3 Kecamatan dengan Kasus ISPA Tertinggi di Pringsewu, Dipengaruhi Sejumlah Faktor
Reny Fitriani July 07, 2026 03:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PRINGSEWU – Tiga kecamatan dengan jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tertinggi di Kabupaten Pringsewu.

Baca Juga: Kasus ISPA di Pringsewu Capai 29.853 Sepanjang 2025, Balita Kelompok Paling Rentan

Yakni Kecamatan Pringsewu, Sukoharjo, dan Ambarawa.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu, Rahmadi mengatakan, tingginya jumlah kasus di tiga kecamatan tersebut dipengaruhi jumlah penduduk yang lebih besar serta akses pelayanan kesehatan yang lebih mudah sehingga pelaporan kasus juga lebih tinggi.

“Kecamatan dengan jumlah kasus tertinggi umumnya adalah Kecamatan Pringsewu, Sukoharjo, dan Ambarawa yang memiliki jumlah penduduk lebih banyak dan akses pelayanan kesehatan yang lebih mudah sehingga pelaporan kasus juga lebih tinggi,” kata Rahmadi kepada Tribun Lampung, Selasa (7/7/2026).

Selain faktor jumlah penduduk, tingginya kasus ISPA juga dipengaruhi kepadatan hunian, mobilitas masyarakat, kebiasaan merokok di dalam rumah, ventilasi rumah yang kurang baik, perubahan cuaca, serta paparan debu.

Rahmadi menjelaskan ISPA masih menjadi salah satu dari 10 penyakit terbanyak yang ditemukan di fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Pringsewu. 

Berdasarkan data surveilans Dinas Kesehatan, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 29.853 kasus ISPA yang dilaporkan dari fasilitas kesehatan.

Menurutnya, kasus ISPA dalam tiga tahun terakhir cenderung berfluktuasi mengikuti perubahan musim, kondisi lingkungan, serta tingginya kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan.

“ISPA masih menjadi penyakit yang perlu mendapat perhatian karena penularannya cukup mudah dan dapat menyerang semua kelompok umur,” ujarnya.

Balita menjadi kelompok usia yang paling banyak terdampak ISPA karena sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang sempurna. 

Selain itu, kelompok lanjut usia juga rentan mengalami ISPA, terutama yang memiliki penyakit penyerta. Pada musim tertentu, kasus juga cukup banyak ditemukan pada usia produktif karena aktivitas di luar rumah lebih tinggi.

Rahmadi mengatakan peningkatan kasus ISPA umumnya terjadi saat pergantian musim, terutama musim hujan, maupun ketika kualitas udara menurun akibat debu, asap pembakaran, atau polusi udara.

Untuk menekan angka kasus, Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu terus menggencarkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), kampanye etika batuk dan bersin, sosialisasi cuci tangan pakai sabun, penggunaan masker bagi masyarakat yang sedang sakit, penyuluhan bahaya asap rokok, serta edukasi pentingnya ventilasi rumah.

Ia mengimbau masyarakat menerapkan PHBS, tidak merokok di dalam rumah, menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan masker saat batuk dan pilek, mencuci tangan dengan sabun, menjaga daya tahan tubuh dengan gizi seimbang dan istirahat yang cukup, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila gejala tidak kunjung membaik.

(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.