Kementan Dukung Program Pupuk Hayati Cair Lampung, Target Penerapan di 2.000 Titik
Reny Fitriani July 07, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan dukungan penuh terhadap program Pupuk Hayati Cair (PHC) yang digagas Pemerintah Provinsi Lampung sebagai upaya meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.

Baca Juga: Pemprov Lampung Perluas Program Pupuk Hayati Cair, Sasar 800 Ribu Hektare Lahan Pertanian

Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho, usai menjadi narasumber dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Pupuk Hayati Cair di Lampung.

Menurut Eko, program yang diinisiasi Gubernur Lampung tersebut merupakan terobosan yang harus dikawal seluruh penyuluh pertanian karena dinilai mampu mendukung peningkatan produksi tanaman pangan.

"Hari ini Dinas Pertanian Provinsi Lampung mengadakan bimtek untuk program pupuk hayati cair yang diagendakan Pak Gubernur. Program ini harus dikawal oleh seluruh penyuluh karena sangat baik dalam mendukung peningkatan produksi tanaman pangan, baik padi, jagung maupun singkong. Ini gerakan yang sangat bagus dan harus kita dukung bersama," katanya saat diwawancarai seusai memberi arahan kepada penyuluh pertanian di Lampung, Selasa (7/7/2026). 

Eko mengatakan, Kementerian Pertanian terus mendorong setiap daerah meningkatkan produksi pangan melalui program intensifikasi. 

Dukungan pemerintah pusat diberikan dalam bentuk bantuan benih unggul, pompanisasi, pembangunan irigasi, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga sarana prapanen dan pascapanen.

Ia juga menjelaskan, saat ini penyuluh pertanian sudah dapat mengusulkan calon penerima dan calon lokasi (CPCL) bantuan secara langsung ke pemerintah pusat, selain usulan melalui dinas pertanian.

"Semua usulan yang sudah masuk, baik dari dinas maupun penyuluh, akan segera diproses di pusat. Anggaran untuk alsintan, prapanen, pascapanen, pompanisasi hingga irigasi perpompaan sudah disiapkan. Dalam waktu dekat bantuan tersebut mulai masuk ke Lampung," ujarnya.

Menurut Eko, pemerintah juga telah mengantisipasi musim kemarau meski fenomena El Nino belum terjadi dengan menyiapkan berbagai program pendukung agar produktivitas pertanian tetap terjaga.

Selain itu, Kementan juga tengah mengembangkan metode tanam baru bernama PMAS yang ditargetkan mampu meningkatkan produktivitas padi secara signifikan.

"Rata-rata produksi padi saat ini sekitar 5,2 ton per hektare dan sudah mulai naik menjadi 5,6 ton. Dengan metode tanam PMAS, produktivitas bisa mencapai sekitar 10 ton per hektare, bahkan berpotensi hingga 12 ton per hektare," jelasnya.

Sementara itu, terkait implementasi PHC di Lampung, Eko mengatakan pemerintah menargetkan penerapan di sedikitnya 2.000 desa atau titik, yang diperkirakan mencakup sekitar 800 ribu hektare lahan pertanian.

"Kalau produksi meningkat minimal 15 persen, harapannya pertumbuhan ekonomi daerah juga ikut meningkat," katanya.

Ia menambahkan, berdasarkan pengalaman penerapan pada 2025, penggunaan pupuk hayati cair mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga sekitar 50 persen secara bertahap.

Di kesempatan yang sama, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KTPH) Provinsi Lampung, Evira Umihanni menyampaikan, target penerapan PHC tahun 2026 ini mencapai 1.300 desa.

"Dari target tersebut, sebanyak 500 desa sudah terlaksana, sedangkan 800 desa lainnya akan segera direalisasikan," ujarnya.

Ia berharap seluruh penyuluh pertanian yang kini berada di bawah koordinasi Kementerian Pertanian dapat memberikan dukungan optimal dalam mendampingi petani.

"Harapan kami mendapatkan dukungan penuh dari seluruh penyuluh pertanian di Provinsi Lampung untuk mendampingi, mengawal produksi dan aplikasi pupuk hayati cair di Lampung," katanya.

Sementara itu, perwakilan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBPMP) Lampung, Hendro Gunawan, mengatakan penggunaan PHC sangat penting untuk memperbaiki kesehatan tanah karena kandungan karbon organik lahan pertanian di Indonesia masih tergolong rendah.

"Program PMAS memang menekankan penggunaan bahan organik lebih banyak. Penggunaan pupuk hayati cair sangat dibutuhkan agar kesuburan tanah meningkat dan produktivitas bisa mencapai 10 ton per hektare atau lebih," ujarnya.

Hendro menjelaskan PHC dibuat dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar petani, seperti limbah kelapa, limbah kedelai, air cucian beras, kemudian ditambahkan bakteri dan difermentasi selama sekitar tiga minggu.

Menurutnya, pupuk hayati cair diaplikasikan satu kali sebelum masa tanam dan dapat digunakan pada berbagai komoditas, mulai dari padi, jagung, kedelai, singkong, kopi hingga kelapa sawit.

"Selain membantu meningkatkan hasil panen, PHC juga memperbaiki kesehatan tanah sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang," katanya.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.