Laporan Wartawan TribunJatim.com, Khairul Amin
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Peningkatan prestasi olahraga di era digital saat ini tidak lagi sekadar mengandalkan ketangguhan fisik atlet di arena pertandingan.
Lebih dari itu, kesuksesan sebuah bangsa dalam kancah olahraga global kini sangat ditentukan oleh kecerdasan dalam mengelola data, memetakan informasi, serta menyusun strategi pembinaan yang akurat.
Merespons kebutuhan tersebut, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bekerja sama dengan komite olahraga nasional menggelar bedah buku komprehensif berjudul Sport Intelligence di kampus UNESA, Surabaya, pada Selasa (7/7/2026).
Forum akademik ini membedah karya kolaboratif dari empat penulis dengan latar belakang multidisiplin, yakni Syarif Hidayat, Jerry Indrawan, Eman Sungkowo, dan Irandito Abdul Hakim Malik.
Baca juga: Ribuan Pelari dari 22 Negara Ramaikan Mantra 116 di Pasuruan, Sport Tourism Jatim Makin Menggeliat
Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, Ketua KONI Jatim Muhammad Nabil, serta Rektor UNESA Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes.
"Buku Sport Intelligence ini intinya adalah bagaimana kita meningkatkan kualitas kolaborasi kita, membekali pelaku olahraga untuk kita bisa secara akademik membaca kekuatan lawan, sehingga kita bisa mempersiapkan bagaimana kita menghadapi mereka," tegas Marciano Norman saat memberikan keterangan kepada awak media di UNESA, Selasa (7/7/2026).
Secara umum, Sport Intelligence merupakan sebuah sistem kerja modern yang mengintegrasikan analisis data, aspek kognitif, emosional, serta performa fisik untuk melahirkan keputusan pembinaan yang efektif dan terukur. Pendekatan ilmiah ini terbukti ampuh meminimalkan bias subjektivitas saat proses rekrutmen atau seleksi atlet dari berbagai daerah.
Di tingkat global, metodologi canggih yang didukung oleh Artificial Intelligence (AI) dan Big Data ini telah jamak diterapkan oleh negara-negara adidaya olahraga seperti Amerika Serikat, Cina, Inggris, dan Australia guna mendominasi manajemen kompetisi internasional.
Respons positif juga diutarakan oleh Ketua KONI Jatim, Muhammad Nabil. Ia menekankan bahwa tolok ukur kesuksesan sebuah karya ilmiah olahraga harus bermuara pada lahirnya medali dan prestasi atlet di lapangan dengan cara-cara yang kesatria.
"Ujung-ujungnya, bagaimana sebuah karya seperti ini adalah berhasil memberikan sebuah prestasi. Alat ukur olahraga sukses itu bukan di penataan saja, tapi di prestasi. Kita menghasilkan prestasi dengan cara yang terhormat. Yang terhormat itu yang metodologinya, mekanismenya, latihannya, juga pada saat pertandingannya benar," papar Nabil.
Sebagai salah satu kampus pencetak atlet dan tenaga olahraga terbesar di Indonesia, UNESA langsung mengambil langkah strategis. Pihak universitas berkomitmen untuk mentransformasikan gagasan dalam buku tersebut menjadi program akademik resmi melalui pembukaan mata kuliah baru.
"Terutama di program pasca sarjana, yaitu S2 Kepelatihan Olahraga dan S2 Ilmu Keolahragaan, di mana di sana kita akan masukkan keilmuan tentang rumpun ilmu baru tadi, Sport Intelligence," kata Wakil Dekan I FIKK UNESA, Gigih Siantoro. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa akan diajarkan metodologi melacak data dan membedah peta kekuatan kompetitor internasional.
Demi mematangkan struktur materi perkuliahan agar tersusun rapi, pihak fakultas dalam waktu dekat akan melibatkan jajaran pakar terbaiknya untuk mematangkan naskah akademik.
"Kami di FIKK sudah ada 20 guru besar profesor, sehingga dalam waktu dekat ini mereka akan kami undang untuk mengkaji buku dari Sport Intelligence ini," pungkas Dwi Cahyo Kartiko menambahkan. Jika seluruh tahapan kajian dari forum guru besar tersebut dinyatakan final, program mata kuliah anyar ini dijadwalkan resmi berlaku mulai tahun ajaran baru mendatang.