Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT menyebut belum ada kebijakan untuk merekrut guru baru.
Dinas menanggapi keluhan kekurangan guru yang dialami Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kota Radja Kupang.
Sekolah itu terpaksa bersepakat dengan orang tua untuk merekrut guru agar membantu mendampingi siswa berkebutuhan khusus.
Dalam sistem pengajaran di SLB, idealnya seorang guru menangani seorang siswa.
Baca juga: SLB Kota Radja Kupang Kekurangan Guru, Idealnya Setiap Siswa Satu Pendidik
Ketiadaan keuangan Pemerintah dan belum adanya kebijakan rekruitmen, cukup menjadi kendala. Dukungan orang tua siswa-siswi membuat SLB Kota Radja Kupang memberanikan diri membuka kesempatan bagi guru baru untuk bergabung.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo mengatakan, kemampuan keuangan daerah memang masih mengharapkan partisipasi dari orang tua siswa.
"Terkait guru-guru karena formasi tidak ada. Rata-rata yang sudah mengajar di pendidikan luar biasa, SLB ijasahnya bukan pendidikan luar biasa sehingga tidak terakomodasi disitu," kata Ambrosius, Selasa (7/7/2026).
Dikatakan, jalan tengah yang ditempuh adalah didorong ke ketenaga kependidikan. Sementara sisi lain, ada pembatasan rekruitmen sehingga membuat kondisi ini menjadi kesulitan tersendiri.
"Bagi sekolah yang membangun kerja sama dengan orang tua saya kira itu langkah yang baik ini menjadi catatan Pemerintah untuk kedepan perlu ada langkah yang bisa ditempuh agar anak mendapatkan pendidikan," ujarnya.
Ambrosius mengatakan, dari bagian anggaran memang membuka lamaran untuk mengisi kebutuhan guru tidak memungkinkan. Pihaknya hanya bisa mengatur agar guru dari sekolah lain bisa diperbantukan ke SLB.
"Untuk rekruitmen belum ada kebijakan yang mengatur. Saya kira sepanjang ada kesepakatan dengan orang tua, saya kira tidak apa-apa. Dari Dinas siap mendukung," katanya.
Kepala SLB Negeri Kota Radja Edi Wahon berkata, setidaknya sekolah itu mengalami kekurangan guru hingga 13 orang. Pihaknya sedang merencanakan adanya tambahan tujuh guru dalam tahun ini.
Edi mengatakan, persoalan ini sudah disampaikan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT. Ia menegaskan, rencana tersebut didukung orang tua siswa. Untuk pembiayaan akan diberikan melalui anggaran transportasi dari Iuran Penyelenggaraan/Pembangunan Pendidikan (IPP).
"Kita sempat membuat analisis kebutuhan guru untuk dikirim ke dinas itu dan kita sampaikan bahwa masih kurang 13 guru dan orang tua saat ini hanya mampu untuk 7 guru. Jadi nanti dikasih transport melalui IPP itu sesuai rapat," katanya, Jumat (3/7/2026).
Menurut dia, SLB Kota Radja merupakan sekolah satu yang terdiri dari tingkat SD-SMA dengan 5 jenis kekhususan yaitu dari tuna netra, tuna rungu-wicara, tuna daksa, tuna grahita, dan autis.
"Idealnya satu siswa diajarkan oleh satu orang guru jadi tidak seperti di sekolah umum," katanya.
Berbeda dari sekolah umumnya dengan sistem rombongan belajar (rombel) yang bisa berisi 28 - 30 siswa per kelas, untuk SLB rombel ditentukan berdasarkan jenis ketunaan atau kekhususan anak. Dengan kondisi ini maka SLB membutuhkan lebih banyak guru untuk mata pelajaran maupun guru kelas.
Edi mengatakan, sekolah telah menyampaikan kondisi ini ke orang tua atau wali murid. Responsnya, kata dia, mereka akan membantu melalui IPP sebagaimana dalam Pergub.
"Orang tua juga setujui itu dan nanti masuk di tahun ajaran baru kita mantapkan lagi dan kita akan terima guru baru yang dibayar oleh orang tua," tambah dia. (fan)