“Jembatan Donat” Siap Hubungkan Enam Moda Transportasi Umum di Dukuh Atas
Content Writer July 07, 2026 08:35 AM

TRIBUNNEWS.COM – Setiap pagi dan sore, kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat dipadati ribuan pengguna transportasi umum yang berpindah dari satu moda ke moda lainnya. MRT, KRL Commuter Line, TransJakarta, LRT Jabodebek, LRT Jakarta, hingga Kereta Bandara bertemu di kawasan ini, menjadikannya salah satu titik mobilitas tersibuk di ibu kota.

Namun, perpindahan antarmoda ini masih menyisakan tantangan. Penumpang harus berjalan di ruang terbuka, menyeberangi jalan, atau berpindah melalui jalur yang terpisah. Pada jam sibuk, trotoar dan tepi jalan pun dipenuhi pejalan kaki sehingga menghambat kelancaran lalu lintas.

Kondisi tersebut mulai dibenahi melalui pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas. Salah satu proyek utamanya adalah pembangunan jembatan penyeberangan multiguna (pedestrian deck) melingkar yang dikenal sebagai “Jembatan Donat”.

Baca juga: Jakarta Masuk 53 Kota Terbaik Dunia, Fahira Dorong Penguatan Livability, Lovability, dan Prosperity

Pembangunan proyek tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada 21 Juni 2026.

  1. Integrasikan Enam Moda Transportasi

    “Jembatan Donat” akan menghubungkan enam moda transportasi publik, yakni MRT Jakarta, TransJakarta, KRL Commuter Line, Kereta Bandara, LRT Jabodebek, dan LRT Jakarta melalui satu jalur pedestrian yang saling terintegrasi. Dengan fasilitas ini, masyarakat dapat lebih mudah berpindah moda transportasi tanpa harus menyeberangi jalan atau berjalan di ruang terbuka. Jalur pejalan kaki dirancang agar para pengguna tetap nyaman saat cuaca panas maupun hujan.

    Menurut Gubernur Pramono, kehadiran pedestrian deck Dukuh Atas menjadi bagian dari transformasi sistem transportasi Jakarta menuju layanan yang semakin terintegrasi.

    “(Jalur) pedestrian ini dengan enam moda yang terhubung akan menjadi seamless mobility. Artinya orang tidak ada lagi yang kepanasan, kehujanan, dan sebagainya,” ujar Pramono saat pencanangan pembangunan pedestrian deck Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

    Selain meningkatkan kenyamanan, proyek tersebut diharapkan mengurangi kemacetan di sekitar Dukuh Atas. Selama ini, aktivitas penumpang yang naik dan turun di tepi jalan kerap menghambat arus kendaraan, terutama pada jam sibuk dan saat hujan. Melalui jalur pedestrian layang, perpindahan penumpang dilakukan sepenuhnya di atas permukaan jalan sehingga kepadatan di badan jalan dapat berkurang.

    “Dapat dipastikan akan mengurangi kemacetan karena penumpang tidak lagi turun di tepi jalan, tetapi langsung berpindah moda melalui jalur di atas,” kata Pramono.
  2. Kawasan Transit yang Nyaman dan Inklusif

    Transformasi Dukuh Atas tidak hanya berfokus pada konektivitas antarmoda, tetapi juga menghadirkan ruang publik yang lebih nyaman bagi seluruh masyarakat. Berbagai fasilitas disiapkan, mulai dari guiding block bagi penyandang disabilitas netra, akses ramah kursi roda, fasilitas bike sharing, hingga jalur pedestrian yang lebih nyaman untuk berjalan kaki.

    Koridor Jalan Blora-Kendal pun berkembang menjadi ruang interaksi warga. Beragam pertunjukan musik dan aktivitas komunitas rutin digelar di kawasan tersebut, menghadirkan suasana yang lebih hidup sekaligus memperkuat fungsi ruang publik di tengah kota.

    Pendekatan ini mencerminkan perubahan arah pembangunan Jakarta yang tidak lagi hanya berorientasi pada kendaraan bermotor, tetapi juga mengutamakan pejalan kaki, pengguna transportasi publik, serta terciptanya ruang kota yang lebih inklusif.
  3. Transport Hub Hidupkan Aktivitas Kawasan

    Pengembangan TOD Dukuh Atas juga diperkuat dengan keberadaan Gedung Transport Hub Dukuh Atas yang beroperasi sejak 2023. Gedung seluas sekitar 17.000 meter persegi itu memadukan area ritel, perkantoran, dan hotel dalam satu kawasan yang terhubung langsung dengan berbagai moda transportasi publik.

    Dengan konsep tersebut, Dukuh Atas bukan lagi sekadar menjadi lokasi transit, tetapi juga berkembang sebagai pusat aktivitas masyarakat. Warga dapat bekerja, berbelanja, maupun mengakses berbagai layanan tanpa harus berpindah jauh dari kawasan transportasi.

    Menurut Pramono, integrasi tersebut diharapkan membuat masyarakat semakin nyaman menggunakan transportasi publik sekaligus mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar kawasan.
  4. Fondasi Jakarta Menuju Kota Global

    Di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno, penguatan konektivitas transportasi menjadi salah satu strategi untuk mendukung Jakarta sebagai pusat perekonomian internasional sekaligus masuk jajaran 50 kota global pada 2030.

    Pengembangan TOD Dukuh Atas menjadi bagian dari upaya tersebut. Kawasan ini mengintegrasikan konektivitas antarmoda, ruang publik yang ramah pejalan kaki, aktivitas ekonomi, serta fasilitas yang inklusif dalam satu ekosistem perkotaan. Melalui pembangunan “Jembatan Donat”, keberadaan Transport Hub, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya, Pemprov DKI Jakarta berupaya menghadirkan sistem transportasi publik yang semakin modern, terintegrasi, dan nyaman bagi masyarakat.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.