Laporan Wartawan Tribun Gayo Asnawi Luwi|Aceh Tenggara
Tribungayo.com, KUTACANE – Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Biodiesel dan Pertalite di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, dilaporkan tidak stabil atau mengalami kelangkaan sejak sepekan terakhir.
Dampaknya, antrean panjang kendaraan bermotor—mulai dari roda dua, roda tiga, roda empat, hingga mobil Colt Diesel berbadan lebar—terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kabupaten setempat. Para pengendara rela mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM bersubsidi yang stoknya cepat habis.
Kelangkaan ini terus berlanjut, terutama bagi kendaraan yang membutuhkan BBM jenis B50.
Pantauan wartawan TribunGayo.com, Asnawi Luwi, pada Selasa (7/7/2026) mulai pukul 06.00 WIB hingga 11.00 WIB, BBM jenis B50 terpantau mengalami kekurangan di SPBU Lawe Desky (Desa Sabilussalam, Kecamatan Babul Makmur), SPBU Kuning, dan SPBU Lawe Kihing (Kecamatan Bambel).
"Pengendara yang menggunakan bahan bakar B50 menumpuk di SPBU Kuning dan SPBU Lawe Alas,” ujar Muslim, salah satu pengendara yang ditemui di lokasi.
Sementara itu, pasokan BBM di SPBU Lawe Desky sebenarnya sering kali normal untuk jenis Pertalite, Pertamax 92, Pertamax Turbo, Dexlite, maupun B50.
Baca juga: Meski Telah Diresmikan, BBM B50 Belum Tersedia di SPBU Bener Meriah
Namun, stok di SPBU tersebut cepat habis terkuras karena banyaknya kendaraan dari SPBU lain yang beralih mengantre di sana akibat kelangkaan yang terjadi secara meluas.
“Antrean kendaraan bermotor untuk mengisi BBM terlihat mulai Senin (6/7/2026) hingga Selasa (7/7/2026) di SPBU Lawe Desky.
Mereka rela antre panjang berjam-jam untuk mendapatkan BBM, dan kebanyakan adalah kendaraan yang memakai bahan bakar Biodiesel,” ungkap Muslim dan sejumlah pengendara lainnya.
Terkait kondisi ini, pengelola SPBU Lawe Desky, Kecamatan Babul Makmur, Aceh Tenggara, Ragam Bancin, saat dikonfirmasi TribunGayo.com menjelaskan bahwa stok BBM cepat habis karena adanya pengurangan pengiriman dari pihak PT Pertamina.
Ragam menyebutkan, pasokan yang biasanya mencapai 16 ton untuk Biodiesel dan 16 ton untuk Pertalite, kini dikurangi menjadi masing-masing 8 ton saja.
Hal inilah yang memicu antrean panjang, bahkan tidak sedikit kendaraan yang tidak mendapatkan BBM karena stok sudah habis terjual. (*)