TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Berbagai bahan pangan lokal yang tersedia di Indonesia dinilai mampu membantu memenuhi kebutuhan gizi keluarga sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting.
Namun, manfaat tersebut hanya dapat diperoleh apabila masyarakat memahami cara menyusun menu bergizi seimbang.
Ketua Tim Kerja Gizi Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Yuni Zahraini, SKM, MKM mengatakan pangan lokal memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.
Baca juga: Stunting Indonesia Turun di Bawah 20 Persen, Kemenkes Ingatkan Ancaman Masih Ada di Perkotaan
Pangan lokal yang dimaksud antara lain sumber Karbohidrat berupa umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar, talas, ganyong, jagung, dan sagu.
Kemudian sumber protein dan mineral antara lain Ikan seperti tongkol, lele, bandeng, telur, dan daging ayam.
Sementara sumber gizi nabati bisa diperoleh dari tempe, tahu, dan kacang-kacangan seperti kacang hijau dan kacang merah.
Yuni menjelaskan, dalam Pedoman Gizi Seimbang terdapat empat pilar, salah satunya mengonsumsi makanan yang beraneka ragam.
Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang mencakup sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.
Apabila dikonsumsi dalam jumlah dan komposisi yang tepat, seluruh kebutuhan gizi dapat dipenuhi dari pangan lokal.
"Kalau kita bisa mengakses makanan-makanan lokal ini dalam porsi dan jumlah yang benar menjadi sebuah komposisi gizi seimbang maka ini akan bisa memenuhi kebutuhan gizi kita sehari-hari," katanya saat diwawancarai di bilangan Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Menurut Yuni, tantangan terbesar saat ini bukan pada ketersediaan pangan lokal, melainkan masih kurangnya pemahaman masyarakat mengenai cara memanfaatkannya.
Karena itu, edukasi dan literasi gizi perlu terus diperluas agar masyarakat semakin memahami pentingnya pangan lokal.
"Yang paling penting ini sekarang adalah bagaimana memastikan bahwa masyarakat semua memahami, masyarakat mengerti sehingga memang butuh sekali informasi, penyebarluasan informasi, edukasi, literasi untuk bisa memenuhi kebutuhan gizi seimbang," ujarnya.
Yuni mengingatkan bahwa makanan bergizi juga harus diolah dengan benar agar manfaat gizinya tidak berkurang.
Menurutnya, keamanan pangan harus diperhatikan sejak bahan pangan diproduksi, didistribusikan, diolah, hingga siap dikonsumsi.
Ia mencontohkan proses memasak dengan suhu yang terlalu tinggi dapat menghasilkan zat yang tidak baik bagi kesehatan.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan seluruh proses pengolahan makanan agar kualitas gizinya tetap terjaga.
Yuni menegaskan, pangan lokal dapat menjadi salah satu kekuatan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat apabila disertai pemahaman mengenai gizi seimbang dan pengolahan pangan yang aman.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)