Protes Harga Merosot, Peternak Solo Raya Gelar Aksi Mandi Telur
M Syofri Kurniawan July 08, 2026 06:55 AM

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Seratusan peternak ayam broiler dan ayam petelur Soloraya dari Boyolali, Klaten, Karanganyar hingga Sukoharjo menggelar aksi di Bundaran Gladag, Kota Solo, pada Selasa (7/7/2026) pagi.

Aksi tersebut digelar untuk menyampaikan protes terkait anjloknya harga telur ayam yang menyentuh angka Rp 17.000-Rp 18.000 per kilogram (kg) dan ayam potong atau broiler hidup Rp 13.000 per kg. 

Aksi protes diwarnai dengan mandi telur sebanyak 5 kg yang dilakukan oleh salah seorang peternak asal Kabupaten Karanganyar.

Aksi juga diwarnai dengan bagi-bagi tiga peti telur gratis sebanyak 45-50 kg, serta 30 ekor ayam petelur dan 50 ekor ayam broiler kepada warga dan pengguna jalan yang melintas.

Aksi dilakukan para peternak dengan mengenakan kostum Spider-Man dan Ultra-Men. 

Salah seorang peternak asal Karanganyar, Ardi yang melakukan aksi mandi telur mengatakan, aksi tersebut ditujukan untuk Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman agar menstabilkan harga telur dan ayam.

"Harga telurnya jatuh murah, ini protes karena terlalu murah, peternak rugi, harganya di bawah HPP harganya terlalu murah. Harapannya supaya harga telur naik, stabil sesuai HPP," ujar Ardi.

Sementara itu, koordinator aksi, Prajuni, mengatakan bahwa aksi mandi telur dilakukan sebagai bentuk protes rendahnya daya jual telur di pasaran yang membuat stok menumpuk di kalangan peternak.

"Ya ini gini, ini kebetulan telur ini kan enggak laku ya, mungkin yang kami pakai nanti telur yang sudah lama. Ya daripada dibuang sama saja, terus kami pakai mandi saja," kata Prajuni di sela-sela aksi.

Prajuni mengungkapkan, kondisi harga telur dan ayam yang anjlok selama dua bulan terakhir membuat para peternak terus merugi ratusan juta hingga miliaran rupiah.

"Harapan saya suara ini sampai ke pemerintah karena ya memang ini kebijakan pemerintah yang belum tegas diterapkan," ujar Prajuni. 

Pihaknya meminta, aturan-aturan yang lahir dari Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) dijalankan dengan tegas di periode ke depan sehingga kondisi harga telur dan ayam anjlok tidak terjadi lagi.

Menurutnya, pemerintah harus memperhatikan keseimbangan supply-demand dengan memperhatikan kebutuhan berdasar pada data Badan Pusat Statistik (BPS). 

Dia juga meminta, pemerintah mengevaluasi para investor yang tidak memiliki latar belakang perunggasan.

"Karena kalau semua boleh pelihara, ini juga risikonya tinggi. Ya, karena apa? Pasti akan oversupply kembali, dan ini harus diantisipasi pemerintah," jelasnya. 

Para peternak berharap, pemerintah dapat menaikkan harga ayam dan telur di atas harga pokok penjualan (HPP) yakni untuk harga telur Rp 23.000 per kg dan ayam broiler Rp 19.500-Rp 20.000 per kg.

“Cuma ini harus diingat bahwa pakan ini juga naik, bahan baku naik sehingga harus disesuaikan dalam periodik yang ke depannya," lanjutnya. 

Prajuni menyebutkan, kenaikan harga pakan menyentuh 5 hingga 7 persen untuk jenis pakan konsentrat maupun pakan jadi untuk ayam petelur dan ayam broiler.

Kenaikan harga pakan tersebut berpengaruh pada feed conversion ratio (FCR). 

Ia menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan harga telur maupun ayam yakni, adanya oversupply hingga menurunnya daya konsumsi masyarakat karena kondisi ekonomi.

"Prinsip saya begini, selama masyarakat itu ada uang, berapa pun harga itu enggak masalah. Cuma kalau ini sudah murah enggak terbeli, artinya kan masyarakat juga ekonominya kurang," kata dia. 

“Anjloknya harga telur dan ayam pada periode ini lebih ekstrem dibandingkan penurunan beberapa waktu lalu yang disebabkan terpengaruh kenaikan harga jagung,” imbuhnya. (Tribun Solo/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.