Pertama Kali ke Papua, Pramugari Asal Jakarta Ini Jatuh Cinta pada Tradisi Snap Mor di Biak
Marius Frisson Yewun July 07, 2026 05:29 PM

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Fiona Sihasale

TRIBUN-PAPUA.COM, BIAK NUMFOR - Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026 tidak hanya menjadi panggung budaya bagi masyarakat Biak Numfor, Provinsi Papua, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi Wisatawan Nusantara (Wisnus) yang datang dari luar daerah. 

Salah satu Wisnus asal Jakarta, Tika mengaku antusias mengikuti rangkaian kegiatan festival yang berlangsung sejak 1 Juli 2026 di Biak Numfor.

Bagi Tika, keikutsertaannya dalam FBMW tahun ini menjadi pengalaman pertama yang tidak terlupakan.

Baca juga: Serapan Anggaran Keerom 14 Persen, Piter Gusbager Warning OPD: Jangan Tumpuk Kerja di Akhir Tahun

Ia mengaku baru pertama kali datang ke Biak Numfor dan juga pertama kali menyaksikan secara langsung festival budaya berskala besar yang menampilkan kekayaan tradisi masyarakat Biak.

BIAK NUMFOR - Warga Biak menggelar parade perahu tradisional mansusu dan wairon di Pantai Anggopi, Biak Numfor pada Minggu (5/7/2026), sebagai bagian dari Festival Biak Munara Wampasi untuk melestarikan warisan budaya leluhur mereka.
BIAK NUMFOR - Warga Biak menggelar parade perahu tradisional mansusu dan wairon di Pantai Anggopi, Biak Numfor pada Minggu (5/7/2026), sebagai bagian dari Festival Biak Munara Wampasi untuk melestarikan warisan budaya leluhur mereka. (Tribun-Papua.com/Fiona Sihasale)

“Seru banget acaranya, karena benar-benar menunjukkan budaya yang ada di sini,” ujar Tika yang juga berprofesi sebagai Pramugari salah satu maskapai penerbangan, di Biak, Selasa (7/7/2026)

Selama berada di Biak, Ia tidak hanya menjadi penonton. Ia ikut larut dalam suasana festival dengan bergabung dalam tarian Yosim Pancar (Yospan) bersama masyarakat dan pengunjung lainnya. 

Ia juga menyaksikan parade budaya yang menjadi salah satu daya tarik utama dalam pelaksanaan Festival Biak Munara Wampasi tahun ini.

Baca juga: Aksi Massa di Tolikara, Ribuan Warga Desak Penembakan Korona Penggu Diusut Tuntas

Menurut Tika, pengalaman mengikuti festival tersebut memberinya pengetahuan baru tentang budaya suku lain di Indonesia, sebagai sesuatu yang menurutnya jarang ia temui di Jakarta. 

Selain itu, interaksi dengan warga lokal juga menjadi bagian yang paling berkesan selama berada di Biak Numfor.

“Saya sebagai warga Jakarta yang jarang sekali melihat hal seperti ini, jadi bisa menambah pengetahuan tentang budaya suku lain. Selain itu juga dapat pengalaman baru, teman-teman baru,” kata Tika.

BIAK NUMFOR - Aktivitas snap mor yang dirangkai dalam agenda Festival Budaya Munara Wampasi 2026.
BIAK NUMFOR - Aktivitas snap mor yang dirangkai dalam agenda Festival Budaya Munara Wampasi 2026. (Tribun-Papua.com)

Ia menilai keramahan masyarakat Biak menjadi alasan lain yang membuatnya merasa nyaman selama mengikuti festival. Cara warga menyambut tamu, berbicara, hingga mendampingi wisatawan dalam berbagai kegiatan dinilainya sangat berkesan.

Baca juga: Dulu Tidur di Gubuk Daun Pisang, Mantan Anak Telantar Kini Jadi Bupati Nabire Dua Periode

“Orang-orang sini dengan cara bicara yang unik, cara mereka memperlakukan kita juga nice, really nice. Jadi kayaknya tahun depan saya ke sini lagi,” tuturnya

Dari seluruh rangkaian kegiatan yang ditampilkan dalam FBMW 2026, Tika mengaku paling tertarik dengan Snap Mor yakni tradisi menangkap ikan di pesisir pantai yang juga menjadi salah satu agenda budaya dalam Festival Biak Munara Wampasi. 

Ia bahkan ikut turun langsung bersama warga mencoba menombak ikan di area pantai.

Menurutnya, pengalaman itu menjadi momen paling seru selama berada di Biak karena sebelumnya ia tidak pernah membayangkan bisa melihat ikan dalam jumlah banyak di pinggiran pantai, apalagi ikut terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.

Baca juga: Korporasi Tambang Emas di Nabire Diduga Manipulasi Warga Demi Hindari Razia

“Yang paling menarik buat saya itu Snap Mor, karena saya lihat langsung dan ikutan juga menombak ikan sama pengunjung lainnya. Itu seru banget. Saya juga baru tahu kalau di pinggiran pantai bisa ada ikan sebanyak itu. Saya nggak pernah ngalamin sebelumnya,” ungkapnya.

Sebagai wisatawan, Tika berharap Festival Biak Munara Wampasi dapat terus digelar setiap tahun dengan ragam kegiatan budaya yang semakin banyak. 

Ia juga berharap pemerintah memperluas promosi pariwisata daerah, terutama melalui media sosial dan berbagai platform digital lainnya agar semakin banyak orang luar mengenal Biak sebagai destinasi wisata budaya.

“Harapan saya untuk Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, semoga tahun depan festival ini ada lagi. Kalau bisa acara budaya seperti ini ditambah lagi. Lalu promosi wisata Biak juga perlu diperluas di media sosial dan platform lainnya,” tandasnya

Baca juga: Tanah Perbatasan RI-PNG di Keerom Hasilkan Kopi Dua Cita Rasa Unik

Pengalamannya selama mengikuti Festival Biak Munara Wampasi menjadi gambaran bahwa agenda budaya daerah tidak hanya berfungsi sebagai ruang pelestarian tradisi, tetapi juga mampu menjadi magnet wisata yang memberi pengalaman berkesan bagi pengunjung dari luar Papua.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.