Gunung Anak Krakatau Siaga, Nelayan Ucok Tetap Mengarungi Laut Cari Nafkah
taryono July 07, 2026 03:19 PM

Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang meningkat hingga berstatus Level III atau Siaga tidak sepenuhnya menghentikan langkah para nelayan di perairan Selat Sunda.

Baca juga: 3 Kecamatan dengan Kasus ISPA Tertinggi di Pringsewu, Dipengaruhi Sejumlah Faktor

Di tengah imbauan kewaspadaan terhadap aktivitas gunung api tersebut, sebagian nelayan tetap memilih turun ke laut untuk mencari penghasilan. 

Bagi mereka, laut bukan hanya tempat mencari ikan, tetapi juga sumber kehidupan bagi keluarga di rumah.

Salah satunya Ucok, nelayan yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari hasil tangkapan di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau.

Dalam sekali perjalanan, Ucok bisa menghabiskan waktu hingga empat hari di laut sebelum kembali ke daratan. 

Selama berada di perairan sekitar gunung api itu, ia tak jarang menyaksikan langsung aktivitas vulkanik, terutama ketika malam tiba.

"Dari pulau kelihatan merah. Kalau malam terlihat jelas lava menyala, asapnya juga keluar," ujar Bang Ucok dalam rekaman video yang diterima Tribunlampung.co.id, Senin 6 Juli 2026.

Pemandangan tersebut menjadi hal yang sudah tidak asing baginya. 

Namun, rasa cemas tetap muncul, terutama ketika kondisi laut berubah dan gelombang tinggi mulai menghantam perairan.

"Takutlah kalau ombaknya besar, apalagi melihat gunung seperti itu," katanya.

Meski demikian, kekhawatiran itu tidak membuatnya berhenti melaut. 

Selama kondisi cuaca masih memungkinkan, Ucok tetap berangkat bersama nelayan lainnya untuk mencari ikan.

Menurutnya, perairan sekitar Gunung Anak Krakatau memiliki potensi tangkapan yang cukup baik, terutama untuk ikan karang. 

Namun, hasil yang dibawa pulang tidak selalu sesuai harapan. 

Ada kalanya ia memperoleh banyak ikan, tetapi tidak jarang harus kembali dengan hasil tangkapan yang terbatas.

Bagi Ucok, tantangan terbesar saat berada di laut bukan hanya aktivitas gunung api, tetapi juga cuaca buruk yang dapat mengancam keselamatan nelayan.

Karena itu, sebelum berangkat, ia selalu memperhatikan kondisi gelombang dan cuaca. 

Jika laut masih dinilai aman, perjalanan tetap dilakukan demi membawa pulang rezeki untuk keluarga.

Di tengah status Siaga Gunung Anak Krakatau, Ucok dan nelayan lainnya tetap berusaha menjaga keseimbangan antara mencari nafkah dan mempertahankan keselamatan.

Sebab bagi mereka, laut adalah tempat menggantungkan harapan, tetapi kewaspadaan tetap menjadi bekal utama untuk kembali pulang.

(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.