Harga Sawit di Basel Bertahan Rp3.100 per Kilogram, Petani Keluhkan Pupuk Nonsubsidi Masih Mahal
Asmadi Pandapotan Siregar July 07, 2026 02:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Bangka Selatan masih bertahan di level Rp3.100 per kilogram dalam tiga pekan terakhir. Stabilnya harga tersebut menjadi angin segar bagi petani setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan cukup tajam.

Petani kelapa sawit asal Desa Jeriji, Kabupaten Bangka Selatan, Yanto, mengatakan harga TBS di tingkat pabrik tidak mengalami perubahan sejak beberapa pekan terakhir. Sementara itu, harga di tingkat pengepul berkisar antara Rp2.750 hingga Rp2.800 per kilogram.

“Sudah sekitar tiga minggu bertahan di harga itu. Di pabrik Rp3.100 per kilogram, sedangkan di pengepul sekitar Rp2.750 sampai Rp2.800 per kilogram. Tidak terjadi kenaikan dan penurunan,” kata Yanto kepada Bangkapos.com, Selasa (7/7/2026).

Meski harga sawit relatif stabil, menurut Yanto kondisi tersebut belum sepenuhnya meringankan beban petani. Pasalnya, harga pupuk nonsubsidi hingga kini masih tergolong tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

“Alhamdulillah cukup, tetapi pupuk belum ada penurunan yang nonsubsidi,” ujarnya.

Menurutnya, harga pupuk nonsubsidi hingga saat ini, belum mengalami penurunan dan masih tergolong tinggi di atas Rp 500 ribu per sak.

"Harga pupuk nonsubsidi masih di atas Rp 530 ribu per sak, sebelumnya sekitar Rp 420 ribu. Kalau harganya di bawah Rp 500 ribu, petani masih mampu membeli,"harapnya.

Ia berharap, pemerintah dapat mendorong kenaikan harga sawit, satu di antaranya melalui peningkatan pemanfaatan B50 untuk program biodiesel. 

Kebijakan mandatori bahan bakar biodiesel yang dicampur dari 50 persen minyak kelapa sawit atau biodiesel dan 50 persen solar yang diluncurkan secara nasional oleh Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Yanto, kebijakan tersebut akan berdampak positif terhadap petani sawit, khususnya petani swadaya.

"Kalau program B50 berjalan maksimal, harga sawit bisa naik lagi. Dampaknya akan langsung dirasakan petani lokal dan petani swadaya," katanya.

Selain itu, ia juga berharap kebijakan ekspor satu pintu,  dapat semakin memperkuat harga sawit dalam negeri. Sehingga memberikan dampak positif bagi perekonomian dan kesejahteraan petani.

"Harga sawit di petani bisa naik lagi, terutama dengan adanya rencana ekspor satu pintu berdampak langsung nantinya," katanya.

Tak hanya itu, Yanto juga meminta harga TBS kelapa sawit di Pulau Bangka dan Belitung tidak terjadi perbedaan.

"Kenapa harga sawit di Belitung dan Bangka berbeda, apa mereka mengirim ke luar negeri atau seperti apa," tanya Yanto.

Yanto berharap, pemerintah memberikan penjelasan mengenai penyebab perbedaan harga tersebut, apakah dipengaruhi oleh biaya distribusi, pengiriman, atau faktor lainnya.

Sebelumnya, harga TBS kelapa sawit di Provinsi Bangka Belitung sempat anjlok secara mendadak. 

Penurunan harga, diduga berkaitan dengan munculnya wacana kebijakan ekspor sawit melalui satu pintu BUMN, dimanfaatkan oleh sejumlah pihak untuk menekan harga di tingkat petani. Sehingga memicu keresahan di kalangan pekebun sawit.

Harga jual ke pabrik saat itu Rp 2.400 hingga Rp 2.250 per kilogram. Sementara harga di tingkat petani kepada tengkulak hanya berkisar Rp1.750 per kilogram. (Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.