Telkom Optimalkan Portofolio Bisnis, 10 Entitas Berhasil Distrukturisasi
Muh. Abdiwan July 07, 2026 02:12 PM

TRIBUN-TIMUR.COM – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menuntaskan penyederhanaan (streamlining) terhadap 10 entitas anak usaha pada semester pertama 2026 sebagai bagian dari percepatan transformasi perusahaan menuju Strategic Holding yang lebih ramping, efisien, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.

Langkah tersebut menjadi bagian dari implementasi strategi TLKM 30 sekaligus mendukung aspirasi penyederhanaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diamanatkan oleh Danantara Asset Management (DAM) dan Badan Pengaturan (BP) BUMN melalui optimalisasi portofolio bisnis.

Melalui program streamlining, Telkom menata kembali struktur grup dengan mengoptimalkan entitas usaha, menghilangkan tumpang tindih bisnis, serta melakukan divestasi terhadap lini usaha yang tidak lagi menjadi fokus utama perusahaan.

Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat fokus investasi pada bisnis inti telekomunikasi dan digital, serta mempercepat transformasi Telkom dari Operating Holding menjadi Strategic Holding dengan model Holding Company–Operating Company (HoldCo-OpCo).

Dalam model tersebut, Telkom sebagai Holding Company akan berfokus pada pengelolaan portofolio, penguatan tata kelola perusahaan, optimalisasi sinergi antaranak usaha, serta penciptaan nilai bagi seluruh segmen bisnis.

Sementara itu, aktivitas operasional dijalankan oleh Operating Company (OpCo) yang lebih fokus pada empat segmen utama, yakni bisnis Business to Consumer (B2C), Business to Business Infrastructure (B2B Infrastructure), Business to Business ICT (B2B ICT), serta International Business.

Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, mengatakan penyederhanaan portofolio merupakan langkah strategis untuk membangun organisasi yang lebih lincah dalam menghadapi dinamika industri telekomunikasi dan digital yang terus berkembang.

"Transformasi tidak hanya diwujudkan melalui pengembangan kapabilitas bisnis, tetapi juga keberanian untuk menata kembali organisasi agar semakin fokus pada bisnis inti yang menjadi kekuatan utama. Dengan struktur yang lebih ramping, Telkom memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bergerak lebih agile, mengalokasikan investasi secara lebih optimal, serta menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas," ujarnya.

Hingga akhir Juni 2026, Telkom telah menyelesaikan streamlining terhadap 10 entitas melalui berbagai aksi korporasi strategis yang terdiri atas divestasi, merger, dan likuidasi sesuai hasil evaluasi bisnis perusahaan.

Pada skema divestasi, Telkom menuntaskan pelepasan dua entitas yang ditandai dengan penandatanganan Sale and Purchase Agreement (SPA) bersama mitra strategis pada 3 Juni 2026.

Selain itu, Telkom juga menyelesaikan penggabungan vertikal (vertical merger) terhadap dua entitas guna memperkuat kapabilitas bisnis, sekaligus melikuidasi enam entitas TelkomGroup yang dinilai sudah tidak lagi relevan terhadap strategi bisnis jangka panjang perusahaan.

Menurut Telkom, setiap keputusan tersebut dilakukan berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap kontribusi masing-masing entitas, aktivitas operasional, potensi pertumbuhan, serta nilai strategisnya terhadap pengembangan grup secara keseluruhan.

Seno menegaskan bahwa program streamlining bukan sekadar mengurangi jumlah anak perusahaan, melainkan membangun portofolio bisnis yang lebih sehat, fokus, dan mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

"Setiap keputusan streamlining didasarkan pada evaluasi terhadap peran strategis masing-masing entitas dalam mendukung arah bisnis TelkomGroup ke depan. Dengan portofolio yang lebih fokus dan struktur organisasi yang lebih efisien, kami dapat memperkuat sinergi antar OpCo, mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan sekaligus memperkokoh posisi Telkom sebagai enabler ekosistem digital nasional yang berdaya saing global," jelas Seno, Senin (6/7).

Dalam menjalankan proses transformasi tersebut, Telkom memastikan seluruh tahapan dilakukan secara prudent, transparan, dan akuntabel dengan mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) serta Business Judgment Rule (BJR), melalui koordinasi bersama Kejaksaan Agung, BPKP, Danantara Asset Management, dan Badan Pengaturan BUMN.

Perusahaan juga memastikan penyesuaian sumber daya manusia dilakukan secara bertanggung jawab dengan menghormati hak-hak seluruh karyawan terdampak melalui mekanisme sukarela, salah satunya Early Retirement Program (ERP) yang pada 2026 difokuskan pada level Operating Company.

Program streamlining menjadi bagian dari peta jalan transformasi Telkom hingga 2030 untuk membangun fondasi bisnis yang lebih kuat, meningkatkan daya saing perusahaan, memperkuat kapabilitas digital nasional, serta mengoptimalkan investasi pada sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi di masa depan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.