Timbangan Sering Tutup Petani Sawit Pasangkayu Terpaksa Tunda Panen Sebulan Buah Susah Dijual
Ilham Mulyawan July 07, 2026 05:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU – Antrean panjang truk pengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, mulai berdampak langsung kepada para petani.

Seerti dirasakan petani sawit di Desa Ako, Kecamatan Pasangkayu. 

Mereka mengaku kesulitan menjual hasil panen karena banyak timbangan milik pengepul yang lebih sering tutup dibanding beroperasi.

Baca juga: Truk Hendak Isi Solar di SPBU Kali Mamuju Hanya Boleh Satu Lajur Dilarang Antre Dekat Jembatan

Baca juga: Argentina vs Mesir Panggung Pertarungan Dua ‘Messiah’ Ketika Lionel Messi Diuji Mohamed Salah

Pantauan Tribun-Sulbar.com, Selasa (7/7/2026), aktivitas di sejumlah titik pembelian buah sawit tidak seramai biasanya. Kondisi tersebut membuat petani terpaksa menunda panen hingga berminggu-minggu.

Seorang petani sawit, Galib, mengatakan harga TBS saat ini sebenarnya masih tergolong normal dan masih menguntungkan petani.

Menurutnya, harga pembelian di timbangan Desa Ako saat ini mencapai sekitar Rp2.150 per kilogram, sedangkan harga di pabrik berkisar Rp2.300 hingga Rp2.400 per kilogram.

Ia menjelaskan, para petani di wilayahnya umumnya tidak menjual buah sawit langsung ke pabrik, melainkan melalui pengepul.

Selisih harga tersebut, kata Galib, merupakan keuntungan yang diambil pengepul sebagai biaya operasional sekaligus untuk menutup potensi kerugian.

"Memang pengepul ambil untung sedikit lebih banyak karena kadang mereka juga rugi. Banyak buah yang membusuk saat menunggu antrean panjang di pabrik," jelasnya.

Hasil Panen Sulit Dijual

Meski harga masih stabil, Galib mengaku persoalan utama yang dihadapi petani saat ini bukan harga, melainkan sulitnya menjual hasil panen.

Ia menyebut timbangan milik pengepul kini lebih sering tutup dibanding buka karena ikut terdampak antrean panjang di pabrik.

"Yang jadi masalah sekarang timbangan lebih sering tutup daripada buka. Jadi kami susah menjual buah," katanya.

Akibat kondisi tersebut, Galib mengaku terpaksa menunda panen hingga satu bulan sambil menunggu timbangan kembali menerima buah sawit.

"Kadang kami harus tunda panen sampai sebulan karena menunggu timbangan buka. Kalau dipanen saat timbangan tutup, buah juga tidak ada yang menerima," ungkapnya.

Menurut Galib, harga sawit yang masih berada di atas Rp2.000 per kilogram sebenarnya cukup membantu petani untuk memenuhi kebutuhan perawatan kebun.

"Kalau harga seperti sekarang masih bisa beli pupuk dan rawat sawit. Hanya saja, percuma kalau susah menjual buah karena timbangan tutup," tuturnya.

Para petani berharap antrean panjang di pabrik kelapa sawit segera teratasi sehingga timbangan milik pengepul dapat kembali beroperasi normal dan hasil panen petani tidak lagi tertunda. (*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.