lampu penerangan yang mati, kecelakaan tunggal pengendara sepeda motor disebut kerap terjadi, terutama saat malam hari ketika kondisi jalan sulit terlihat.
Situasi inilah yang akhirnya mendorong warga mengambil keputusan untuk bertindak secara mandiri.
Candra mengatakan masyarakat sudah tidak ingin terus menunggu kepastian mengenai siapa yang bertanggung jawab memperbaiki jalan tersebut.
Apalagi, menurutnya, warga juga mendengar adanya kebijakan efisiensi anggaran di pemerintah daerah yang membuat mereka semakin pesimistis perbaikan akan segera dilakukan.
Karena itu, warga memilih bergotong royong agar kondisi jalan menjadi lebih aman untuk dilalui.
Bagi mereka, keselamatan pengguna jalan menjadi prioritas utama dibanding terus menunggu proses yang belum jelas kapan terealisasi.
Aksi warga Garum menunjukkan bahwa budaya gotong royong masih menjadi kekuatan besar di tengah masyarakat Indonesia.
Ketika infrastruktur yang menjadi kebutuhan dasar belum kunjung diperbaiki, warga mampu berinisiatif mengumpulkan dana, tenaga, dan waktu demi kepentingan bersama.
Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa partisipasi masyarakat tidak seharusnya menggantikan tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan infrastruktur yang aman dan layak.
Swadaya dapat menjadi solusi darurat untuk mengurangi risiko kecelakaan, tetapi pemeliharaan jalan secara berkelanjutan tetap memerlukan dukungan pemerintah agar kualitas dan keselamatan jalan dapat terjamin dalam jangka panjang.
Kepedulian warga perantauan asal Desa Maindu, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, membuahkan hasil nyata.
Mereka secara swadaya membangun akses jalan desa yang selama ini menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat, terutama untuk mendukung aktivitas pendidikan dan perekonomian.
Pembangunan jalan tersebut diresmikan langsung oleh Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, Selasa (30/6/2026).
Jalan sepanjang sekitar 1,6 kilometer itu dibangun melalui dukungan warga Maindu yang berada di perantauan.
Inisiatif pembangunan jalan ini dimotori pengusaha konveksi asal Maindu, Imam Mawardi Maksum, yang saat ini membuka usaha di Timika, Papua.
Ia bersama warga perantauan lainnya menggalang dukungan untuk mewujudkan akses jalan yang lebih layak bagi kampung halaman.
Sedikitnya 156 warga perantauan asal Maindu-Blawirejo, Kecamatan Kedungpring, ikut berkontribusi dalam pembangunan tersebut. Mereka tersebar di sejumlah daerah seperti Timika, Manado, Nabire, Yaukima, Jakarta, hingga Bandung.
"Ini bentuk kepedulian kami kepada desa. Jalan ini menjadi kebutuhan masyarakat agar aktivitas warga lebih mudah, terutama anak-anak sekolah dan roda ekonomi warga," kata Imam kepada SURYA.co.id, Selasa (30/6/2026).
Dalam pembangunan tahap awal, dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp 185 juta untuk pengerjaan jalan sepanjang 1,6 kilometer.
Selain itu, terdapat pembangunan akses menuju makam sepanjang 200 meter di sisi timur jalan aspal dengan anggaran sekitar Rp 102 juta.
Sebelum pengaspalan jalan menuju makam dilakukan, masyarakat juga lebih dulu melakukan pemadatan jalan dengan dukungan dana sekitar Rp50 juta.
Sementara itu, bagian barat makam sebelumnya telah memiliki akses pedel, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan jalan poros desa.
Pemerintah Kabupaten Lamongan turut memberikan dukungan berupa alat untuk pengerjaan aspal.
Imam menyebut, pembangunan jalan ini masih akan berlanjut. Tahap berikutnya diprioritaskan untuk pengerjaan sekitar 2,5 kilometer dan direncanakan dilanjutkan pada 2027.
Selain peningkatan kualitas jalan, warga juga memiliki rencana pelebaran jalan di bagian ujung selatan agar akses kendaraan semakin mudah.
"Kalau dulu perjalanan bisa 20 sampai 25 menit karena kondisi jalan sulit, sekarang cukup sekitar lima menit," ujarnya.
Menurutnya, kebutuhan jalan yang baik sangat mendesak karena banyak kendaraan besar mulai melintas dan aktivitas masyarakat semakin meningkat.
Infrastruktur yang memadai diyakini akan membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Sebelum fokus pada pembangunan jalan, kesadaran warga perantauan untuk membantu desa sudah tumbuh sejak pembangunan masjid pada tahun 2000.
Warga berharap dukungan pemerintah daerah terus berlanjut, mengingat jalan tersebut menjadi jalur penting bagi masyarakat.
"Kedepan harapannya ada tambahan dukungan dari Pemkab Lamongan karena akses ini juga banyak digunakan kendaraan besar," kata Imam.
Pemkab Lamongan membantu pembangunan jalan desa, yakni aspal dan alat berat. Sementara material lannya termasuk batu gunung (pedel) dari dana swadaya tersebut.