Kupang, NTT (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka, Nusa Tenggara Timur mendorong para pustakawan untuk menjadi fasilitator informasi digital guna meningkatkan literasi masyarakat di tengah perkembangan teknologi.
"Di era digital saat ini, pustakawan tidak hanya berperan sebagai pengelola koleksi buku, tetapi juga menjadi fasilitator informasi, mentor literasi digital, dan penggerak budaya baca masyarakat," kata Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Sikka Very Awales saat dihubungi dari Kupang, Selasa.
Ia mengatakan perkembangan teknologi menuntut pustakawan mampu beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk memperluas akses layanan perpustakaan bagi masyarakat.
“Pustakawan juga berperan membantu masyarakat memperoleh informasi yang benar, termasuk meningkatkan kemampuan literasi digital agar terhindar dari penyebaran informasi palsu atau hoaks,” ujarnya.
Karena itu, menurut dia, momentum Hari Pustakawan Nasional pada 7 Juli 2026 menjadi penguatan peran pustakawan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan informasi masyarakat.
Very menjelaskan melalui Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda, pustakawan terus didorong menjadi penggerak berbagai program literasi, mulai dari Wisata Literasi dan Sains, Gerakan Antar-Jemput Buku (GRAjB), hingga layanan perpustakaan keliling menggunakan mobil dan sepeda motor.
Di samping itu, pemerintah daerah juga memperkuat gerakan literasi melalui Safari Bunda Literasi Kabupaten Sikka, edukasi Gerakan 30 Menit Membaca sebelum jam pelajaran dimulai, serta pembinaan perpustakaan desa dan sekolah.
Ia mengatakan jumlah pustakawan di Kabupaten Sikka saat ini masih terbatas dibandingkan dengan luas wilayah pelayanan dan banyaknya perpustakaan yang harus mendapatkan pendampingan.
"Karena itu, selain penambahan pustakawan, dibutuhkan dukungan tenaga teknis perpustakaan, relawan literasi, komunitas baca, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar pelayanan semakin optimal," katanya.
Dia menambahkan peningkatan kompetensi pustakawan juga terus didorong pemerintah melalui pendidikan, pelatihan, sertifikasi, dan bimbingan teknis agar mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Selain itu, lanjut dia, pustakawan juga perlu mengembangkan kemampuan literasi digital, termasuk pengelolaan perpustakaan berbasis teknologi, pengembangan layanan perpustakaan digital, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pelayanan informasi kepada masyarakat.
Pemerintah daerah juga memperkuat kerja sama dengan Perpustakaan Nasional RI, Dinas Perpustakaan Provinsi NTT, perguruan tinggi, dan komunitas literasi untuk menghadirkan layanan perpustakaan yang inovatif.
"Pustakawan harus menjadi agen perubahan yang mampu menjembatani masyarakat dengan ilmu pengetahuan sehingga dapat meningkatkan indeks pembangunan literasi masyarakat dan tingkat kegemaran membaca," katanya.





