TRIBUNPADANG.COM, PADANG — Aroma kertas tua langsung tercium dari tumpukan buku yang memenuhi lorong-lorong sempit di lantai dua kawasan Padang Teater, Pasar Raya Padang, Kota Padang, Selasa (7/7/2026).
Lembaran buku kuno bersampul pudar dan menguning tertata rapi di rak-rak kayu, bersanding dengan majalah lawas yang kini langka. Ruang waktu ini seolah membeku, menjadi benteng pertahanan literasi fisik yang kini terdesak oleh kecanggihan gawai.
Di balik deretan buku itu, ada para pedagang yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya bersama buku. Mereka bukan hanya menjual bacaan, tetapi juga menjaga ilmu yang tersimpan di setiap halaman.
Erian (64), salah satu pedagang, mengisahkan perjalanan panjangnya menjaga toko buku tua di Padang selama 35 tahun terakhir.
Sebelum memiliki toko sendiri, ia memulai usaha dengan berjualan di lantai satu Padang Teater pada era 1990-an silam. Perlahan usahanya berkembang hingga memiliki lapak tetap.
Baca juga: Tanam Mangrove di Pesisir Selatan, Aksi Nyata Telkomsel Jaga Bumi Movement
Menurut Erian, masa-masa paling ramai terjadi pada awal tahun 2000-an. Kala itu masyarakat masih gemar membaca buku. Pembeli datang silih berganti mencari novel, komik, hingga buku pelajaran.
"Sebelum maraknya HP, orang-orang memang lebih suka membaca buku," katanya.
Kini situasinya jauh berbeda. Kehadiran telepon pintar membuat minat membaca buku fisik terus menurun.
"Buku sekarang sudah kurang diminati lagi karena sudah ada HP," ucapnya.
Di tokonya, sebagian besar koleksi merupakan buku-buku lama sekitar tahun 1960-an, mulai dari komik, novel, hingga majalah terbitan 2000-an. Buku-buku baru yang sering ditemui saat sekarang susah ditemukan oleh Erian.
Meski penghasilannya kini tidak menentu, Erian tetap membuka tokonya setiap hari, mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Ia tinggal bersama istrinya yang juga berdagang hingga menjelang Magrib dan ketiga anaknya kini telah bekerja.
Baca juga: Jalur Lembah Anai Terapkan Buka Tutup, Pengendara Diminta Jangan Memotong Jalur
Ia mengaku hasil berjualan buku selama bertahun-tahun telah cukup untuk menghidupi keluarganya, terutama ketika budaya membaca masih begitu kuat. "Pokoknya toko saya bisa buka, alhamdulillah," katanya sambil tersenyum.
Baginya, setiap pekerjaan harus dijalani dengan keyakinan. Selama masih ada orang yang mencari buku, ia akan tetap menjaga tokonya tetap buka.
Meski telah melewati puluhan tahun, banyak buku di toko buku Erian masih tersimpan dalam kondisi yang baik. Buku-buku dari era 1990-an bahkan masih lengkap, mulai dari sampul hingga isi halaman walaupun warna nya mulai menguning.
Emil menjadi salah satu saksi hidup bagaimana turun naik nya Padang Teater sebagai pusat jual beli buku. Sejak awal 1980-an, ia telah membuka lapak dan melayani pembaca dari berbagai kalangan.
Di tokonya, masih tersimpan buku terbitan tahun 1974 yang kondisinya tetap terawat. Menurutnya, buku-buku lama memiliki pembacanya sendiri, meski jumlahnya tak lagi sebanyak dulu.
Namun, perjalanan panjang itu tidak selalu mulus. Emil mengaku perubahan teknologi menjadi tantangan terbesar yang ia hadapi selama puluhan tahun berjualan.
Baca juga: Antrean Truk Isi Biosolar SPBU Pisang Padang Tutupi Kedai, Pedagang Rugi Pembeli Enggan Berbelanja
"Transisi digital sangat berpengaruh terhadap penjualan toko buku. Sekarang semua buku hampir ada di online. Orang lebih mudah mencari lewat internet," ujarnya.
Akibatnya, omzet penjualan terus menurun. Buku-buku yang dahulu cepat terjual kini lebih sering menumpuk di rak. Meski demikian, Emil memilih beradaptasi daripada menyerah.
Ia mulai memasarkan koleksi bukunya melalui platform daring agar tetap dapat menjangkau pembeli.
“Karena harus mengikuti perkembangan zaman sekarang toko kami juga tersedia di online,” Ujarnya.
Meski jumlah pembeli tak lagi seramai dulu, padang teater tetap memiliki beberapa pengunjung. Zahra (20), misalnya, datang mencari buku tentang hukum agraria dan hukum pertambangan untuk kebutuhan kuliah. Ia memilih membeli langsung di toko daripada secara daring.
"Kalau beli baru kan sebenarnya cuma dipakai sekali atau dua kali. Jadi lebih baik langsung ke toko bukunya, biar tahu kebutuhan kita yang mana," katanya.
Baca juga: Pemprov Sumbar Usulkan Kawasan Sawahlunto-Sijunjung-Dharmasraya Masuk Proyek Strategis Nasional
Sementara itu, Faisalah (18) datang bukan untuk mencari buku pelajaran, melainkan bacaan ringan seperti novel. Menurutnya, koleksi buku di Padang Teater jauh lebih beragam dengan harga yang lebih terjangkau dibanding toko buku lainnya.
"Bukunya lebih murah. Koleksinya juga banyak, jadi kita bisa lihat-lihat dulu. Malah aku bingung mau pilih yang mana," ujarnya.
Perkembangan teknologi memang mengubah cara masyarakat memperoleh informasi termasuk berlitersi. Layar ponsel kini menjadi sumber bacaan yang paling mudah dijangkau dimana saja dan kapanpun. Namun, di lantai dua padang teater, lembar demi lembar buku masih bertahan.
Rak-rak kayu yang dipenuhi buku lawas menjadi pengingat bahwa budaya membaca pernah begitu hidup di tempat ini. Para pedagang yang telah puluhan tahun menjaga toko mereka pun tetap memilih membuka pintu setiap pagi, meski pembeli tak lagi seramai dahulu.
Sebab bagi mereka, selama masih ada satu orang yang datang mencari buku, harapan itu belum selesai. Di antara aroma kertas yang menguning dan halaman-halaman yang telah menua, padang teater masih menyimpan kisah tentang ketekunan, kenangan, dan keyakinan bahwa buku akan selalu menemukan pembacanya.(mg/Aprilius Muthya Salwahita)