4 Cara Mengolah Mi Instan Agar Lebih Bergizi, Bagaimana Jika Dikonsumsi Tiap Hari?
TRIBUNJATENG.COM - Apa bahaya bagi tubuh jika terlalu sering mengonsimsi mi instan, atau bahkan menjadikannya sebagai menu setiap hari?
Bagaimana caranya membuat mi instan jadi lebih bergizi?
Simak pembahasannya
Baca juga: Kisah 2 Keluarga di Wonosobo Menanti Apin dan Idin, 2 Sahabat yang Sudah 6 Hari Hilang di Gunung
Mi instan menjadi salah satu makanan favorit banyak orang karena praktis, mudah dibuat, dan harganya relatif terjangkau.
Tak heran jika makanan ini kerap menjadi pilihan pelajar, pekerja, hingga siapa pun yang membutuhkan hidangan cepat saji.
Meski demikian, mengonsumsi mi instan setiap hari bukanlah pilihan yang ideal bagi kesehatan.
Di balik kepraktisannya, mi instan memiliki kandungan gizi yang terbatas dan tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi harian tubuh.
Dikutip dari Healthline, mi instan umumnya dibuat dari tepung terigu yang telah diperkaya dengan sejumlah nutrisi sintetis, seperti zat besi dan vitamin B.
Namun, kandungan tersebut belum mampu menggantikan berbagai zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh.
Karena mi instan umumnya rendah protein, serat, vitamin A, vitamin C, vitamin B12, kalsium, magnesium, dan kalium.
Selain itu, makanan olahan seperti mi instan juga mengandung lebih sedikit antioksidan dan fitokimia dibandingkan makanan segar, padahal kedua senyawa tersebut berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh.
Tak hanya itu, mi instan juga didominasi kalori dari karbohidrat olahan tanpa diimbangi kandungan protein, serat, dan sayuran yang memadai.
Satu porsi mi instan seberat sekitar 43 gram memang hanya mengandung sekitar 188 kalori.
Namun, sebagian besar orang mengonsumsi satu bungkus penuh yang setara dengan dua porsi atau sekitar 371 kalori.
Lantas, apa yang terjadi jika mi instan dikonsumsi setiap hari?
Meski praktis dan mengenyangkan, profil nutrisi mi instan masih jauh dari makanan bergizi seimbang.
Sebungkus mi instan umumnya hanya terdiri atas mi berbahan tepung terigu dan bumbu penyedap.
Beberapa produk memang dilengkapi sayuran kering atau bawang goreng, tetapi jumlahnya relatif sedikit.
Salah satu kandungan yang paling perlu diperhatikan adalah natrium atau garam.
Dalam satu porsi mi instan, kandungan natrium dapat mencapai 600 hingga 1.500 miligram.
Angka tersebut sudah mendekati bahkan bisa mencapai sebagian besar batas konsumsi harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni kurang dari 2.000 miligram natrium per hari.
Jika dikonsumsi terus-menerus dalam jumlah tinggi, natrium dapat meningkatkan beban kerja jantung dan ginjal serta meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
Selain tinggi garam, mi instan juga rendah serat karena umumnya dibuat dari tepung terigu olahan, bukan gandum utuh.
Padahal, serat berperan penting dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan, membantu mengontrol gula darah, serta membuat rasa kenyang bertahan lebih lama.
Dikutip dari ABC Net (8/8/2025), rendahnya kandungan protein juga membuat rasa kenyang setelah mengonsumsi mi instan tidak bertahan lama.
Tanpa tambahan sumber protein seperti telur, ayam, tahu, atau tempe, seseorang cenderung lebih cepat lapar meski baru selesai makan.
Mi instan juga minim vitamin dan mineral penting yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi organ secara optimal.
Mengonsumsi mi instan sesekali umumnya tidak menimbulkan masalah bagi kesehatan.
Namun, jika makanan ini menjadi menu utama hampir setiap hari, sejumlah penelitian menunjukkan adanya potensi risiko kesehatan dalam jangka panjang.
Salah satunya adalah penelitian terhadap orang dewasa di Korea Selatan yang menemukan bahwa konsumsi mi instan lebih dari dua kali dalam seminggu berkaitan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, terutama pada perempuan.
Sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi, seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, obesitas, dan gangguan kadar lemak darah, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes.
Meski penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa mi instan secara langsung menjadi penyebabnya, hasilnya menunjukkan bahwa pola makan yang dilakukan secara terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.
Selain itu, konsumsi natrium berlebihan telah lama dikaitkan dengan meningkatnya risiko hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.
Sementara itu, pola makan rendah serat juga berhubungan dengan gangguan kesehatan usus, sembelit, meningkatnya risiko diabetes tipe 2, hingga kanker usus besar.
Kurangnya variasi makanan juga dapat menyebabkan tubuh kekurangan vitamin, mineral, serta zat gizi lain yang banyak ditemukan pada buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.
Mi instan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat, asalkan dikonsumsi sesekali dan dipadukan dengan bahan makanan bergizi lainnya.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai gizinya antara lain:
Pada akhirnya, mi instan bukanlah makanan yang harus dihindari sepenuhnya.
Namun, agar tubuh tetap memperoleh asupan gizi yang lengkap, mi instan sebaiknya tidak dijadikan menu utama setiap hari.
Mengimbanginya dengan sayuran, protein, dan makanan segar lainnya merupakan langkah yang lebih baik untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang. (Kompas.com)