TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kisah pilu datang dari seorang bocah disabilitas yatim piatu di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang harus menjalani hari-hari penuh keterbatasan di tengah kondisi hidup yang memprihatinkan.
Bocah tersebut menjadi sorotan setelah diketahui mengalami kecanduan menghirup aroma bensin, sebuah kebiasaan berbahaya yang diduga muncul akibat kondisi lingkungan dan tekanan hidup yang ia alami.
Tanpa sosok ayah dan ibu yang mendampingi, anak malang itu hanya bisa bertahan dengan segala keterbatasan yang ada, sementara kebutuhan perhatian, kasih sayang, dan pendampingan menjadi hal yang sangat ia butuhkan.
Kondisi disabilitas yang dialaminya membuat aktivitas sehari-hari semakin sulit, terlebih ketika kebiasaan menghirup bensin mulai mengancam kesehatan dan masa depannya.
Warga sekitar yang mengetahui kondisi tersebut kemudian berupaya memberikan bantuan agar bocah tersebut mendapatkan penanganan yang tepat.
Pemerintah daerah bersama pihak terkait kini turut turun tangan untuk mencarikan solusi, termasuk rencana rehabilitasi agar sang bocah dapat lepas dari kebiasaan berbahaya tersebut.
Perjalanan hidupnya menggambarkan potret getir seorang anak yang harus menghadapi persoalan berat di usia yang masih sangat muda.
Di balik kebiasaan menghirup bensin itu, tersimpan kisah panjang tentang kesepian, keterbatasan ekonomi, dan kebutuhan akan perhatian dari lingkungan sekitar.
Upaya penyelamatan pun terus dilakukan agar bocah asal Sukabumi itu bisa mendapatkan perawatan, pendampingan, serta kesempatan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa anak-anak dengan kondisi rentan membutuhkan kepedulian bersama agar tidak kehilangan masa depan akibat keterbatasan yang mereka alami.
Baca juga: Sempat Linglung Usai Hilang di Bandung, Kondisi Nadira Az Zahra Kini Membaik: Mulai Kembali Normal
Seperti diketahui, sebuah video tengah viral di media sosial TikTok. Video ini memperlihatkan seorang bocah perempuan yang membuka jok sepeda motor lalu menghirup aroma bensin di area parkir sebuah minimarket di Jalan RA Kosasih, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat.
Diketahui video tersebut diunggah oleh akun @putri.rahmaw pada Minggu (5/7/2026), Ia mengaku sengaja merekam aksi bocah itu agar masyarakat mengetahui kondisi yang dialaminya sekaligus berharap ada perhatian dari pihak berwenang.
Dalam tayangan video itu, Putri sempat memperingatkan bocah tersebut agar tidak menghirup aroma bahan bakar minyak (BBM). Namun, tidak dihiraukan.
"Video yang aku share itu kejadian hari kemarin dan anak itu sudah nyandu dari lama. Sebenarnya ini anak udah lama kaya gitu, jadi orang sekitar pun udah nggak aneh karena setiap dilarang pasti meludah," kata Putri (7/7/2026).
Menurut Putri, aksi tersebut bukan pertama kali dilakukan. Warga sekitar pun telah lama mengetahui kebiasaan anak itu.
"Yang aku video itu bukan kali pertama. Kenapa aku biarin? Karena aku pengen orang lihat gimana nyandu-nya dia. Jujur sedih," ujarnya.
Ia mengungkapkan, bocah tersebut merupakan penyandang tunarungu dan tunawicara sejak lahir. Kondisinya semakin memprihatinkan karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia sehingga kini diasuh oleh kakak perempuannya.
"Dia anak yatim piatu dan dirawat oleh kakak perempuannya yang juga memiliki anak kecil. Jadi dia bukan diterlantarkan, tapi memang anaknya sering kabur-kaburan. Kalau sudah dijemput pun dia berkeliaran lagi," ungkap Putri.
Ia menambahkan, keluarga bersama pengurus RT dan RW setempat telah berupaya membawa anak tersebut berobat, baik secara medis maupun tradisional. Warga sekitar juga kerap membantu memberikan makanan hingga mengantarkannya pulang saat ditemukan berkeliaran.
Selain itu, warga mengaku khawatir karena beberapa kali anak tersebut hampir tertabrak kendaraan saat menyeberang jalan akibat keterbatasan pendengarannya.
Sementara itu, dikonfirmasi sebelumnya, Pemerintah Kota Sukabumi melalui Dinas Sosial (Dinsos) memastikan penanganan terhadap bocah berinisial H (11) telah dilakukan sejak 2025.
Sekretaris Dinas Sosial Kota Sukabumi, dr. Lulis Delawati, mengatakan H memiliki gangguan kesehatan mental sehingga membutuhkan penanganan khusus.
"Sebetulnya sudah dari tahun 2025 Dinas Sosial tangani, sampai sekarang juga kita terus berusaha untuk menangani. Pertama, kita sudah merujuk untuk kesehatan fisik dan mentalnya ke Puskesmas secara fisik, dan juga secara mental kita rujuk juga ke Rumah Sakit Syamsudin SH, ke dokter spesialis kejiwaan. Memang ada masalah di kesehatan mental," ujarnya.
Menurut Lulis, Dinsos bersama pekerja sosial dan tim Kementerian Sosial melalui Sentra Phalamartha juga telah melakukan asesmen mendalam terhadap kondisi H.
Awalnya, keluarga belum bersedia jika H dirujuk ke panti rehabilitasi. Namun setelah dilakukan pendekatan, keluarga akhirnya memberikan persetujuan.
"Awalnya keluarga tidak menyetujui untuk kita lakukan rehabilitasi di panti, namun kita lakukan proses pendekatan sehingga keluarga mau mengizinkan anak H untuk direhabilitasi di panti di Provinsi Jawa Barat," katanya.
Meski demikian, rencana rehabilitasi belum dapat terlaksana karena kondisi kesehatan mental H memerlukan penanganan yang belum dapat difasilitasi oleh panti rehabilitasi tingkat provinsi.
"Jadi permasalahannya itu kenapa anak H belum kita fasilitasi untuk dilakukan rehab di panti," ucapnya.
Lulis menjelaskan, sejak kedua orang tuanya meninggal pada 2025, H tinggal bersama kakaknya yang juga mengasuh beberapa anak sehingga pengawasannya belum dapat dilakukan secara optimal. H juga telah bersekolah di salah satu SLB di wilayah Sukaraja.
Saat ini Dinsos Kota Sukabumi terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat serta Sentra Phalamartha Kementerian Sosial untuk mencari solusi penanganan terbaik bagi H.
"Tadi kita sudah koordinasi dengan Provinsi, Dinsos Provinsi Jabar. Dan hari ini kami juga terus koordinasi dengan Sentra Phalamartha, UPTD Kementerian Sosial, untuk bisa mencari solusi. Rencananya kami akan melakukan Zoom meeting mencari solusi seperti apa untuk anak H ini," pungkas Lulis.
(TribunNewsmaker.com/TribunJabar.id)