SAAT ditunjuk UEFA sebagai tuan rumah Euro 2004, Portugal berkesempatan memperbarui torehan di panggung sepak bola. Inilah saatnya meraih tropi kejuaraan besar. Sejauh itu, pencapaian tertinggi mereka di Euro adalah menjadi semi finalis di tahun 1984 dan 2000. Sementara di ajang Piala Dunia, Portugal pernah sampai di posisi ketiga di edisi 1966.
Maka memang inilah peluangnya. Selain tuan rumah, Portugal punya komposisi yang kuat: pemain-pemain yang kala itu sedang bersinar di klub-klub besar Eropa. Fernando Couto di Lazio, Rui Costa di AC Milan, Pauleta di Paris Saint Germain, dan Luis Figo di Real Madrid. Juga barisan pemain muda bertalenta tinggi, terutama Cristiano Ronaldo, pemuda 19 tahun yang bermain untuk Manchester United. Apalagi, mereka dibesut pelatih berpengalaman, Luis Felipe Scolari, yang dua tahun sebelumnya mengantarkan Brasil menjadi kampiun Piala Dunia.
Pendek kata, Portugal memenuhi segenap syarat untuk menjadi juara. Dan memang, sangat sedikit yang tidak setuju. Peramal-peramal bola, dari yang kelas kakap sampai kelas teri, para petaruh, ramai-ramai menempatkan mereka sebagai unggulan terdepan.
Namun akhirnya mengenaskan. Portugal melaju ke partai puncak untuk dikalahkan Yunani yang kelewat disayang Dewi Keberuntungan. Di Estadio da Luz, Lisbon, 5 Juli, Portugal yang merangsek sepanjang pertandingan, melepas tak kurang 13 tembakan dan sundulan, harus kalah oleh satu-satunya peluang yang diperoleh Yunani sepanjang pertandingan.
Kesedihan menyergap. Ronaldo jatuh menelungkup, menangis sesenggukan. Scolari memeluknya. Sejumlah pemain juga memeluknya, lalu membantunya berdiri untuk meninggalkan lapangan. Figo dan Costa tercenung, menonton selebrasi para pemain Yunani dengan tatap kosong.
Esoknya, di koran-koran, para wartawan menuliskan narasi-narasi yang menguatkan. Termasuk mengutipkan kalimat Jose de Sousa Saramago. Sang novelis besar, satu-satunya penulis Portugal yang pernah mendapatkan Nobel Sastra, adalah penggemar sepak bola. Sepanjang hidup ia menjadi suporter Benfica.
Konon, tak lama setelah Portugal memastikan gagal lolos ke Prancis 1998, Samarago bertemu Luis Figo. Mereka bicara tak lama, tapi dari percakapan ini lahir satu di antara mutiara yang dipandang sebagai penggambaran sahih perihal sepak bola.
Ia juga mulai mengasah teknik, sekaligus membentuk fisik secara ekstrem. Testimoni perihal Ronaldo, yang datang ke sesi-sesi latihan lebih cepat dan pulang lebih belakang dari pemain lain, sudah jadi cerita klasik. Diet-diet ketatnya pun mencengangkan. Ia mengonsumsi ikan, buah, sayuran, dan kacang-kacangan. Saat kariernya menanjak, dan uang tak lagi jadi masalah, ia mempekerjakan koki-koki profesional untuk memasak menu-menu terbaik. Ia mengurangi garam, mengurangi gula, menjauhi alkohol, bahkan segala jenis soda. Ronaldo meyakini sepak bola sebagai permainan fisik, dan hanya pemain dengan fisik prima yang dapat memenangkan persaingan dan bertahan untuk jangka waktu yang lama.
Era Figo berakhir di Piala Dunia 2006. Walau terdapat beberapa pemain yang lebih senior, seperti Nuno Gomez, Deco, Paolo Peirera, atau kiper Ricardo, sejak itu tongkat estafet beralih ke Ronaldo. Dan sejak itu pula, Portugal tak pernah absen lagi di kejuaraan-kejuaraan besar. Lebih dari itu, bukan sekadar hadir, bersama Ronaldo, dan generasi baru yang kemudian terus dilahirkan, mereka selalu dipandang sebagai kandidat yang diperhitungkan.
Ronaldo memimpin Portugal menjuarai Euro 2016, plus dua kali mengangkat tropi Europa Nation League, kompetisi baru bikinan FIFA dan UEFA untuk "menyiasati" agar laga-laga uji coba dalam FIFA Matchday dapat lebih kompetitif, sekaligus lebih menjual.
Namun Piala Dunia, memang seperti tak ramah baginya. Dari edisi 2010 di Afrika Selatan sampai Qatar 2022, Ronaldo bersama Portugal tidak pernah bisa melewati fase perempat final. Usai ditekuk Maroko di Qatar, banyak di antara publik sepak bola dunia, tak terkecuali di Portugal sendiri, yang mengira Ronaldo akan mengucapkan selamat tinggal pada Piala Dunia. Dia tidak akan jadi bagian Tim Nasional Portugal di edisi 2026. Usianya sudah lebih jauh memasuki senjakala. Ibarat momentum pergantian hari, Ronaldo telah melewati batas senja yang merah keungu-unguan dan melangkah menuju kubah langit yang pekat. Perkiraan meleset. Ronaldo datang lagi, dan dalam usia 41, memimpin pasukan Portugal meraih satu-satunya mimpi mereka yang belum tercapai.
"Kalian sepertinya ingin aku cepat-cepat pergi dari sini. Jangan khawatir, aku akan pergi. Waktunya akan tiba. Namun sebelum itu, akan terus bermain dan memberikan yang terbaik," kata Ronaldo di hadapan wartawan dari berbagai negara, dalam konferensi pers jelang laga kontra Spanyol. Ronaldo, dengan nada bicara yang meyakinkan, dengan bibir yang mengukirkan senyum, menyebut dirinya mungkin mencetak gol lagi. Di 16 besar, di perempat final, mungkin semi final dan final. "Begitu pun, terlepas apa yang akan terjadi nanti, aku akan menerimanya. Aku barangkali akan tetap menangis, tapi aku menerimanya."
Begitulah, di laga AT&T Stadium, Texas, 7 Juli, langkah Portugal terhenti dan Ronaldo memang menangis. Dia menangis, seperti di Lisbon 22 tahun lalu. Bedanya, kali ini, bukan tangis penyesalan, melainkan sebangsa penutup yang melankolis dari bab-bab panjang penuh gejolak. Bukan penutup yang berbahagia, tentu saja, tapi tak apa. Sebab seperti ditulis Jose Samarago dalam buku esai perjalanannya, 'Viagem a Portugal', "para pelancong akan mengakhiri perjalanan mereka, tapi perjalanan itu sendiri sebenarnya tidak akan pernah berakhir". (t agus Khaidir)