Legenda Kamerun, Roger Milla, memberikan pandangannya yang menarik mengenai kehebatan abadi Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi yang terus menantang batas biologis di Piala Dunia 2026. Pemain yang dikenal sebagai pencetak gol tertua dalam sejarah turnamen tersebut mengakui bahwa bermain hingga usia 50 tahun tampak tidak realistis, namun ia siap melihat dua ikon modern itu melampaui pencapaian bersejarahnya.
Milla memuji kehebatan dua GOAT yang tak lekang oleh waktu
Sosok ikonik dari perjalanan Kamerun di Piala Dunia 1990 itu menyatakan kekagumannya terhadap bagaimana Ronaldo, 41 tahun, dan Messi, 39 tahun, mampu mempertahankan performa di level tertinggi meskipun usia mereka tidak muda lagi.
Milla masih memegang rekor sebagai pemain tertua yang mencetak gol di Piala Dunia—rekor yang ia buat pada usia 42 tahun dan 39 hari ketika melawan Rusia pada tahun 1994. Namun, ia dengan senang hati menyambut tantangan dari dua superstar tersebut untuk menggeser namanya dari buku sejarah, meski itu berarti keduanya harus tetap bermain hingga edisi 2030.
Dalam wawancara dengan A Bola, Milla berkata: “Saya pikir apa yang mereka lakukan itu indah. Saya katakan: salut untukmu, Messi, salut untukmu, Ronaldo! Saya mendengar orang mengatakan bahwa mereka sudah tidak berlari lagi. Seorang pemain yang tidak banyak berlari tapi masih bisa mencetak gol justru pantas mendapat pujian lebih. Yang mengesankan bagi saya adalah melihat mereka tetap menjadi pemain penentu. Tidak semua orang bisa seperti itu. Jika seorang pemain merasa masih kuat dan bugar, ia harus terus bermain. Usia tidak banyak berarti selama ia masih bisa menunjukkan kemampuannya. Dan mereka melakukannya.”
Kemampuan teknis mengalahkan penurunan fisik
Perdebatan seputar Piala Dunia kerap menyoroti berkurangnya mobilitas dua legenda tersebut, namun Milla menilai bahwa kecerdasan taktis dan kualitas teknis mereka jauh lebih dari cukup untuk menutupi kekurangan kecepatan.
Ketika keduanya masih mampu memengaruhi jalannya pertandingan—termasuk Messi yang telah mencetak tujuh gol sejauh ini—Milla menekankan bahwa permainan menjadi lebih mudah secara mental seiring tubuh yang mulai melambat.
Singa Tak Terkalahkan itu menambahkan: “Kualitas teknis tidak akan pernah hilang. Pemain yang memiliki kemampuan teknik tidak perlu berlari seperti anak muda. Penempatan posisi yang baik bisa menggantikan banyak hal. Semakin tua, semakin baik pemahaman taktis dan teknis seseorang. Dengan waktu, kamu belajar di mana harus berdiri, bagaimana menerima bola, dan bagaimana mendapatkan keunggulan dari lawan. Itu adalah keseimbangan antara apa yang hilang dan apa yang didapat.”
Batas usia panjang karier di sepak bola
Meski perpisahan dengan ajang utama FIFA tampak semakin dekat bagi Ronaldo dan Messi, Milla berpendapat bahwa usia pertengahan 40-an bisa menjadi batas baru bagi atlet elit di masa depan.
“Mencapai usia 50 tahun menurut saya mustahil, tapi bermain hingga 43 atau 44 tahun masih sangat mungkin. Ketika tubuh berkata cukup, kamu harus mendengarkannya. Tidak ada gunanya membohongi diri sendiri. Di usia itu, ketika keluar dari stadion, kamu akan merasa benar-benar kelelahan,” jelas Milla.
Rekor dibuat untuk dipecahkan
Meski telah memegang salah satu rekor paling bergengsi dalam sejarah Piala Dunia selama lebih dari tiga dekade, Milla menegaskan bahwa ia tidak merasa perlu mempertahankan warisannya. Ia lebih menekankan makna emosional dari permainan ketimbang angka yang mendefinisikan karier Messi dan Ronaldo, meskipun ia mengakui bahwa kehebatan keduanya tidak terbantahkan.
“Saya tidak perlu mempertahankan rekor itu. Rekor dibuat untuk dipecahkan. Rekor milik Pelé, [Michel] Platini, atau [Diego] Maradona juga sudah dilewati. Yang saya banggakan adalah bisa bermain di tiga Piala Dunia untuk negara saya dan memberikan begitu banyak emosi. Sepak bola bukanlah tentang angka,” tutup Milla.